Rabu, 25 November 20

Isolasi Diri Bukan Berarti Diasingkan

Isolasi Diri Bukan Berarti Diasingkan
* Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto. (Foto: Dok BNPB)

Jakarta, Obsessionnews.com – Tak sedikit masyarakat yang beranggapan bahwa isolasi diri di rumah untuk pencegahan penularan virus Corona (Covid-19) selama 14 hari merupakan pengasingan. Ternyata hal itu tidak benar.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto mengatakan isolasi diri bukan berarti diasingkan melainkan dalam konteks menjaga jarak fisik.

“Isolasi diri dalam konteks menjaga kontak fisik,” ujar Yurianto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (6/4/2020).

Dia menjelaskan, penyait Covid-19 ini menular melalui percikan ludah atau droplet yang keluar dari yang sakit saat dia berbicara, batuk atau bersin. Itu menjangkau jarak sekitar satu hingga 1,5 meter.

“Lebih gampangnya minimal harus berjarak dua meter. Nah dua meter ini yang harus dijaga,” ungkap pria yang sering disapa Yuri ini.

Dia menambahkan jika seseorang melakukan mengisolasi diri, maka dia masih boleh berada di tengah keluarga. Namun harus menjaga kontak fisik dan tidak boleh berjarak kurang dari dua meter dari anggota keluarga yang lain.

“Harus pakai masker terus, supaya percikan ludahnya tertahan di masker,” jelas dia.

Isolasi mandiri bertujuan untuk melindungi masyarakat yang sehat, agar tidak tertular virus Covid-19 ini.

Yuri menjelaskan kontak sosial tetap boleh dilakukan, namun jarak sosial harus tetap dijaga. Masker yang digunakan pun masker apa saja.

Isolasi diri, lanjut Yuri, tidak harus berkelompok. Melainkan bisa satu orang di rumah, bersama anggota keluarga yang lain. Asalnya menggunakan alat makan sendiri, tidak kontak dekat dengan keluarga, dan menggunakan masker.

“Jika memunginkan, inisiatif daerah boleh mengumpulkan untuk isolasi mandiri. Asalkan tempatnya nyaman, dibatasi jarak fisiknya, sarana dasar dan kebutuhan dasar terpenuhi.

Selain itu, perlu juga memastikan individu yang melakukan isolasi mandiri itu tetap gembira, karena perasaan stres sangat mempengaruhi status imunitas seseorang.

“Kuncinya, isolasi mandiri bisa dimana saja tapi harus membawa rasa tenang,” imbuh dia. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.