Rabu, 8 Desember 21

Investor Minati Kawasan Industri Kendal

Investor Minati Kawasan Industri Kendal

Kendal, Obsessionnews – Minat investor untuk berinvestasi di Kawasan industri Kendal (KIK), Jawa Tengah terus meningkat. Terlebih lagi pembangunan infrastruktur di sana dikebut oleh PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (Jababeka), selaku pengembang KIK.

Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Eddy Wijanarko, menjelaskan, masalah Upah Minimum Regional (UMR) yang terus naik tajam di Jabodetabek juga membuat investor melirik ke Jawa Timur dan Jawa Tengah.

“UMR di Kendal yang lebih rendah dibanding di kawasan Jabodetabek menjadi pertimbangan khusus para investor.
Namun proses relokasi pabrik ternyata tak semudah membalik telapak tangan,” tambah Eddy.

baca juga:

Jababeka Bangun KIK Rp359 Miliar

Tata Kota Ditaati, Kasus Reklamasi Tak Terjadi

Kota di Indonesia Harus Miliki Keunggulan Khas

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Pengembangan Usaha Dalam Negeri Asosiasi Sepatu Indonesia (Aprisindo) Marga Singgih. Pemindahan pabrik sepatu sport dilakukan untuk menghindari tuntutan kenaikan upah buruh di Jabodetabek.

Menurutnya, pabrik sepatu sport merupakan pabrik padat karya yang butuh tenaga kerja banyak, bahkan sampai 5.000 orang.

Namun, pemindahan pabrik sepatu ternyata bukan perkara gampang. Sebab, pihak perusahaan mesti mempersiapkan lahan dan infrastruktur pabrik, termasuk melakukan perekrutan tenaga kerja baru.

Setidaknya butuh 2-3 tahun untuk proses pindahan, karena harus memindahkan mesin dan mencari lahan baru.

Mantan Ketua Umum Apindo Sofyan Wanandi pernah merinci, sudah ada sekitar 40 persen perusahaan yang sedang mencari tanah di kawasan Jawa Tengah untuk merelokasikan pabriknya. Perusahaan tersebut antara lain memproduksi garmen, tekstil dan sepatu.

Dari sekitar 40 perusahaan ini, 10 perusahaan dari India dan Korea juga sudah melakukan relokasi pabrik.

Sedangkan Kementerian Perindustrian mencatat, penciptaan devisa oleh industri alas kaki sebesar USD 4,11 milar atau 2,33 persen dari total ekspor nasional pada tahun 2014.

Dari sisi lapangan kerja, industri ini menyumbang lapangan Kerja sebanyak 643 ribu orang yang setara dengan 4,21 persen dari tenaga Kerja industri manufaktur.

Pemerintah terus memacu industri alas kaki yang mampu menyerap tenaga kerja massal. Pengembangan industri ini juga guna mendongkrak ekspor dan pangsa pasar sepatu produk Tanah Air di pasar global.

Pangsa pasar alas kaki buatan Indonesia di pasar dunia sebesar 2,85% pada tahun 2014 dan menduduki peringkat 6 besar setelah China, Italia, Vietnam, Jerman dan Belgia. Hal ini memperlihatkan, industri alas kaki mempunyai peluang untuk terus meningkatkan ekspor.

Sejauh ini, Indonesia berada ada dalam enam negara terbesar eksportir alas kaki di dunia dan oleh karena itu sektor ini merupakan aset penting untuk industri manufaktur Indonesia (menghasilkan devisa dan menyediakan lapangan kerja bagi banyak orang).

Pemain global yang besar, seperti Nike Inc dan beberapa perusahaan dari RRT dan Korea Selatan, memiliki fasilitas produksi di Indonesia karena biaya tenaga kerja di negara ini rendah.

Namun, upah minimum telah naik pesat dalam beberapa tahun terakhir, melemahkan daya tarik investasi di industri sepatu.

Masalah lain adalah bahwa Indone-sia perlu mengimpor beberapa bahan baku (kulit dan karet) untuk produksi sepatu. Meskipun sebuah produsen karet utama, Indonesia masih perlu mengimpor bahan karet untuk pembua-tan sepatu karena negara ini tidak memiliki fasilitas pengolahan dalam negeri yang memadai.
Sang Founder PT Jababeka Tbk, Setyono Djuandi Darmono mengatakan, Kendal memiliki daya tarik investasi tersendiri. Karena konsep pengembangan KIK dibuat seperti Kawasan Industri Jababeka di Cikarang, Jawa Barat. Tak hanya menjadi suatu kawasan industri yang terintegrasi, tetapi juga sebuah kota mandiri.

Namun, tentunya tetap mempertimbangkan dan disesuaikan dengan potensi Kabupaten Kendal sendiri. Sejauh ini sejumlah perusahaan yang bergerak bidang tekstil, elektronik dan consumers good telah menyatakan minat berinvestasi di Kawasan Industri Kendal.

Jababeka berkomitmen terus membangun infrastruktur & pra sarana di kawasan industri tersebut. Jababeka merupakan pengembang KIK Kendal dengan konsesi lahan seluas 2.200 hektare (ha).

Per September 2015, Perseroan telah berhasil membebaskan lahan seluas 433 ha dan berkomitmen untuk terus menambah landbanknya di kawasan tersebut. Dalam pengembangan KIK, Jababeka menggandeng Sembcorp Development Ltd sebagai partner.

Perusahaan asal Singapura tersebut memegang 49 saham KIK, sementara mayoritasnya sebesar 51% merupakan miliki Jababeka. @reza_indrayana

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.