Jumat, 17 September 21

Ini Lima Kejanggalan yang Paling Krusial Dalam Pilkada Serentak

Ini Lima Kejanggalan yang Paling Krusial Dalam Pilkada Serentak
* Yusfitriadi .

Jakarta, Obsessionnews – Dana kampanye dalam pilkada serentak 2015 ini harusnya dikelola secara transparan dan akuntabel. Baik dana kampnye bersal dari Pasangan Calon (Paslon), Partai Politik Pengusung, Sumbngan Individu, Perusahaan dan Kelompok tidak boleh ada kejanggalan.

Koordinator Kelompok Kerja Nasional Pengawasan Partisipatif Dana Kampanye (Pokjanas PPDK) Yusfitriadi menyampaikan ada lima kejanggalan yang paling krusial. Pertama soal kecilnya dana kampanye yang tersedia pada laporan awal dana kampanye (LADK) maupun laporan penerimaan sementara dana kampanye (LPSDK). Kejanggalan ini terjadi di banyak daerah. Sejauh ini ada 11 daerah yang sangat menonjol melakukan pelanggaran itu.

“Tapi bukan berarti di 296 daerah lainnya tidak ada,” ujar Yusfitriadi di kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Jakarta Pusat, Senin (30/11/2015).

Kedua, kata dia, terdapat sumbangan individu yang besarannya sama pada sejumlah penyumbang. Hal ini yang menurut pihaknya memunculkan kecurigaan akal-akalan. Sumbangan besar yang melampaui batasan sumbangan diakal-akali dengan cara memecah-mecah menjadi beberapa penyumbang.

Bodohnya, lanjut Yusfitriadi, pecahannya dibuat sama, misalnya di kabupaten Jembrana ada 12 penyumbang yang masih-masing menyumbang Rp 12,6 juta dan di Solo terdapat 22 orang dengan sumbangan masing-masing Rp 12 juta. Besar kemungkinan disumbang oleh satu orang.

Kejanggalan ketiga, lanjutnya, terdapat sumbangan individu yang melampaui batas sumbangan perseorangan. Salah satunya di Bukittinggi, Sumatera Barat yang didapatkan sumbangan individu kepada salah satu paslon sebesar Rp 140 juta. “Padahal individu itu kan dibatasi hanya Rp 50 juta,” tutur Yusfitriadi.

Sementara kejanggalan keempat, pihaknya menemukan penerimaan dari partai pengusung amat kecil dibanding penerimaan dari paslon, baik dalam LADK maupun LPSDK. Hal ini menggambarkan peran partai pengusung yang kecil.

“Paslon dan sumbangan individu memegang peranan besar dalam pendaan pilkada kali ini,”kata Yusfitriadi

Temuan terakhir, pihaknya juga menemukan banyak sekali penyumbang yang tidak mencantumkan data identitas yang lengkap. (Purnomo)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.