Selasa, 21 September 21

Ini Baru Soal Kelapa

Ini cerita tentang kelapa, betul-betul murni soal kelapa dan tidak ada hubungannya dengan politik. Dan saya pun tidak ingin mengkait-kaitkannya dengan politik. Namun entah kenapa gregetnya selalu sampai juga bersinggungan dengan urusan politik.

Dalam perjalanan tour ramadhan selama 3 hari 2 malam, saya dan teman-teman menuju Samut Sakhon, suatu daerah yang berbatasan dengan provinsi Samut Songkhram, Thailand (kurang dari 1 jam perjalanan dari kota Bangkok), kami sempat singgah di sebuah perkebunan kelapa.

Perkebunan yang saya kunjungi hanyalah salah satu dari sekian banyak perkebunan kelapa di wilayah tersebut. Jenis kelapa yang ditanam adalah jenis kelapa muda, di sana dikenal dengan nama ‘Makprow Nam Horm’.

Kelapa ini di ekspor ke manca negara. Di peringkat internasional jenis kelapa ini di kenali sebagai “aromatic dwarf”. Untuk di Indonesia mungkin lebih dikenal dengan jenis kelapa Pandan Wangi.

Air kelapanya lebih manis daripada air kelapa muda pada umumnya yang dijual di pedagang kelapa muda di pinggir-pinggir jalan di Indonesia. Daging kelapanya juga lebih tebal, lembut dan wangi.

Jika saya ingin mencari jenis kelapa ini Indonesia, mungkin harus ke fruit mart modern yang ada di beberapa kota besar, baru dapat di jumpai. Dan itupun ternyata juga diimpor dari Thailand.

Pohon kelapa nya sendiri tidak setinggi pohon kelapa pada umumnya, bahkan cenderung pendek. Boleh di kata seperti pohon kelapa mini.

Menurut petani di sana, pohon kelapa tersebut sudah dapat dipanen setelah berusia 3 sampai 4 tahun. Dan dapat dipanen setiap 1 bulan sekali. Satu pohon dapat menghasilkan 10 sampai dengan 12 tandan, dengan masing-masing tandan berisi 10 sampai 12 buah kelapa.

Setelah di panen, buah kelapa tersebut dipotong bagian kulit luarnya, sehingga menyisakan kulit bagian dalam yang berwarna putih saja dengan bentuk simetris. Setelah di lapisi dengan plastik wrapping, buah kelapa tersebut dimasukkan dalam box kardus dan siap dikirim ke negara tujuan.

Prosesnya sangat sederhana, dengan sedikit bantuan mesin potong kulit luar kelapa, maka buah segar itu sudah siap untuk diekspor.

Kadang saya tak habis pikir, sebuah negara yang tidak lebih hebat daripada Indonesia, orang-orang nya pun juga tidak lebih pandai daripada rakyat Indonesia, dan dengan luas lahan yang juga tidak lebih luas daripada lahan yang dimiliki oleh Indonesia, namun mereka mampu memanfaatkan lahan yang mereka miliki, untuk menghasilkan komoditas produktif dan berkualitas, serta menghasilkan keuntungan luar biasa bagi masyarakatnya.

Saya betul-betul iri melihat kesejahteraan para pekebun kelapa di daerah tersebut. Boleh dibilang mereka kaya raya, hidup sejahtera dan makmur dengan hasil produksi perkebunan mereka saja.

Saya iri bukan karena mereka kaya dan sejahtera, namun saya iri lebih karena pemerintah Thailand sangat memperhatikan keperluan dan kebutuhan rakyat petani dan pekebun.

Saya iri karena pemerintah Thailand tidak sibuk membangun reklamasi pantainya untuk dijual kepada orang asing.

Saya iri karena para pemilik perkebunan besar dan pabrik pengolahan makanan mereka dimiliki oleh bangsanya sendiri, tidak didominasi oleh orang asing.

Saya iri karena berjuta-juta hektar lahan di negara saya justru bukan dimiliki oleh rakyat bangsa saya sendiri.

Saya iri karena dengan tanah lahan yang begitu luasnya yang ada di negara saya, tapi rakyatnya harus membeli buah impor dari luar untuk dikonsumsi sendiri.

Ini baru soal kelapa yang saya lihat di Samut Sakhon, padahal di perkebunan lainnya di seluruh Thailand juga demikian, setidaknya itu yang saya dengar menurut cerita salah seorang teman saya yang berkewarga negaraan Thailand.

Ini baru soal kelapa yang menjadi salah satu komoditas unggulan dari sektor perkebunan di Thailand, belum lagi sektor industri perikanan, industri pengolahan makanan, industri mesin dan otomotif, industri elektronik, industri pariwisata dan lain sebagainya.

Thailand saat ini merupakan negara pengekspor terbesar produk holtikultura dunia. Ekonomi Thailand bergantung pada ekspor, dengan nilai ekspor sekitar 60% PDB.

Dan hebatnya pula, dari sekitar 60 % dari seluruh angkatan kerja Thailand dipekerjakan di bidang pertanian dan perkebunan.

Thailand menjadi eksportir besar di pasar dunia. Komoditi pertanian yang dihasilkan adalah beras dengan kualitas super, tapioka, karet, biji-bijian, gula. Selain itu Thailang juga sukses di sektor produksi ikan dan produk perikanan lainnya, serta ekspor makanan jadi.

Thailand saat ini sudah unggul dalam produk pertanian dengan status eksportir atau produsen terbesar dunia untuk beras, gula, karet, bunga potong, bibit tanaman, palmoil, tapioka, buah-buahan dan lainnya.

Bukan bermaksud membanding-bandingkan, jika di Indonesia lebih dari empat dasa warsa terakhir pembangunan hanya tersentralisasi pada kota-kota besar saja, maka pemerintah Thailand lebih mengutamakan pembangunan desa.

Thailand tidak menjadikan prioritas pada pembangunan apartemen mewah, real estate dan gedung pencakar langit di sektor properti. Atau membangun jalan flyover, jalan layang dan ruas jalan baru untuk memanjakan komunitas orang kaya di perkotaan pada sektor infrastruktur nya.

Sangat disayangkan memang, bahkan di saat kita telah tertinggal jauh, kita masih saja terlalu banyak membuang-buang waktu untuk hal remeh temeh yang tidak perlu.

Jangan heran jika sektor perkebunan dan pertanian kita sulit maju menyusul Thailand. Jangan heran pula jika kehidupan rakyat petani kita di pedesaan sulit untuk ikut merikmati kue pembangunan dan kesejahteraan sebagaimana halnya para petani Thailand.

Karena disaat pemerintah Thailand rajin menyelenggarakan edukasi pendidikan dan Pelatihan teknologi pertanian serta memberikan support dukungan bibit, pupuk murah, mesin dan teknologi modern kepada rakyat di pedesaan, sementara pemerintah Indonesia masih asyik dengan menyelenggarakan kuis tebak-tebakan dan memberikan bonus sepeda sebagai hiburan rakyatnya.

Salam gigit jari..!!!

Bangkok, 18 Juni 2017

(Nadya Valose (WNI di Bangkok, Thailand)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.