Sabtu, 18 September 21

Ini Untung Ruginya Petral Bubar

Ini Untung Ruginya Petral Bubar

Jakarta, Obsessionnews – Pembubaran Petral yang merupakan anak perusahaan PT Pertamina, berhasil membikin kegaduhan di kalangan masyarakat. Bahkan, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga naik pitamnya setelah disebut-sebut upaya pembubaran selalu mentok di mejanya.

Pengamat energi Yusrin Usman bilang, setelah dinyatakan bubar untuk kemudian dilakukan audit investigasi guna mencari apakah benar sering terjadi tindak pidana seperti yang dikabarkan, Petral sudah kehilangan fungsinya sebagai pelaku perdagangan mewakili PT Pertamina. Sekarang, cuma tinggal menyelesaikan kontrak-kontrak yang sudah berjalan.

“Mereka saja yang bikin ribut sampai dibilang Presiden sudah setuju. Presiden kan tinggal bagaimana pembantunya saja. Tapi tidak ada kemungkinan Presiden (Jokowi) terlibat. Dikhawatirkan dia kena pengaruh lingkarannya,” kata Yusrin kepada obsessionnews.com saat ditemui di Jakarta.

Pembubaran Petral yang sering disebut sebagai sarang penyamun minyak dan gas pun akhirnya mendapat label baru. Ibarat mengusir nyamuk, tapi kelambu tidur yang dibakar. Sementara untung ruginya pasti ada.

Dari segi bisnis, sebanyak 17 persen pasokan minyak yang dikuasai Petral untuk perusahaan non Pertamina. Sementara penjualan minyak untuk perusahaan tambang dan minyak negara, Petral mengulik untung 10 sen dollar Amerika tiap barelnya.

Ketika berbisnis dengan perusahaan selain Pertamina, Petral mampu meraup untuk satu dollar AS tiap barel. Ada selisih keuntungan yang lumayan besar mencapai 60 % dari transaksi yang hanya 10%.

Sementara itu, transaksi Petral dalam menyuplai kebutuhan minyak mentah dan bahan bakar minyak (bbm) bagi kebutuhan dalam negeri, mencapai 90% dengan margin 40%. Artinya, secara teknis Pertamina memborong minyak mentah dari anak perusahaannya senilai Rp 1,5 triliyun perhari melalui fasilitas kredit dari bank di Negeri Singa.

Sekedar informasi, kalangan perbankan di Singapura sudah memberi kepercayaan pada Petral. Bahkan, anak Pertamina ini juga tercatat sebagai badan usaha terbesar ke enam di negara tersebut dan mendapat keringanan pajak tahunan dari 17% menjadi 5%.

“Sementara di sini tidak ada dan akhirnya harus berdarah beli bbm dengan dollar,” kata Yusrin. (MBJ)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.