Senin, 26 September 22

Ini yang Harus Diperhatikan Jika Ingin Membuat Disinfektan Sendiri

Ini yang Harus Diperhatikan Jika Ingin Membuat Disinfektan Sendiri
* Penyemprotan disifektan. (Foto: Oke Zone)

Jakarta, Obsessionnews.com – Seiring dengan pesatnya penyebaran virus corona, banyak disejumlah tempat dilakukan penyemprotan disinfektan. Jika sebelumnya masyarakat antusias membuat hand sanitizer sendiri, kini mulai marak pula membuat disinfektan.

Cara memembuat cairan disinfektan pun bermacam-macam. Ada yang menggunakan cairan pemutih pakaian, ada pula yang menggunakan campuran pembersih lantai. Benarkah cara seperti itu diperbolehkan. Ini yang harus diperhatikan jika ingin membuat disinfektan sendiri.

Peneliti Kimia dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Joddy Arya Laksmono membenarkan bahwa cairan disinfektan bisa dibuat dengan campuran cairan pemutih pakaian atau pembersih lantai.

“Berdasarkan anjuran dari WHO, bahwa bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai desinfektan adalah etanol dan sodium hipoklorit (pemutih). Kebanyakan larutan bahan pemutih rumah tangga mengandung 5 persen sodium hipoklorit (50000 bpja klorin),” kata Joddy, belum lama ini.

Joddy menyebutkan, cairan pemutih pakaian merupakan bahan yang paling kuat dan efektif. Akan tetapi, bahan ini mudah dinonaktifkan jika terdapat bahan organik. Bahan aktif yang ada di dalam cairan pemutih yaitu sodium hipoklorit yang memiliki beragam fungsi.

“Efektif membunuh bakteri, jamur, dan virus, termasuk virus influenza,” kata dia.

Bagaimana cara membuatnya?

Seperti disebutkan di atas, pembuatan cairan disinfektan bisa dilakukan dengan mencampur air dan cairan pemutih pakaian atau pembersih lantai. Joddy menyebutkan, cairan pemutih pakaian yang biasa digunakan sehari-hari bisa dilarutkan dengan air biasa. Perbandingannya, 1:100.

“Anjuran dari WHO seperti berikut, pengenceran 5 persen sodium hipoklorit dengan perbandingan 1:100 biasa dianjurkan. Gunakan 1 bagian bahan pemutih untuk 99 bagian air ledeng dingin (pengenceran 1:100) untuk disinfeksi permukaan,” kata Joddy.

Bahan pemutih yang telah diencerkan ini dapat mendisinfeksi dalam waktu kontak 10-60 menit. Joddy mengingatkan pentingnya memperhatikan takaran perbandingan penggunaan cairan pemutih dan air. Diupayakan, konsentrasi sodium hipoklorit yang ada sudah tidak terlalu tinggi.

“Sesuaikan perbandingan bahan pemutih dan air menurut kebutuhan untuk mencapai konsentrasi sodium hipoklorit yang sesuai. Misalnya, untuk preparat bahan pemutih yang mengandung 2,5 persen sodium hipoklorit, gunakan bahan pemutih dua kali lebih banyak yaitu, 2 bagian bahan pemutih untuk 98 bagian air,” jelas Joddy.

Sementara itu, untuk cairan pembersih lantai, kandungan bahan aktifnya lebih rendah dari cairan pemutih. Oleh karena itu, perhatikan komposisi campurannya. Ia mencontohkan, cairan pembersih lantai ada yang sebagian besar kandungannya adalah pine oil.

“Dari beberapa sumber literatur menyatakan bahwa pine oil dapat digunakan juga sebagai disinfektan. Hanya, daya aktifnya lebih rendah dibandingkan dengan bahan pemutih seperti anjuran dari WHO,” ujar Joddy.

Agar tidak melemahkan daya aktifnya, untuk membuat disinfektan dari bahan ini disarankan perbandingannya tidak jauh berbeda antara cairan pemberiih dan air.

“Anjurannya secara sederhana adalah sekitar 10 tutup botol cairan pembersih lantai diencerkan dengan air 1 liter. Hal tersebut untuk mendapatkan konsentrasi minimal 0,5 persen bahan aktif yakni monoterpen agar efektif sebagai desinfektan,” jelas ia.

Untuk mengatasi bau karbol yang terlalu kuat dan kadang tidak disukai oleh sebagian orang, Joddy menyarankan mencampurkan bahan pewangi alami lain.

“Bagi yang sensitif terhadap bau karbol dapat ditambahkan dengan bahan pewangi lainnya yang alami misalnya sereh. Jadi air yang digunakan untuk mengencerkan adalah air hasil rebusan sereh,” tandas Joddy. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.