Selasa, 30 November 21

Inilah Bahaya Jantung Berhenti Mendadak

Inilah Bahaya Jantung Berhenti Mendadak
* ilustrasi jantung berhenti. (ist)

Henti jantung juga dikenal dengan nama cardiac arrest atau sudden cardiac arrest (SDA). Kondisi ini terjadi ketika jantung berhenti berdetak secara mendadak. Henti jantung adalah kondisi kesehatan yang sangat serius dan tidak boleh disepelekan bila terjadi. Sebab, saat jantung berhenti berdetak, maka proses pemompaan darah yang akan dialirkan menuju organ-organ vital pada tubuh dapat terhenti.

Akibatnya, seseorang yang mengalami henti jantung, dapat merasakan kesulitan bernapas, pingsan, hingga dampak yang lebih fatal. Untuk itu, ada baiknya untuk mengetahui lebih dalam tentang henti jantung. Berikut ini adalah penjelasan tentang henti jantung.

Berbeda Serangan Jantung
Seringkali tertukar, henti jantung tidaklah sama dengan serangan jantung. Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke jantung tersumbat. Seseorang yang mengalami serangan jantung masih dapat berbicara dan bernapas. Namun, serangan jantung juga tidak boleh disepelekan dan harus segera dibawa ke rumah sakit untuk diberikan penanganan. Pasalnya, serangan jantung yang tidak segera diatasi dapat meningkatkan risiko henti jantung.

Sementara itu, henti jantung terjadi ketika jantung berhenti berdetak secara tiba-tiba akibat gangguan daya listrik pada otot jantung. Saat seseorang mengalami henti jantung, orang tersebut dapat merasakan gejala yang fatal seperti tidak bisa bernapas dan pingsan. Terlebih lagi, bila kondisinya sudah semakin parah, risiko kematian akan henti jantung sangat tinggi dan dapat terjadi dalam hitungan menit. Hal tersebut dapat diakibatkan oleh kurangnya pasokan darah yang cukup pada organ-organ vital tubuh.

Dipicu Oleh Berbagai Faktor Risiko
Kondisi jantung dan faktor kesehatan tertentu dapat meningkatkan risiko henti jantung. Misalnya seperti mengidap penyakit jantung koroner, memiliki ukuran jantung yang besar, katup jantung yang tidak teratur, penyakit jantung bawaan, hingga masalah ada daya listrik otot jantung.

Melansir dari Healthline, adanya masalah pada sistem kelistrikan jantung dapat meningkatkan risiko kematian akibat henti jantung. Masalah tersebut dikenal sebagai kelainan irama jantung primer. Selain itu, beberapa kebiasaan juga dapat meningkatkan risiko henti jantung. Misalnya seperti kebiasaan merokok, makan berlebihan, konsumsi alkohol berlebihan, jarang berolahraga, bahkan mereka yang mengalami stres berkepanjangan.

Dapat Terjadi Pada Siapa Saja
Melansir dari American College of Cardiology, henti jantung mendadak dapat terjadi pada siapa saja, termasuk mereka yang tidak terdiagnosis mengidap penyakit jantung. Kebanyakan kasus henti jantung adalah pertanda awal akan adanya masalah pada jantung. Artinya, mereka yang mengidap masalah jantung, umumnya tidak menyadarinya hingga mengalami henti jantung mendadak.

Gejalanya Dapat Muncul Tanpa Peringatan
Mengutip dari Mayo Clinic, terkadang ada beberapa gejala ‘peringatan’ yang dapat terjadi sebelum seseorang benar-benar mengalami henti jantung. Misalnya seperti dada terasa tidak nyaman, sesak napas, merasa lemah, hingga palpitasi (keadaan jantung yang berdegup kencang).

Selain gejala yang dapat terjadi sebelumnya, henti jantung juga akan menimbulkan gejala yang secara tiba-tiba menyerang. Mulai dari jatuh tiba-tiba, berhenti bernapas, hilang kesadaran, hingga tidak adanya denyut nadi. Hal yang perlu ditegaskan, henti jantung mendadak seringkali terjadi tanpa gejala peringatan sebelumnya.

Harus Diberikan Pertolongan Pertama
Bila seseorang mengalami henti jantung, maka pertolongan pertama harus langsung dilakukan. Pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah menggunakan metode Cardiopulmonary resuscitation (CPR). Metode CPR adalah salah satu bentuk perawatan darurat bagi henti jantung. Bila jantung sudah Kembali berdetak melalui CPR, selanjutnya defibrilasi akan dilakukan. Defibrilasi adalah tindakan untuk mengembalikan irama dan denyut jantung yang tidak normal, menggunakan alat kejut listrik.

Umumnya dokter akan menganjurkan perawatan tambahan bila kedua metode pertolongan pertama tersebut sukses dilakukan. Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi risiko henti jantung kembali terjadi. Sementara itu, perawatan tambahan dapat dilakukan melalui penggunaan obat-obatan, prosedur operasi, hingga perubahan pola hidup yang lebih sehat. Seperti mengonsumsi makanan dengan nutrisi seimbang, rajin berolahraga, hingga berhenti merokok. (Halodoc/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.