Senin, 25 Oktober 21

Inilah Hasil Pertemuan Panitia Reuni 212 dengan Pimpinan DPR RI

Inilah Hasil Pertemuan Panitia Reuni 212 dengan Pimpinan DPR RI

Berikut ini adalah notulensi dan laporan Audiensi Panitia Reuni 212 dengan Pimpinan DPR RI, Kamis 30 November 2017,  di Gedung Nusantara III DPR RI, Senayan, Jakarta :

Pada Kamis (30/11), pukul 13.15 WIB, di ruang rapat Pimpinan DPR RI, Gedung Nusantara III Lantai 3 berlangsung audiensi 12 orang perwakilan Ulama Panitia Reuni 212 yang dipimpin oleh Muhammad Al Khathath, dengan Pimpinan DPR yang diwakili oleh Fadli Zon (Wakil Ketua DPR RI Korpolhukam/Gerindra) dan Fahri Hamzah (Wakil Ketua DPR RI Korkesra/PKS). Tema audiensi terkait rencana Reuni 212 di Monas.

A. Perwakilan ulama yang hadir dalam audiensi tersebut:

1. KH. Abdul Rasyid (Perguruan Asyafi’iyah)
2. Slamet Maarif (Presidium 212)
3. Mohammad Siddik (DDII)
4. Ustd. Abu Jibril (Amir Majelis MMI)
5. KH. Cholil Ridwan (Dewan Dakwah)
6. KH. M. Al Khathath (Sekjen FUI/GISS)
7. Aru Syeif Assad (Wakil Ketua KISDI)
8. M. Syawal (Tanfidziah MMI)

B. Pokok-pokok yang disampaikan:

1). KH. M. Al Khathath mengatakan antara lain :

Kita semua ormas-ormas Islam yang membentuk panitia gabungan Reuni 212. Pada kesempatan tahun ini tepatnya Sabtu besok kita akan memperingati fenomena kebersatuan umat pada 212 tahun lalu (ABI 212 tahun 2016) yang harus kita syukuri. Oleh karena itu agenda kepanitiaan bersama FPI, FUI, GNPF-MUI dan Organisasi Alumni 212 adalah untuk mewujudkan rasa syukur kepada Allah SWT, bukan kegiatan politik.

Kita tidak melakukan aksi apapun. Kegiatan kita cuma shalat subuh berjamaah, kalau ada di media pemberitaan mengenai aksi, itu keliru. Ini syukuran kebersatuan umat Islam. Ini yang kami sampaikan kepada DPR. dan kami akan menyampaikan undangan resmi kepada Pimpinan DPR.

Tempatnya sudah mendapatkan rekomendasi dari pengelola kawasan Monas, Insya Allah tidak ada masalah namun diakui masih ada tekanan dari pihak kepolisian dan ini kami sampaikan kepada Pak Fadli agar Pak Fadli bisa melakukan sesuatu yang sesuai dengan tugasnya.

Kami juga menyelenggarakan Kongres 212 di Asrama Haji Pondok Gede. Namun menghadapi tekanan dari kepolisian, sehingga kami pindah ke PHI. Namun di PHI juga kami mendapatkan tekanan, tetapi umat sudah tidak mau ditekan lagi. Kami memohon perlindungan Pimpinan DPR untuk menjamin keamanan penyelenggaraan kegiatan ini dan meminta aparat kepolisian untuk tidak bersikap overacting.

Kegiatan kami hanya senang-senang dalam rangka mensyukuri nikmat Allah. Apabila ada tekanan-tekanan, dikhawatirkan ada gejolak nanti. Kami juga khawatir seperti 212 tahun lalu, ada pencomotan-pencomotan terhadap ulama yang akan mengikuti kegiatan ini.

Kami akan mulai kegiatan dengan shalat Tahajud pada Sabtu dinihari pkl. 3.00 WIB di Monas. Kemudian akan ada pemutaran film mengenai aksi 212, dilanjutkan dengan shalat subuh berjamaah. Setelah itu dilanjutkan dengan Deklarasi GISS (Gerakan Indonesia Shalat Subuh).

Setelah deklarasi GISS, akan dilanjutkan dengan dzikir dari Majelis Azzikra. Kemudian dilanjutkan dengan peringatan Maulid dan sambutan-sambutan dari tokoh-tokoh yang hadir, termasuk Pimpinan DPR. Ini bukan aksi karena memang tidak ada aksi. Ini adalah kegiatan bersyukur.

2). Slamet Maarif:

Latar belakang munculnya ide kongres 212 adalah dari teman-teman daerah. Kemudian ada usulan dari daerah juga mengenai bagaimana kita urun rembug membicarakan situasi dan kondisi bangsa ini.

Kemudian muncul isu berlebih bahwa agenda kami ada agenda terselubung. Pengelola Asrama Haji membatalkan sepihak rencana Kongres dengan alasan gardu listrik terkena banjir, dan kemudian kami cek ternyata tidak terkena banjir. Pihak pengelola Asrama Haji mengatakan hanya mendapat arahan dari atas. Akhirnya kami pindahkan tempat kongres di PHI.

Di beberapa media ada yang menulis dibiayai oleh salah satu partai, kami tertawa saja karena dana berasal dari kami. Kalau memang akan ada pembubaran lokasi Kongres kami akan melawan. Kami tetap akan fokus pada persiapan kita. Kami berharap pimpinan DPR bisa menjalankan fungsinya agar Jakarta tetap kondusif. Sebanyak 500 peserta sudah menyatakan akan ikut. Dari berbagai wilayah sudah mulai merapat. Apa yang kami lakukan untuk bangsa dan negara yang kami cintai.

3). KH. Cholil Ridwan:
Seharusnya kalau memang Pemimpin Bangsa ini benar-benar Pancasilais, jangan mempersulit kegiatan yang kami lakukan. Umat Islam sekarang ini sedang dikriminalisasi luar biasa masiv.

4). KH. Mohammad Siddik:

Kami ingin mempertanyakan soal kasus Viktor Laiskodat yang telah menghina umat Islam. Kami ingin tahu sejauh mana penanganan kasusnya, terutama di Parlemen. Kepentingan kami umat Muslim adalah kepentingan nasional.

5). Ustadz Abu Jibril:

a. Intimidasi terhadap umat Islam yang akan melakukan kegiatan damai. Kami ingin tahu siapa yang mengintimidasi? Apakah polisi yang berpakaian preman?. Kenapa polisi mengintimidasi aktivitas yang aman dan damai?. Tahun lalu dunia terpukau dengan aksi super damai yang tidak satupun tanaman yang rusak.

6). Acara 212 itu, apakah benar kita hanya akan lakukan di Istiqlal saja atau di Monas karena infonya di kawasan Monas sudah di pagari. Kami berharap bantuan dari DPR untuk menyampaikan aspirasi umat, bahwa umat tetap datang. Andaikan umat yang datang banyak dan mendapat halangan, maka apa yabg harus dilakukan umat, kami minta bantuan penjelasan.

Tanggapan Pimpinan DPR RI

1). Fadli Zon:

Gubernur DKI sudah menyampaikan bahwa area Monas sudah diperbolehkan menjadi tempat kegiatan keagamaan, kebudayaan dll. Kalau kami mendapatkan undangan, Insya Allah kami akan hadir. Terkait teknis Kongres mudah-mudahan bisa dituntaskan. Kami akan bertindak sesuai dengan fungsi pengawasan. Selama tidak mengganggu peraturan, reuni 212 dan pelaksanaan kongres tidak bisa dihalang-halangi.

Kami juga menghimbau aparat kepolisian untuk tidak melakukan intimidasi. Pemerintah perlu melakukan revisi UU terkait administrasi kependudukan karena menurut saya aliran kepercayaan itu bukan bagian dari agama.

2). Fahri Hamzah:

Insya Allah kita akan HADIR memenuhi undangan karena kami diundang. Saya tidak memahami bahwa trauma terhadap aksi-aksi keagamaan tersebut bisa menimbulkan trauma. Kalau Pak Jokowi adalah alumni 212 harusnya mau mengundang para alumni 212 ini ke istana, bukan seolah memberi sinyal kepada aparat untuk melakukan tidndakan.

Saya menghimbau aparat kepolisian, kembalilah menjadi hamba hukum sebab itulah yang mendekatkan dia kepada hukum. Jadi sekarang ini seolah ada provokator lagi berkuasa. Semoga acara yang akan dilaksanakan bisa berjalan lancar.

Pukul 14.45 WIB, audensi selesai. Situasi aman kondusif. Pimpinan DPR dan Panitia Reuni selanjutnya doorstop didepan wartawan yang hadir.

 

Jakarta, 1 November 2017

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.