Selasa, 29 November 22

Ini Jawaban Agus Soal Rupiah Ambrol Di Atas Rp14.000/USD

Ini Jawaban Agus Soal Rupiah  Ambrol Di Atas Rp14.000/USD

Jakarta, Obsessionnews Nilai tukar rupiah sejak dibuka pagi tadi terus mengalami tekanan yang begitu luar biasa terhadap dolar Amerika Serikat (USD), bahkan telah menembus level Rp14.000 per USD. Pelemahan yang tengah terjadi tidak terlepas dari adanya ketidakpastian dari ekonomi dunia.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengaku bahwa dirinya terus menerus mengikuti perkembangan nilai tukar rupiah. Adanya tekanan nilai tukar rupiah yang tengah terjadi tidak bisa dipisahkan dari perkembangan ekonomi dunia. (baca juga: Duh, Rupiah Dibuka Di Atas Rp14.000/USD)

Agus mengatakan, saat ini kondisi perekonomian dunia penuh ketidakpastian. Contohnya saja hari ini ada global sell off sehingga pelaku pasar, khususnya pasar modal, hampir seluruhnya melepas saham mereka. Selain itu, pasar juga melihat perkembangan ekonomi Indonesia yang sedang dilanda perlambatan.

rupiah

“Ini berdampak ke Indonesia. Tadi saat kami bicara di DPR dijelaskan juga soal kondisi Amerika yang sedang bagus dan naik tingkat bunga dan kondisi di Tiongkok. Selain itu, ada komoditas yang turun, minyak yang turun, dan kekhawatiran orang lihat pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Agus, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (24/8/2015). (Baca juga: Rupiah Tembus 14.000/USD, Kembali ke Orba)

Terkait perang mata uang di mana beberapa negara besar yang sengaja melemahkan mata uangnya, seperti Tiongkok demi tujuan meningkatkan ekspor dipandang Agus sebagai hal yang wajar. Namun, Indonesia tidak mengambil langkah yang sama untuk sengaja melemahkan. Sehingga bisa dikatakan melemahnya rupiah dipicu oleh faktor eksternal.

“Negara tertentu dilemahkan mata uangnya ada alasan tertentu yaitu punya sektor pengolahan. Indonesia sekarang 50 persen ekspor tergantung primer tidak dapat manfaat dari pelemahan mata uang. Jadi tidak ikutan kompetisi mata uang,” terangnya.

Lebih lanjut, mantan Menteri Keuangan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini memastikan, BI terus berada di pasar keuangan agar kondisi yang sudah overshoot dan undervalued ini tidak semakin parah.

“Kalau sudah undervalued perlu ada kerja sama dan tidak bisa dibiarkan. Eksportir sekarang sudah saatnya lepas valuta asing agar supply dan demand seimbang agar nilai tukar tidak tertekan. Sesuai UU kami akan jaga stabilitas rupiah,” pungkasnya. (mtv/rez)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.