Senin, 23 Mei 22

Inilah Obsesi Penerima Beasiswa Bidik Misi (Bagian 1)

Inilah Obsesi Penerima Beasiswa Bidik Misi (Bagian 1)

Pendidikan adalah hak seluruh rakyat Indonesia, termasuk masyarakat miskin. Untuk itu pemerintah menyelenggarakan beasiswa Bidik Misi (Biaya Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi), yang merupakan program sekolah gratis untuk jenjang sarjana dan pasca sarjana bagi yang tidak mampu dan berprestasi secara akademik maupun non akademik meliputi skill.

Tentu banyak pelajar yang sangat menginginkan masuk melalui jalur masuk Bidik Misi. Bantuan biaya yang diberikan bagi yang kurang mampu setelah dinyatakan lulus seleksi baik pada perguruan tinggi negeri (PTN) yang dimaksud. Nantinya semua akan diatur berdasarkan ketentuan kampus.

Bagi yang dinyatakan lulus pada saat verifikasi data semua biaya sekolah akan diganti mulai dari semester 1 sampai maksimal semester 8. Adapun uang transport dan uang bulanan yang juga akan diberikan serta biaya untuk kos beberapa kebutuhan tersebut akan diberikan dan diatur oleh pihak kampus setelah dinyatakan lulus terlebih dahulu di kampus atau perguruan tinggi tertentu yang ada di indonesia.

Bidik Misi memang jadi perhatian masyarakat. Hal ini telah terbukti dari beberapa tahun silam Bidik Misi melahirkan lulusan terbaik.

Banyak kisah inspiratif tentang anak-anak dari keluarga miskin yang berhasil menembus perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia tahun ini. Berikut ini profil beberapa remaja yang diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur masuk beasiswa Bidik Misi tahun 2016.

Obsesi Refo Bermanfaat Bagi Masyarakat

Aulia Zara Reformasi bersama ibunya yang bekerja sebagai penjahit.
Aulia Zara Reformasi bersama ibunya yang bekerja sebagai penjahit.

Namanya Aulia Zara Reformasi. Refo, demikian panggilan akrabnya. Ia anak kedua dari pasangan Setyo Teguh Santoso  dan Dwi Dasa Warsi Mardiyani. Hidup dalam kondisi pas-pasan tidak menyurutkan semangat Refo untuk menggapai cita-cita menuntut ilmu di jenjang pendidikan tinggi. Tekad dan usaha kerasnya dalam belajar membuahkan hasil manis hingga mengantarkannya masuk di Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik UGM.

“Senang dan bersyukur sekali bisa diterima kuliah di UGM. Terlebih tidak dikenai biaya hingga selesai sehingga meringankan beban keluarga,” kata Refo baru-baru ini.

Refo sempat merasakan kehidupan yang lebih baik dari kondisi saat ini. Dulunya kedua orang tuanya memiliki pekerjaan tetap sehingga bisa menghidupi keluarga dengan baik. Sang ayah mulanya merupakan pegawai di salah satu hotel di Yogyakarta. Sementara ibunya memiliki usaha jahit yang bisa dikatakan cukup laris dengan banyak pelanggan.

Namun, semenjak sang ayah terkena stroke pada tahun 2012 lalu perekonomian keluarga mereka menjadi goyah. Ibunya terpaksa menjadi satu-satunya tulang punggung perekonomian keluarga, membiayai hidup keluarga dan juga pengobatan suami.

“Usaha jahit ibu pun agak terbengkalai karena mengurus bapak yang sedang sakit,” tutur gadis kelahiran Kulon Progo, 15 Mei 1998 silam ini.

Bahkan mereka pun terpaksa meninggalkan kontrakan karena sudah tidak sanggup lagi membayar biaya sewa kontrakan. Beruntung, teman ayah Refo berbaik hati menawarkan rumah pribadinya di Jl. Batikan, Pandeyan, Umbulharjo, Yogyakarta, untuk mereka tinggali.

“Teman bapak orang Kalimantan dan punya rumah di sini yang tidak dipakai. Lalu bapak diminta untuk tinggal di sini dan menjaga rumahnya,” ujar alumnus SMA 8 Yogyakarta ini.

Refo berobsesi dapat menyelesaikan kuliahnya dengan lancar. Setelah itu ia akan mencari pekerjaan sesuai latar belakang pendidikannya. Refo ingin ilmunya bermanfaat bagi masyarakat.

Meskipun hidup dalam keterbatasan,  Dwi selalu menginginkan anak-anaknya mendapatkan pendidikan terbaik hingga ke jenjang perguruan tinggi. Ia berusaha dengan segala upaya dan sekuat tenaga untuk mewujudkan hal itu. Terbukti anak pertamanya belum lama ini berhasil lulus dari Fakultas Geografi UGM dengan hasil yang cukup baik.

“Saya selalu mendukung anak-anak untuk bisa kuliah. Karenanya bersyukur sekali Refo bisa diterima di UGM. Doa-doa saya selama ini terkabul,” kata Dwi yang tak kuasa menahan tangisnya.

Dwi bersyukur, anak-anaknya paham akan kondisi keluarga. Keadaan tersebut tidak pernah mengendorkan semangat kedua anaknya dalam belajar, bahkan masuk dalam siswa berprestasi di sekolahnya.

“Tidak jarang Refo memberikan les pada anak-anak tetangga di sekitar rumah. Dari situ ia dapat tambahan uang saku. Saya jadi haru melihat usahanya itu,” katanya.

Setiap orang tua tentunya mempunyai harapan bisa melihat keberhasilan dan kesuksesan anak-anaknya kelak. Begitu pula dengan Dwi dan keluarga yang selalu berdoa untuk keberhasilan anak-anaknya. (Bersambung) @arif_rhakim

Baca Juga:

Luar Biasa! Anak Kuli Bangunan Ini Diterima di UGM

Wow, Keren! Deny, Anak Buruh Tani yang Kuliah di UGM

Anak Penjual Gorengan Ini Diterima Kuliah di FK UGM

Hebat! Tiffani, Anak Penjaga Toko yang Diterima di UGM

Refo, Anak Penjahit yang Diterima Kuliah di UGM

Inilah Amro Monster, Robot Cerdas Buatan Mahasiswa UGM

Related posts