Jumat, 25 September 20

Ini yang Dilakukan Teten Masduki untuk Selamatkan UMKM di Masa Pandemi Covid-19

Ini yang Dilakukan Teten Masduki untuk Selamatkan UMKM di Masa Pandemi Covid-19
* Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki saat meninjau UMKM. (Foto: Dok Humas Kemenkop)

Jakarta, Obsessionnews.com – Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional setelah terdampak pandemi Covid-19. Hal itu terlihat dari kontribusi UMKM terhadap PDB Indonesia terus meningkat sampai sekitar 60% di masa pra pandemi.

Krisis ekonomi saat ini semuanya terkena dampak. Baik usaha besar, maupun UMKM. Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, dampak pandemi bagi pelaku UMKM, yang paling terpukul seperti di sektor pakaian hampir sekitar 70-80 persen. Termasuk mikro dan ultramikro yang bersifat harian. Sedangkan, untuk sektor pertanian justru mengalami pertumbuhan sekitar 16 persen.

“Kami terus keliling, seperti di pasar tradisional, koperasi, UMKM itu memang 30% hingga 50% terganggu kegiatan usahanya. Mereka tidak sanggup lagi membayar cicilan ke lembaga pembiayaan,” kata Teten seperti dikutip dari majalah Men’s Obsession, Jumat (4/9/2020).

Berbagai cara pun dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan UMKM. Pertama, yakni memberikan pelonggaran cicilan kredit UMKM melalui perbankan maupun lembaga pembiayaan. Kedua, pemerintah menyediakan program bantuan sosial untuk usaha kecil atau ultra mikro.

Ketiga, pelaku UMKM dibantu dari sisi demand, caranya yakni melalui penyediaan anggaran belanja pemerintah dan gerakan kampanye Bangga Buatan Indonesia (BBI). Selain itu, beberapa strategi yang disiapkan pemerintah melalui strategi Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“Adapun anggaran yang disiapkan sebesar Rp123,466 triliun,” kata Teten.

Program PEN terbagi menjadi 6 penyaluran. Pertama, subsidi bunga yang ditargetkan Rp35,286 triliun. Kedua, penempatan dana untuk restrukturisasi sebesar Rp78,780 triliun. Ketiga, belanja imbal jasa penjaminan (IJP) yang ditagetkan Rp5 triliun.

Keempat, penjaminan untuk modal kerja Rp1 triliun. Kelima, insentif pajak PPh final UMKM ditargetkan mampu menyerap Rp2,4 triliun. Keenam, pembiayaan investasi kepada koperasi melalui Lembaga Pengelola Dana Bergilir Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) sebesar Rp1 triliun.

“Penyerapan dana PEN per 11 Agustus 2020 sudah capai 35,43%,” bebernya.

Jumlah tersebut setara dengan Rp43,74 triliun dari anggaran Rp124 triliun. Penyerapan tersebut dirincikan, program pembiayaan koperasi melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB-KUMKM) capai Rp457 miliar dari total Rp1 triliun. Program subsidi bunga capai 13,8% atau sebesar Rp845,23 miliar, yaitu subsidi bunga KUR sebesar Rp654,6 miliar, dan non KUR melalui perbankan dan perusahaan pembiayaan sebesar Rp191,17 miliar.

Kemudian penempatan dana restrukturisasi melakui bank anggota Himbara terserap 53,47% atau Rp42,125 triliun dari total dana Rp78,78 triliun. Penyerapan lewat belanja imbal jasa penjaminan melalui Askrindo dan Jamkrindo terealisasi 6,38% atau Rp318,09 miliar dari alokasi Rp5 triliun.

“Program PEN ini akan terus dievaluasi dan sekarang adalah tahap percepatan program PEN, maka saya keliling jemput bola di daerah agar Kepala Dinas, penggiat UMKM, pelaku UMKM, dan koperasi bisa segera ajukan program restrukturisasi,” imbuhnya.

Teten mengaku, pihaknya telah memperbaiki regulasi dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Koperasi dan UKM (Permenkop) agar pelaksanaan PEN bisa berlangsung cepat dan tepat sasaran. Sehingga, jumlah UMKM terdampak pandemic Covid-19 bisa berkurang dan berdampak pada peningkatan laju perekonomian domestik.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memberikan subsidi bunga selama 6 bulan. Dengan subsidi sebesar 6% di tiga bulan pertama dan 3% di tiga bulan berikutnya. Permenkop ini juga memungkinkan satu koperasi bisa mendapatkan dana bergulir dari LPDBKUMKM hingga Rp100 miliar.

Sebelumnya untuk memperoleh dana bergulir terbilang rumit dan sulit. Namun, menurutnya saat ini LPDB KUMKM sedang reformasi lembaga agar lebih mudah diakses oleh koperasi di Indonesia. Teten pun meyakini, dana program PEN untuk LPDB sebesar Rp1 triliun akan habis terserap pada September 2020 mendatang.

“Saya sudah meminta tambahan dana itu ke Menteri Keuangan,” ujar Teten.

Teten menambahkan, saat pandemi Corona ini juga masih ada UMKM bisa bertahan atau bahkan tumbuh, yaitu mereka yang merambah digital dan yang bisa beradaptasi atau inovasi produk. Sehingga, ia memastikan akan mendorong ekosistem digital di Indonesia.

Ia mencontohkan terkait inovasi produk seperti saat ada penjual batik yang sepi pembeli karena jarang ada pesta. Penjual tersebut lalu beradaptasi dan menyesuaikan barang yang dijual.

“Ya, kalau lihat UMKM yang bisa bertahan saat ini, saya kira UMKM yang terhubung dengan market plus digital. Karena itu, digitalisasi UMKM kita harus percepat. Bukan hanya masa pandemi Covid-19 saja, tren pasar ke depan, tren konsumen itu nanti akan lebih senang dengan belanja di online dan 97 persen wilayah Indonesia sudah bisa diakses dengan online,” ujarnya. (Hasan/Men’s Obsession/Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.