Senin, 25 Oktober 21

ISIS dan Gerakan Wahabi Apa Bedanya?

ISIS dan Gerakan Wahabi Apa Bedanya?

Jakarta, Obsessionnews – Anggota Komisi ‎VIII DPR RI Jalaluddin Rahmat menilai masifnya gerakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tidak bisa dilepaskan dari dari adanya paham Wahabi yang pertama kali dicetuskan oleh seorang ulama Arab bernama Muhammad Ibnu Abdul Wahab pada tahun 1115-1201 H atau 1703-1787 M. Paham ini sukses menyebar luas ke suluh dunia, termasuk salah satunya Indonesia.

Semangat dari gerakan Wahabi ini adalah ingin mengembalikan pemurnian Islam dalam segala hal, tidak hanya berkaitan dengan ibadah tapi budaya. Menurut Jalal, di Indonesia gerakan ini masuk dalam kelompok fundamentalis radikal yang berusaha merubah praktek keislaman yang selama ini dianut masyarakat Indonesia seperti bertawasul, dengan berziarah kubur dan juga tradisi membaca tahlil dan Yasin.

‎Dalam pengertian yang luas, cara pandang Wahabi ini yang kemudian berkembang penafsiranya menjadi gerakan politik yang ingin menjadikan Islam sebagai ideologi negara seperti halnya ISIS. Karena itu, Jalal menganggap ISIS sebagai gerakan politik yang tidak mudah dibasmi karena ini sifatnya idielogi yang sudah memiliki sejarah panjang, dan pengaruh yang kuat.

‎”Inilah yang dibawa ISIS dia bawa ideologi Wahabi, Ibnu Taimiyah dan Arabisme nya Muhammad Bin Abdul Wahab, hasilnya semua orang kafir harus dilenyapkan dari muka bumi di bawah pemerintahan Islam, dan dunia harus diatur dengan syariat Islam, itulah teologis,” ujar Jalal di DPR, Senin (23/3/2015).

Ibnu Taimiyah sendiri adalah ulama besar yang kerap menjadi rujukan kelompok Wahabi dalam menyebarkan ajaranya pemurnian Islam. Hal-hal yang dianggap tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad dianggap sebagai bid’ah, syirik. Mereka umumnya memahami Islam secara tektual dan leterlek sekaligus konserfatif. Mereka kata Jalal, tidak bisa membedakan mana ibadah ‎mahdhah dan ghairu mahdhah.

“Contohnya, kalau Tuhan itu digambarkan sebagai duduk di atas Arsy berkembanglah sama mereka antrofomisme. Dalam Fiqih karena Nabi berjanggut mereka juga mengharuskan orang berjanggut, penafsiran betul-betul tekstual terhadap dalil-dali Alquran dan Hadist. Atau potong tangan itu juga betul-betul potong tangan,” paparnya.

Mereka kata Jalal, adalah kelompok yang gemar mengkafirkan orang yang tidak sepaham dengannya. Tidak hanya orang muslim, orang non muslim juga dianggap kafir, dalam paham mereka wajib diperangi. Menurut Jalal, pemahaman itu salah, karena Alquran hanya mengizinkan bagi orang yang diperangi untuk memerangi. ‎”Mereka malah ambil ayat lain bunuhlah orang kafir itu dimanapun kamu temukan mereka,” jelasnya.

Padahal lanjut Jalal, Alquran memerintahkan agar Islam agar menjadi rahmat bagi semesta alam. Berbuat baik tidak hanya sesama umat muslim tapi juga non muslim. Jalal, melihat cara pandang Wahabi ini sama dengan cara pandang yang dipakai kelompok ISIS, mereka menganggap selain orang Islam adalah kafir, dan wajib diperangi. “Kelompok ini cenderung pada paham agama bersifat tekstual dan mereka menolak hal-hal penafsiran,” tuturnya.

Di Indonesia lanjut Jalal, ‎kelompok semacam ini sudah banyak berkembang. Mereka adalah orang-orang Wahabi yang kerjanya mengkafirkan orang. Kelompok Wahabi yang ekstrim bisa diliat dengan kelompok Mujahidin yang menganggap jihad wajib, kemudian Hibur Tahrir (HTI) Front Pembela Islam (FPI). Mereka ini adalah kelompok Islam radikal garis keras yang punya tujuan sama dengan ISIS yakni mendirikan negara Islam.

‎”Jadi ISIS bawa paham Wahabi, dalam tingkat yang lebih ekstrim,” jelasnya.

Politisi PDI Perjuangan itu, bahkan mencurigai kelompok yang cara pandangnya sama dengan ISIS tidak hanya Ormas, tapi juga ada dari partai Islam. Tanpa mau menyebutkan apa nama partainya, yang jelas kata Jalal, ada kelompok partai Islam di DPR yang menolak dikeluarkannya Perppu Radikalisme. “Partai Islam sekarang juga ada sekarang yang punya cita-cita ISIS ini. Itu bisa dilihat, mereka kemarin tidak setuju kan dikeluarkan Perppu radikalisme ini,” ungkapnya.

***Dalam benak hati, Jalal menilai, partai Islam itu juga sebenarnya sama setuju dengan paham ISIS. Hanya, saja mereka berjuang secara halus melalui parlemen ‎”Ini caranya aja yang beda dengan ISIS, tujuan sama mendirikan negara Islam,” kata Jalal. Namun, dia heran mengapa pemerintah tidak mau bersikap tegas untuk membubarkan kelompok organisasi yang bersebrangan dengan ideologi Pancasila.

“Yang menarik bagi saya adalah kenapa pemerintah membiarkan kelompok ini? Padahal mereka menentang Pancasila dan NKRI,”‎ tandasnya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.