Sabtu, 16 Oktober 21

Israel Lanjutkan Pengiriman Senjata kepada Militer Myanmar

Israel Lanjutkan Pengiriman Senjata kepada Militer Myanmar

Rezim Zionis Israel dilaporkan masih mengirimkan senjata kepada militer Myanmar.

FNA Selasa (26/9) mengutip Koran Haaretz menulis, meski ada berbagai laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait genosida yang dilakukan militer Myanmar terhadap minoritas Muslim Rohingya, namun Israel masih tidak menghentikan ekspor senjatanya ke Myanmar.

Koran Israel ini menulis, beberapa hari sebelumnya Mahkamah Agung Israel menggelar sidang mengkaji petisi untuk menghentikan ekspor senjata oleh rezim ini ke Myanmar. Sidang ini juga dihadiri perwakilan kabinet. Di sidang tersebut perwakilan kabinet Israel menyatakan bahwa lembaga hukum tidak seharusnya mengintervensi urusan luar negeri.

Koran Israel ini beberapa waktu lalu melaporkan bahwa Jend. Min Aung Hlaing, panglima militer Myanmar pada September 2015 berkunjung ke Palestina pendudukan dan bertemu dengan Presiden Israel Reuven Rivlin serta produsen senjata rezim ini. Di pertemuan tersebut ditandatangani kontrak penjualan berbagai senjata.

Tentara Myanmar. (ParsToday)

Menteri Israel Akui Pasok Senjata ke Myanmar
Sejumlah laporan baru-baru ini menunjukkan bahwa rezim Zionis Israel adalah pemasok utama senjata dan amunisi untuk militer Myanmar dalam menyerang minoritas Muslim Rohingya.

Tasnim News (6/9) melaporkan, pasca munculnya gelombang protes para aktivis hak asasi manusia internasional atas berlanjutnya penjualan senjata Israel ke Myanmar, petinggi Tel Aviv dalam salah satu statemennya mengatakan bahwa penjualan senjata Israel ke Myanmar dilakukan sesuai dengan langkah Amerika Serikat dan Eropa.

Avigdor Lieberman, Menteri Peperangan Israel manyampaikan klaim tersebut, padahal Amerika dan Eropa sudah menerapkan boikot senjata dan peralatan militer atas Myanmar.

Menurut Lieberman, penjualan senjata ke Myanmar adalah masalah diplomatik, oleh karena itu tidak ada ruang untuk protes.

Pecahnya serangan baru militer dan kelompok Budha ekstrem Myanmar terhadap Muslimin Rohingya sejak Jumat (25/8) lalu, mengakibatkan sedikitnya 400 Muslim tewas.

PBB baru-baru ini mengumumkan, jumlah pengungsi Muslim Rohingya dalam dua pekan terakhir mengalami peningkatan mencapai 123 ribu orang.

Reuven Rivlin dan Jenderal Min Aung Hlaing. (ParsToday)

Haaretz Ungkap Kerjasama Israel dengan Militer Myanmar
Sumber media rezim Zionis Israel mengabarkan, di saat serangan militer dan kelompok Buddha ekstrem Myanmar terhadap Muslimin Rohingya baru-baru ini mencapai puncaknya, Israel melanjutkan penjualan senjata dan peralatan militernya ke negara itu.

Surat kabar Israel, Haaretz, Senin (4/9) dalam salah satu laporannya, menyinggung kunjungan Michal Ben Baruch, Kepala Departemen Ekspor Peralatan Keamanan Israel, ke Myanmar musim panas tahun lalu.

Dalam lawatan itu, katanya, para pejabat Dewan Militer Myanmar menyetujui pembelian perahu-perahu tempur dari Israel.

Sehubungan dengan hal ini, salah satu pejabat Dewan Militer Myanmar dalam lawatannya ke Israel sekitar September 2015, bertemu dengan Pemimpin Israel dan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata rezim itu.

Berdasarkan data PBB, dalam beberapa hari ini sekitar 75 ribu Muslimin Rohingya melarikan diri dari negara bagian Rakhine akibat meningkatnya eskalasi serangan militer dan kelompok Buddha ekstrem terhadap mereka.

Pemerintah Myanmar sampai sekarang tidak bersedia memberikan status kewarganegaraan kepada sekitar 1,1 juta penduduk Muslim Rohingya sehingga membuka peluang peningkatan penganiayaan dan pembunuhan terhadap mereka. (ParsToday)

Baca Juga:

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.