Sabtu, 25 Januari 20

Ir Sutami Menteri Termiskin, Atap Rumahnya Bocor Semua

Ir Sutami Menteri Termiskin, Atap Rumahnya Bocor Semua

Nampaknya, sekarang ini sangat langka menemukan politikus yang jujur. Namun, dulu pernah ada seorang menteri yang jujur, yaitu Ir Sutami. Saking jujurnya, atap rumahnya banyak yang bocor, dan dia pun sempat tidak mampu membayar tagihan PLN. Listrik rumahnya pun diputus PLN, meski dia pernah menjadi menteri empat kali.

Kalau ada oknum pejabat melakukan penyelewengan jabatan, tindak pidana korupsi dan perbuatan lainnya yang menyengsarakan rakyat, kita meski terharu apabila ada sosok pejabat seperti Sutami sekarang ini. Seorang menteri yang bukan hanya jujur dan bersih namun juga rela hidup dalam kesederhanaan untuk ikut merasakan langsung seperti apa sulitnya hidup sebagai rakyat biasa. Bahkan, dia berpesan jika meninggal kelak ingin dimakamkan bersama makam rakyat.

Lahir di Surakarta, 19 Oktober 1928, Sutami meraih gelar insinyur sipil di ITB tahun 1956. Kariernya sebagai Menteri Pekerjaan Umum (PU) pada kabinet Dwikora I bentukkan Soekarno. Ketika menteri-menteri lain yang bekerja pada Soekarno didepak atau dipecat secara tidak terhormat pada saat Presiden Soeharto berkuasa, lain cerita dengan Sutami. Ia diangkat oleh presiden selanjutnya dan tetap menjabat sebagai Menteri PU.

Sutami bukan orang partai. Ia murni orang sipil. Semasa hidupnya, ia menderita penyakit yang behubungan dengan malnutrisi atau kekurangan gizi. Rumah kediamannya di Surakarta juga pernah dicabut aliran listriknya karena tak mampu membayar iuran listrik.

Pada saat Sutami meninjau daerah terpencil, alih-alih menggunakan kendaraan yang bisa saja disediakan apabila diminta, sang Menteri PU ini lebih memilih untuk berjalan kaki. Tak tanggun-tanggung, dari penuturan wartawan yang saat itu mengeluh ketika mengikutinya, waktu tempuh perjalanan dengan berjalan kaki menuju tempat yang dituju bisa mencapai enam jam!

Selama beliau menjabat, tak ada desas-desus negatif mengenai dirinya. Tak ada kasus korupsi, pun tak ada uang negara yang raib karena ulah perbuatannya. Ia begitu lurus menjalankan amanat rakyat.

Pada tahun 1964, ketika umurnya baru menginjak usia 36 tahun, Sutami mulai ditunjuk menjadi menteri yang mengurusi penilaian konstruksi. Usia yang sangat belia bahkan bila dibandingkan dengan rata-rata usia menteri yang ada pada era sekarang.

Sutami dikenal sebagai arsitek brilian yang mampu meneruskan kehebatan guru besar ITB, Roosseno, Bapak Konstruksi Beton. Semasa hidupnya, Sutami yang berperan membangun Jembatan Semanggi, Jembatan Ampera, bendungan Waduk Jatiluhur, Bandara Ngurah Rai, dan bahkan kompleks gedung MPR/DPR pun.

Sutami meninggal di usia 52 tahun pada 13 November 1980. Sedianya, Presiden Soeharto telah memerintahkan agar jenazah Sutami dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Namun, sesuai dengan pesan Sutami saat masih hidup, jasadnya pun dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum.

Saat Orde Lama ambruk, semua yang berhubungan dengan Soekarno dihapus oleh Orde Baru. Namun tidak bagi Sutami, ia dipercaya oleh Soeharto di Kabinet Pembangunan II mengisi jabatan Menteri PU. Sutami total menjabat Menteri PU selama 12 tahun pada 6 kabinet Orde Baru ditambah jabatan pada Orde Lama yang membuatnya menjadi menteri terlama di Indonesia. Saat menjabat tersebut berbagai mega proyek ia tangani dengan terampil, serta tidak ada korupsi.

Jadi menteri terlama lantas tak membuat Sutami bergelimang harta. Dia hidup sederhana, jujur dan anti korupsi. Saat Sutami masih menjabat Menteri PU dan Tenaga Listrik, atap rumahnya bocor. Nah, ketika lebaran tiba dan orang-orang berkunjung ke rumahnya mereka kaget mendapati banyak bekas bocor pada langit-langit rumah. Sutami belum punya biaya untuk memperbaiki atap rumahnya.

Ketika tidak lagi menjabat menteri pada 1978, Sutami mengembalikan semua fasilitas yang diberikan kepadanya kepada negara karena memang itu bukan miliknya. Pernah suatu ketika rumah Sutami di Surakarta diputus listriknya oleh PLN. Pasalnya ia belum bisa membayar tagihan listrik saat itu karena tak punya uang. Terenyuh memang, mantan menteri Tenaga Listrik malah rumahnya sendiri diputus oleh PLN.

Seakan belum cukup, Sutami pernah jatuh sakit namun takut diopname. Alasannya sama, ia takut tak bisa bayar tagihan rumah sakit. Hingga susah payahnya Sutami terdengar oleh pemerintah dan Soeharto langsung menyuruh untuk membantu mantan menterinya itu. Presiden Soeharto kerap menjenguk Sutami saat sakit.

Empat kali dilantik jadi Menteri dari 1965 -1978, Sutami hidupnya tetap saja miskin karena dirinya sangat jujur dan sangat mengerti tentang siksaan di akhirat. Jika Lebaran tiba, para tamu pun bersilaturahmi. Namun betapa terkejutnya mereka saat menginjakkan kaki di rumah Menteri Sutami. Bukan kemewahan yang ada, namun rumah sederhana yang atapnya bocor di mana-mana.

Padahal sebagai pejabat negara yang menangani proyek-proyek besar, Menteri Sutami bisa saja hidup bergelimang kemewahan. Contohnya menteri menteri dan Gubernur sekarang ini semuanya memiliki rumah mewah, mobil mewah dari hasil di luar gaji.

Sosok Sutami ini sangat pendiam dan sederhana. Tak pernah ia menggunakan fasilitas negara di luar pekerjaannya. Saat pensiun, semua ia kembalikan, termasuk mobil dinasnya. Seorang pengusaha pernah ingin memberinya mobil karena tahu mobil dinas Sutami akan dikembalikan. Namun sang Menteri menolak dengan halus. Ia memilih meminta diskon sedikit dan membayar mobil itu.

Sutami mampu jalan kaki puluhan kilometer untuk meninjau daerah terpencil. Jika ada ojek, ia naik. Jika tidak ada, maka menteri sederhana ini akan berjalan kaki hingga bertemu masyarakat sekitar. Dialah satu satunya Menteri (di Indonesia) sepanjang zaman sebagai orang yang paling terjujur dan mengerti tentang Akhirat. (Dari berbagai sumber)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.