Jumat, 7 Oktober 22

Inilah 3 Faktor Partai Golkar Dapat Islah

Inilah 3 Faktor Partai Golkar Dapat Islah

Jakarta – Upaya mewujudkan islah didalam internal Partai Golkar yang sampai saat ini masih bergulir dan tidak ada titik temu, antara DPP Partai Golkar Munas Bali pimpinan Aburizal Bakrie (ARB) dengan DPP Partai Golkar Munas Jakarta besutan Agung Laksono. Hal ini membuat para pengamat politik angkat bicara untuk menemukan islah kedua kubu tersebut.

Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti menyampaikan, ada tiga faktor yang mendorong islah di dalam Partai Golkar.

“Pertama, Kenyataannya Golkar telah menyapu banyak jabatan di KMP. Itu lebih dari cukup untuk menyatakan bulan madu dengan KMP berakhir, tentu yang terkait dengan bagi-bagi kekuasaan,”ujar Ray melalui pesan singkatnya kepada Obsessionnews.com di Jakarta, Kamis (8/1/2015).

Kedua, lanjut Ray, bagaimanapun ARB tidak siap disebut sebagai tokoh yang membuat Golkar pecah. Menurut dia, Golkar melahirkan banyak partai lain terjadi sebelumnya. Tapi keterpecahan kepengurusan baru dalam waktu yang cukup lama dan melibatkan berbagai pihak baru terjadi di era ARB.

“Bagaimanapun, ARB tetap ingin dikenang sebagai tokoh pemersatu Golkar,” ungkapnya.

Ketiga, bahwa secara pribadi posisi ARB juga makin tidak kuat. Khususnya setelah pemerintah melakukan penalangan kompensasi Lapindo bernilai 780 M. Ada ketergantungan personal ARB dengan pemerintah kaitannya dengan dana yang dimaksud.

Dalam artian, masih kata Ray, dambaan akan adanya oposisi keras Golkar ke pemerintah akan terhalang oleh perjanjian penalangan yang dimaksud. Sekalipun terlihat bahwa negosiasi di antara dua kubu cukup alot, itu hanya tampakkan untuk memetakan tujuan-tujuan yang lebih bersifat personal.

“Titik temunya sudah dicapai, tinggal bagaimana elemen-elemen teknisnya,” katanya.

Ray menjelaskan, dalam penataan elemen-elemen tekhnis ini tentu saja ada kemungkinan satu atau dua bahkan lebih orang yang terpinggirkan. Tetapi ini tidak terlalu menghalangi keduanya untuk mencapai titik temu.

“Hal ini diperkuat oleh pertemuan Akbar Tanjung dengan presiden. Artinya, skarang di dalam atau di luar pemerintah bukanlah bahan negosiasi yang penting bagi kedua kubu di dalam partai Golkar,” jelasnya.

Meskipun begitu, lanjut Ray, tentu bagi kubu Agung Laksono tetap relevan. Setidaknya kalau didalam ada kemungkinan untuk mengincar posisi-posisi strategis di pemerintahan tentu untuk satu setengah tahun pemerintahan Jokowi – JK kelak.

Ditahap itu kemungkinan ada pergantian kabinet. Dengan begitu beberapa orang dari kubu Agung Laksono dapat didorong untuk masuk dalam kabinet baru Jokowi – JK. Sementara kalau tetap di KMP, selain karena telah ada keterikatan ‘budi’ pemerintah dengan ARB yang akan berjalan sepanjang empat tahun ke depan, juga panggung koalisinya lebih banyak dipakai oleh Gerinda ataupun PKS.

“Artinya di barisan KMP ini banyak pelaku yang bisa juga berujung tidak sinergi dengan Golkar,” pungkasnya. (Pur)

Related posts