Senin, 28 September 20

Islam Melindungi Pluralitas, Amerika Butuh Syariah

Islam Melindungi Pluralitas, Amerika Butuh Syariah
* Pusat pemerintahan Amerika Serikat

Oleh: Dr Ahmad Sastra, Ulama Intelek/Anggota Forum Doktor Islam Indonesia 

Amerika, pengkhutbah hak asasi manusia sedang berada dalam keruntuhannya akibat isu raisisme yang berujung anarkisme, kerusuhan dan penjarahan di hampir seluruh penjuru wilayah negeri ini. Padahal persoalan itu sudah sangat lama terjadi dan tak kunjung usai. Amerika yang menyatakan dirinya sebagai polisi dunia ternyata tak mampu menyelesaikan urusan rakyatnya sendiri. Negara yang menjadi kiblat demokrasi dunia ini justru maasih dihantui oleh rasisme karena dipicu oleh kematian George Floyd. Bahkan agama Kristen yang dipeluk mayoritas masyarakat Amerika pun tak mampu mengendalikan amuk massa.

Sistem demokrasi yang digembar-gemborkan Amerika kepada dunia ternyata hanya semua belaka, bahkan sangat lemah dan rapuh. Pantas jika sejak awal presiden Amerika kedua, John Adams sangat pesimis atas demokrasi dengan menegaskan bahwa demokrasi tidak akan bertahan lama. Dia akan segera terbuang, melemah dan akan segera membunuh dirinya sendiri. Demokrasi pasti akan bunuh diri. demokrasi akan segera memburuk menjadi anarki.

Inilah wajah buruk demokrasi yang sesungguhnya. Allah sedang menampakkan kepada kaum muslimin betapa ideologi kufur demokrasi adalah sistem pemerintahan terburuk setelah komunisme. Di Indonesia sendiri, demokrasi sering menjadi pemicu kerusuhan dan selalu diskriminasi atas Islam. Sementara Islam adalah sistem hidup yang justru melindungi pluralitas. Sistem Islam dengan syariah dan khilafahnya adalah sistem pemerintahan yang bukan hanya melindungi ras, bahkan agama.

Islam adalah agama dan ideologi untuk kemaslahatan segenap manusia dan menjadi rahmat bagi alam semesta. Jika syariah Islam diterapkan secara kaffah (menyeluruh) menggentikan ideologi kapitalisme sekuler dan komunisme ateis, maka dunia akan damai, aman, dan sejahtera. Allah menegaskan dalam firmanNya, “Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui” (QS Saba’ : 28)

America needs to under stand Islam, because this is the one religion that erases from its society the race problem. Throughout my travels in the Muslim world, I have met, talked to and even eaten with people who in America would have been considered white – but the white attitude was removed from their minds by the religion of Islam. I have never before seen sincere and true brotherhood practiced by all colors together, irrespective of their color (Malcolm X)

Dahulu, ketika Rasulullah mendakwahkan Islam, banyak yang membencinya, bahkan menfitnah dengan tuduhan yang keji. Kaum kafir jahiliyah saat itu menolak Islam dengan menuduh bahwa Islam akan memecah belah bangsa Arab. Padahal Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia, melintasi ras, bahasa, suku bahkan agama. Daulah Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah justru melindungi pluralitas masyarakat Madinah.

Daulah Madinah berakhir dengan wafatnya Rasulullah, lantas dilanjutkan dengan khilafah rasyidah yang lebih memperluas wilayah daulahnya ke dua pertiga dunia. Khilafah telah menjadi mescusuar peradaban dunia selama 14 abad, hingga runtuh tahun 1924 M yakni Turki Ustmani. Kemajuan peradaban khilafah telah menjadi inspirasi Barat hingga sekarang. Namun, sejarah berulang, saat khilafah kembali diperjuangkan, selalu ada saja manusia yang menghalanginya.

Jika dahulu, Islam dikatakan sebagai pemecah bangsa Arab, maka sekarang khilafah dikatakan berbahaya dan juga dituduh sebagai pemecah belah bangsa. Narasi yang dibangun oleh manusia anti Islam pada zaman Nabi sama dengan para penghalang khilafah hari ini. Rasulullah dahulu selalu dimusuhi oleh kaum kafir Quraisy pimpinan abu jahal dan kaum munafik pimpinan abdullah bin ubay.

Label perjuangan khilafah sebagai gerakan berbahaya bagi Indonesia terus digaungkan oleh kaum sekuler liberal. Sejak awal, memang ideologi kufur kapitalisme sekuler dan komunisme ateis sangat takut jika khilafah kembali tegak. Sebab tegaknya khilafah, berarti lenyapnya peradaban kapitalisme dan komunisme. Ketika yang haq datang, maka lenyaplah yang batil. Para propagandis anti Islam selalu menuduh bahwa khilafah berpotensi memecah belah bangsa Indonesia dan internal kaum muslimin sendiri.

Sebenarnya opini ini adalah opini usang yang tidak pernah terbukti, sebab dahulu juga pernah disuarakan oleh masyarakat Indonesia Timur akan melepaskan diri jika Indonesia menerapkan syariah, namun faktanya justru saat menerapkan demokrasi sekuler, Timor Timur memisahkan diri dari NKRI. Padahal fakta sejarah justru membuktikan bahwa Rasulullah telah mampu menyatukan bangsa Arab dari berbagai suku dan agama dalam Daulah Madinah, sebab Islam adalah rahmatan lil`alamin.

Pilihan kata berbahaya untuk ditujukan kepada khilafah sebagai ajaran Islam merupakan tindakan demonologi. Demonologi menurut Noam Choamsky adalah perekayasaan sistematis untuk menempatkan sesuatu agar ia dipandang sebagai ancaman yang sangat menakutkan, dan karenanya ia harus dimusuhi, dijauhi, dan bahkan dibasmi. Tujuan akhir demonologi adalah khilafahphobia.

Sedangkan dalam teori komunikasi, “demonologi” dapat dikategorikan ke dalam wacana “labeling theory” (teori penjulukan). Dalam teori tersebut, korban-korban misinterpretasi ini tidak dapat menahan pengaruh dari proses penjulukan yang dilakukan dengan sedemikian hebat. Islamophobia yang kini menjalar ke hampir seluruh dunia sekarang ini adalah hasil dari demonologi ini yang dilakukan oleh para propagandis anti Islam.

Yang sangat santer terdengar dari opini demonologi khilafah saat ini adalah “anti kebhinekaan”, “intoleransi dan anti pluralitas”, “benih radikalisme”, “pemecah belah bangsa”, dan sederet julukan yang terkesan menakutkan dan menyeramkan. Akibat dari demonologi khilafah tersebut, citra khilafah sebagai bagian dari ajaran Islam yang tidak bisa dipisahkan menjadi buruk dan tercoreng.

Padahal esensi khilafah merupakan solusi terbaik bagi krisis multidimensi dunia. Khilafah memiliki tiga esensi utama, terlepas dari pola pemilihan khalifah yang telah menjadi ijma` sahabat. Esensi pertama Khilafah adalah penerapan syariah secara kaffah, dimana bidang ekonomi, pendidikan, budaya, politik didasarkan oleh aturan syariah yang memberikan kebaikan dan keadilan bagi seluruh warga negara, tidak memandang ras dan agama.

Dalam syariah, manusia dipandang lebih manusiawi dibandingkan ideologi kapitalis dan komunis. Buktinya beberapa negara seperti Jepang dan Inggris justru tertarik dengan sistem ekonomi berbasis syariah, meski karena pertimbangan manfaat semata. Ukuran perbuatan dalam timbangan syariah adalah halal dan haram, dan ini tidak ada dalam ideologi kapitalis sekuler dan komunis ateis.

Esensi kedua dari khilafah adalah ukhuwah. Khilafah dengan kepemimpinan tunggal bagi kaum muslimin seluruh dunia menjawab perpecahan umat Islam selama ini. Dengan khilafah, maka kaum muslimin akan bersatu padu dalam satu kepemimpinan, meski berbeda dalam mazhab. Bahkan Khilafah akan memberikan perlindungan yang maksimal kepada setiap warga negara, meski beda ras dan agama dalam satu naungan pemerintahan yang adil dan beradab. Khilafah melindungi pluralitas warganya.

Esensi perlindungan terhadap pluralitas ini tidak ditemukan sama sekali dalam ideologi kapitalisme dan komunisme. Lihatlah berbagai tragedi kemanusiaan akibat kapitalisme dan komunisme, bukan hanya antar negara, bahkan antar sesama muslim saling bermusuhan akibat politik adu domba. Bahkan dengan pemilu demokrasi, umat Islam bisa terpecah belah sampai kepada antar anggota keluarga. Khilafah justru akan melindungi pluralitas rakyatnya. Rasulullah bahkan menyatakan permusuhan bagi warga khilafah yang memusuhi kafir zimmi, yakni kafir yang menjadi warga negara khilafah. Berbeda dengan kafir harbi yakni yang memusuhi dan memerangi kaum muslimin.

HAJINEWS.ID
BERANDA • DAKWAH • OPINI
Islam Melindungi Pluralitas, Amerika Butuh Syariah
7 jam yang laluTambah Komentar9 Pembaca7 Min Read

Islam Melindungi Pluralitas, Amerika Butuh Syariah

Oleh : Ahmad Sastra

Amerika, pengkhutbah hak asasi manusia sedang berada dalam keruntuhannya akibat isu raisisme yang berujung anarkisme, kerusuhan dan penjarahan di hampir seluruh penjuru wilayah negeri ini. Padahal persoalan itu sudah sangat lama terjadi dan tak kunjung usai. Amerika yang menyatakan dirinya sebagai polisi dunia ternyata tak mampu menyelesaikan urusan rakyatnya sendiri. Negara yang menjadi kiblat demokrasi dunia ini justru maasih dihantui oleh rasisme karena dipicu oleh kematian George Floyd. Bahkan agama Kristen yang dipeluk mayoritas masyarakat Amerika pun tak mampu mengendalikan amuk massa.

Sistem demokrasi yang digembar-gemborkan Amerika kepada dunia ternyata hanya semua belaka, bahkan sangat lemah dan rapuh. Pantas jika sejak awal presiden Amerika kedua, John Adams sangat pesimis atas demokrasi dengan menegaskan bahwa demokrasi tidak akan bertahan lama. Dia akan segera terbuang, melemah dan akan segera membunuh dirinya sendiri. Demokrasi pasti akan bunuh diri. demokrasi akan segera memburuk menjadi anarki.

Inilah wajah buruk demokrasi yang sesungguhnya. Allah sedang menampakkan kepada kaum muslimin betapa ideologi kufur demokrasi adalah sistem pemerintahan terburuk setelah komunisme. Di Indonesia sendiri, demokrasi sering menjadi pemicu kerusuhan dan selalu diskriminasi atas Islam. Sementara Islam adalah sistem hidup yang justru melindungi pluralitas. Sistem Islam dengan syariah dan khilafahnya adalah sistem pemerintahan yang bukan hanya melindungi ras, bahkan agama.

Islam adalah agama dan ideologi untuk kemaslahatan segenap manusia dan menjadi rahmat bagi alam semesta. Jika syariah Islam diterapkan secara kaffah (menyeluruh) menggentikan ideologi kapitalisme sekuler dan komunisme ateis, maka dunia akan damai, aman, dan sejahtera. Allah menegaskan dalam firmanNya, “Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui” (QS Saba’ : 28)

America needs to under stand Islam, because this is the one religion that erases from its society the race problem. Throughout my travels in the Muslim world, I have met, talked to and even eaten with people who in America would have been considered white – but the white attitude was removed from their minds by the religion of Islam. I have never before seen sincere and true brotherhood practiced by all colors together, irrespective of their color (Malcolm X)

Dahulu, ketika Rasulullah mendakwahkan Islam, banyak yang membencinya, bahkan menfitnah dengan tuduhan yang keji. Kaum kafir jahiliyah saat itu menolak Islam dengan menuduh bahwa Islam akan memecah belah bangsa Arab. Padahal Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia, melintasi ras, bahasa, suku bahkan agama. Daulah Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah justru melindungi pluralitas masyarakat Madinah.

Daulah Madinah berakhir dengan wafatnya Rasulullah, lantas dilanjutkan dengan khilafah rasyidah yang lebih memperluas wilayah daulahnya ke dua pertiga dunia. Khilafah telah menjadi mescusuar peradaban dunia selama 14 abad, hingga runtuh tahun 1924 M yakni Turki Ustmani. Kemajuan peradaban khilafah telah menjadi inspirasi Barat hingga sekarang. Namun, sejarah berulang, saat khilafah kembali diperjuangkan, selalu ada saja manusia yang menghalanginya.

Jika dahulu, Islam dikatakan sebagai pemecah bangsa Arab, maka sekarang khilafah dikatakan berbahaya dan juga dituduh sebagai pemecah belah bangsa. Narasi yang dibangun oleh manusia anti Islam pada zaman Nabi sama dengan para penghalang khilafah hari ini. Rasulullah dahulu selalu dimusuhi oleh kaum kafir Quraisy pimpinan abu jahal dan kaum munafik pimpinan abdullah bin ubay.

Label perjuangan khilafah sebagai gerakan berbahaya bagi Indonesia terus digaungkan oleh kaum sekuler liberal. Sejak awal, memang ideologi kufur kapitalisme sekuler dan komunisme ateis sangat takut jika khilafah kembali tegak. Sebab tegaknya khilafah, berarti lenyapnya peradaban kapitalisme dan komunisme. Ketika yang haq datang, maka lenyaplah yang batil. Para propagandis anti Islam selalu menuduh bahwa khilafah berpotensi memecah belah bangsa Indonesia dan internal kaum muslimin sendiri.

Sebenarnya opini ini adalah opini usang yang tidak pernah terbukti, sebab dahulu juga pernah disuarakan oleh masyarakat Indonesia Timur akan melepaskan diri jika Indonesia menerapkan syariah, namun faktanya justru saat menerapkan demokrasi sekuler, Timor Timur memisahkan diri dari NKRI. Padahal fakta sejarah justru membuktikan bahwa Rasulullah telah mampu menyatukan bangsa Arab dari berbagai suku dan agama dalam Daulah Madinah, sebab Islam adalah rahmatan lil`alamin.

Pilihan kata berbahaya untuk ditujukan kepada khilafah sebagai ajaran Islam merupakan tindakan demonologi. Demonologi menurut Noam Choamsky adalah perekayasaan sistematis untuk menempatkan sesuatu agar ia dipandang sebagai ancaman yang sangat menakutkan, dan karenanya ia harus dimusuhi, dijauhi, dan bahkan dibasmi. Tujuan akhir demonologi adalah khilafahphobia.

Sedangkan dalam teori komunikasi, “demonologi” dapat dikategorikan ke dalam wacana “labeling theory” (teori penjulukan). Dalam teori tersebut, korban-korban misinterpretasi ini tidak dapat menahan pengaruh dari proses penjulukan yang dilakukan dengan sedemikian hebat. Islamophobia yang kini menjalar ke hampir seluruh dunia sekarang ini adalah hasil dari demonologi ini yang dilakukan oleh para propagandis anti Islam.

Yang sangat santer terdengar dari opini demonologi khilafah saat ini adalah “anti kebhinekaan”, “intoleransi dan anti pluralitas”, “benih radikalisme”, “pemecah belah bangsa”, dan sederet julukan yang terkesan menakutkan dan menyeramkan. Akibat dari demonologi khilafah tersebut, citra khilafah sebagai bagian dari ajaran Islam yang tidak bisa dipisahkan menjadi buruk dan tercoreng.

Padahal esensi khilafah merupakan solusi terbaik bagi krisis multidimensi dunia. Khilafah memiliki tiga esensi utama, terlepas dari pola pemilihan khalifah yang telah menjadi ijma` sahabat. Esensi pertama Khilafah adalah penerapan syariah secara kaffah, dimana bidang ekonomi, pendidikan, budaya, politik didasarkan oleh aturan syariah yang memberikan kebaikan dan keadilan bagi seluruh warga negara, tidak memandang ras dan agama.

Dalam syariah, manusia dipandang lebih manusiawi dibandingkan ideologi kapitalis dan komunis. Buktinya beberapa negara seperti Jepang dan Inggris justru tertarik dengan sistem ekonomi berbasis syariah, meski karena pertimbangan manfaat semata. Ukuran perbuatan dalam timbangan syariah adalah halal dan haram, dan ini tidak ada dalam ideologi kapitalis sekuler dan komunis ateis.

Esensi kedua dari khilafah adalah ukhuwah. Khilafah dengan kepemimpinan tunggal bagi kaum muslimin seluruh dunia menjawab perpecahan umat Islam selama ini. Dengan khilafah, maka kaum muslimin akan bersatu padu dalam satu kepemimpinan, meski berbeda dalam mazhab. Bahkan Khilafah akan memberikan perlindungan yang maksimal kepada setiap warga negara, meski beda ras dan agama dalam satu naungan pemerintahan yang adil dan beradab. Khilafah melindungi pluralitas warganya.

Esensi perlindungan terhadap pluralitas ini tidak ditemukan sama sekali dalam ideologi kapitalisme dan komunisme. Lihatlah berbagai tragedi kemanusiaan akibat kapitalisme dan komunisme, bukan hanya antar negara, bahkan antar sesama muslim saling bermusuhan akibat politik adu domba. Bahkan dengan pemilu demokrasi, umat Islam bisa terpecah belah sampai kepada antar anggota keluarga. Khilafah justru akan melindungi pluralitas rakyatnya. Rasulullah bahkan menyatakan permusuhan bagi warga khilafah yang memusuhi kafir zimmi, yakni kafir yang menjadi warga negara khilafah. Berbeda dengan kafir harbi yakni yang memusuhi dan memerangi kaum muslimin.

Esensi ketiga khilafah adalah dakwah Islam rahmatan lil`alamin. Esensi dakwah artinya upaya penyebaran kebenaran Islam dalam rangka menyelamatkan manusia dari jalan kesesatan. Dakwah adalah ajakan dan seruan menuju jalan Allah tanpa kekerasan dan paksaan. Dakwah Islam berbeda dengan imperialisme kapitalis dan revolusi komunis yang keduanya menyisakan kesengsaraan manusia. Sementara dakwah justru memberikan ketenangan dan kebahagiaan serta keselamatan manusia. Dengan suka rela Islam bisa diterima masyarakat karena kebenaran dan kemuliaan dimilikinya.

Allah menegaskan melalui firmanNya dalam surat An Nashr ayat 1-3, `Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

Dengan khilafah, maka dunia ini akan penuh dengan keimanan, ketaqwaan, keadilan, kemanusiaan, keadaban, kesejahteraan, kebahagiaan, keindahan, keamanan, kemajuan dan keselamatan. Semua ini tidak mungkin bisa diwujudkan dengan ideologi kapitalisme komunisme yang anti tuhan.

Oleh karena itu, melabeli ide khilafah sebagai gerakan berbahaya adalah upaya demonologi atau monsterisasi ajaran Islam itu sendiri. Sebab terlepas dari berbagai ragam sikap, seluruh imam mazhab bersepakat bahwa khilafah atau imamah adalah bagian dari ajaran Islam, bahkan wajib untuk ditegakkan. Menentang khilafah adalah menentang ajaran Islam.

Maka, bukan hanya Amerika yang sesungguhnya butuh Islam untuk menyelesaikan krisis multi dimensi, namun dunia juga sangat membutuhkan syariah dan khilafah. Sebab telah terbukti bahwa ideologi demokrasi sekuler telah gagal menyelesaikan segala persoalan dunia, sementara komunisme ateis telah lama membusuk menjadi bangkai. Saatnya dunia berdamai dengan Islam. (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.