Minggu, 23 Januari 22

IPC Diharapkan Dapat Memulai Proyek-proyek Strategis

IPC Diharapkan Dapat Memulai Proyek-proyek Strategis

Jakarta, Obsessionnews.com – PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC telah menetapkan corporate roadmap hingga tahun 2020. Itu sejalan dengan visi baru yang akan menjadi pengelola pelabuhan berkelas dunia yang unggul dalam operasional dan pelayanan. Ada tiga bidang yang menjadi fokus IPC dalam peningkatan kinerja ke depan adalah persiapan fondasi governance, revenue enhancement, dan cost effectiveness.

Di 2017 ini merupakan tahun enhancement. Untuk itu, IPC perlu secara komprehensif meneruskan transformasi dalam rangka mewujudkan kinerja unggul berkesinambungan dengan menjalankan corporate roadmap yang berfokus untuk memperkuat dan mengembangkan bisnis dan actions di atas fondasi yang telah dibangun pada tahun 2016.

Perbaikan dan peningkatan dalam aspek operasional dan pelayanan, termasuk pengadaan, modernisasi alat, program pemasaran; pengembangan anak perusahaan; pembangunan infrastruktur pada pelabuhan-pelabuhan baru; pembentukan holding, perkuatan dan pengembangan usaha akan menjadi benang merah bagi IPC dalam membangun fondasi di tahun 2017. oleh sebab itu, IPC diharapkan untuk memulai proyek-proyek yang dinilai strategis.

“Pada tahun 2017, IPC diharapkan dapat memulai proyek-proyek strategis, termasuk kelanjutan dari proyek Terminal Kalibaru, Proyek Pelabuhan Kijing, Proyek CBL, Proyek Pelabuhan Sorong, maupun Proyek Pelabuhan Patimban,” ujar Direktur Utama IPC Elvyn G. Masassya, Jakarta, Jum’at (3/2/2017).

Juga pembangunan Terminal Petikemas Pelabuhan Tanjung Priok  atau New Priok Container Terminal One (NPCT1) berkapasitas 1,5 juta TEUs yang sudah diresmikan pada tanggal 13 September 2016 dan sedang dalam proses pengembangan untuk terminal-terminal selanjutnya. “Untuk pembangunan Pelabuhan Kijing di Kalimantan Barat sendiri diproyeksikan akan menampung kapasitas hampir 1 juta TEUs,” jelasnya.

Selanjutnya, pembangunan Kanal CBL (Cikarang Bekasi Laut) yang merupakan upaya optimalisasi alur sungai sebagai backup transportasi barang dan penghubung antara Pelabuhan dengan area hinterland, sehingga dapat mengurangi kongesti jalan di darat.

Pembangunan Pelabuhan Sorong di Papua Barat direncanakan untuk menjadi pelabuhan hubungan di Indonesia Timur.  “Sehingga arus tol laut yang ditargetkan hingga ke timur Indonesia dapat berjalan sesuai rencana,’ ungkap Elvyn.

Sedangkan untuk Pelabuhan Patimban, IPC siap memberikan dukungan kepada Pemerintah berupa pembangunan dan pengelolaan pelabuhan. IPC sebagai badan usaha, menyiapkan dana kelola sesuai dengan aturan sekitar Rp 2 Triliun dengan total kepemilikan saham 51%.

Sifat dan mekanisme logistik maritim yang telah bergerak dari pelayanan port-to-port menjadi door-to-door mengisyaratkan perusahaan untuk mendorong pengembangan penerapan konsep integrated chain port, dimana pelabuhan-pelabuhan di Indonesia secara bertahap melaksanakan dan mengembangkan inisiatif untuk melakukan kolaborasi operasional, inovasi berbasis IT, perbaikan konektivitas dengan industri dan pasar, harmonisasi stakeholders dan penanganan secara tepat isu-isu strategis yang berkembang.

Kalau Platform baru di bidang komersial, IPC fokus pada revenue enhancement yang dilakukan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pengembangan usaha, termasuk mekanisme insentif dan disinsentif dengan pendekatan geometris maupun optimalisasi aset, didukung dengan rekonfigurasi bisnis inti dan bisnis pendukung.

“Platform baru di bidang operasional untuk mencapai keunggulan operasional guna menghadirkan pelayanan yang distandarisasi sambil merintis terminal dan pelabuhan yang smart dan green dengan perbaikan terus-menerus yang mencakup pelayanan tepat waktu dengan prinsip-prinsip keamanan dan keselamatan; ramah lingkungan dan penyediaan E-Service secara komprehensif,” kata Elvyn.

Platform baru di bidang teknik dengan pendekatan baru dalam pengembangan pelabuhan, percepatan proyek-proyek pembangunan pelabuhan strategis, sistem dan mekanisme manajemen pemeliharaan fasilitas, dengan prioritas yang tepat dan memperhatikan prinsip cost-effectiveness.

Platform baru di bidang keuangan mencakup financial management dashboard untuk realtime financial report yang mencakup budget control, bottom line (profit), cost to income ratio (BOPO), cash management system untuk penerapan prinsip transparansi dalam pelaporan keuangan.

Selanjutnya, Platform baru di bidang SDM/human capital mencakup pengaturan rekrutmen; remunerasi; placement; talent development; dan demosi, pemberhentian dan pensiun. Sistem pengelolaan anak perusahaan yang baru didasarkan pada segmentasi, fokus, kolaborasi dan sinergi antar anak perusahaan, cabang dan unit-unit usaha lain untuk pertumbuhan melalui ekspansi horizontal dan/atau vertikal untuk memaksimalkan nilai.

Namun, dalam hal pengelolaan cabang, telah dilakukan implementasi organisasi baru dengan perubahan nomenklatur dan kelas cabang dalam upaya untuk peningkatan produktivitas, pemberdayaan cabang dan memperjelas tanggung jawab cabang sebagai perpanjangan IPC di wilayah operasionalnya masing-masing.

Target-target kinerja IPC tahun 2017 pun tidak semakin ringan dan bahkan terus ditingkatkan. “Target ini meliputi tetapi tidak terbatas pada arus petikemas 6,8 juta TEUs, pendapatan Rp 10,5 triliun, dan CAPEX R p 4,6 triliun,” jelasnya.

Untuk meningkatkan sinkronisasi dan sinergitas antar stakeholders terkait, ke depannya IPC akan melaksanakan persiapan pembangunan Maritime Tower di Jakarta Utara. Nantinya, akan menjadi pusat aktifitas pihak-pihak yang terkait di dalam maritime supply chain, seperti: port operator, bea cukai, shipping line, dan pihak-pihak lain. Pembangunan Maritime Tower ini bertujuan untuk memudahkan komunikasi antar pihak sebagai upaya penurunan biaya logistik di Indonesia.

Untuk itu, guna mendorong pertumbuhan dan ekspansi bisnis, meningkatkan akses permodalan, serta memberikan Competitive Advantage, IPC sedang mengeksplorasi dan mempersiapkan rencana pelaksanaan Initial Public Offering (IPO) atau Penawaran Saham Perdana terhadap 3 Anak Perusahaan: PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP), PT Indonesia Kendaraan Terminal (IKT) dan PT Jasa Armada Indonesia (JAI).

“Setidaknya 30% dari jumlah keseluruhan saham yang disetor dicatat untuk diperdagangkan di Bursa Efek di Indonesia.,” tambah Elvyn.

Dalam mencapai target-target perusahaan yang ditetapkan dengan paradigma dan platform baru tersebut, sangatlah penting bagi organisasi ini. Karena, untuk membangun dan mengembangkan kebiasaan dan budaya kolaboratif dalam teamwork antar unit-unit dan fungsi-fungsi terkait sekaligus menghilangkan silo atau sekat-sekat antar unit dan fungsi untuk harmonisasi dan alignment dalam arti luas.

“IPC juga membutuhkan kolaborasi dan dukungan penuh Pemerintah maupun para pemangku kepentingan lainnya, termasuk media, demi kelangsungan, pengembangan dan pembangunan proyek-proyek kepelabuhanan untuk dapat berjalan dengan baik tanpa hambatan,” pungkas Elvyn. (Purnomo)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.