Rabu, 27 Oktober 21

Ini Konsep Baru CGV Blitz

Ini Konsep Baru CGV Blitz

Jakarta, Obsessionnews – Blitz Megaplex kini berubah nama menjadi CGV Blitz. Perubahan ini, lantaran ada kolaborasi antara PT Graha Layar Prima selaku pemilik dengan beberapa perusahaan global. Pembukaan pertama, dilakukan di Grand Indonesia Shopping Mall, Jakarta.

“Dengan kolaborasi ini, perusahaan tetap dimiliki lokal dan lebih kepada mendatangkan teknologi. Kolaborasi bukan cuma dengan CGV namun teknologi disokong oleh Dolby Atmos,” kata Dian Sunardi, Chief Marketing Officer CGV Blitz di Jakarta, Kamis (6/8).

Dengan pembagian porsi kepemilikan, CGV Blitz ingin menjangkau pemirsa lebih banyak lagi. Namun menurut Dian, tak ada target khusus lantaran yang paling banyak punya waktu luang adalah anak muda.

Sekedar informasi, dengan konsep culture plex yang disodorkan CGV Blitz kini tidak hanya mengkhususkan pengunjung untuk menonton. Fasilitas yang disuguhkan, bisa juga untuk menikmati bahkan bermain musik, serta dibuka kompetisi karya seni rupa dan karikatur.

Dian menyebutkan, hingga saat ini pihaknya selalu melaporkan jumlah penonton yang datang sesuai aturan pemerintah. Dan harga tiket yang dipatok sebesar Rp 45 ribu untuk periode Senin sampai Jumat, serta Rp 90 ribu untuk akhir pekan.

Dian bilang, CGV Blitz juga punya rencana melakukan ekspansi dengan membuka enam gerai baru di enam kota di Indonesia termasuk menjangkau kota-kota kecil. Alasannya menurut dia, lantaran animo masyarakat datang ke bioskop masih sangat bagus.

Sementara itu, Yudho Rahutomo, Head of Technical and Inovation Department CGV Blitz menyebutkan, pihaknya sengaja melakukan revolusi desain interior di bioskop CGV Blitz. Poin penting yang diubah antara lain tempat duduk, layar Sphere X serta sound system.

Yudo mengatakan, Sphere X yang disuguhkan CGV Blitz merupakan yang terbesar di dunia. Ukuran layarnya mencapai 26×14 meter. Sementara teknologi sound system, CGV berkolaborasi dengan Dolby Atmos menggunakan 60 speakers di tiap ruang bioskop.

“Unique state of the art, bentuk sit screen dan sound disesuaikan menjadi satu kesatuan antara image, sound dan sit-nya sendiri,” kata Yudo. (Mahbub Junaidi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.