Kamis, 26 November 20

Inggris Tuduh China Langgar HAM Mengerikan Atas Muslim Uighur

Inggris Tuduh China Langgar HAM Mengerikan Atas Muslim Uighur
* Muslim Uyghur di camp tahanan China.

Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, menuduh China melakukan pelanggaran hak asasi manusia “berat dan mengerikan” terhadap penduduk beretnis Uighur. Raab juga mengatakan rangkaian sanksi terhadap mereka yang bertanggung jawab tidak bisa dikesampingkan.

Beragam laporan sterilisasi paksa dan persekusi secara luas terhadap etnis Muslim ini “mengingatkan sesuatu yang sudah lama kita tidak lihat”, katanya kepada BBC.

Inggris, tegasnya, akan bekerja sama dengan sekutu-sekutunya untuk mengambil tindakan sepatutnya.

Duta Besar China untuk Inggris, Liu Xiaoming, mengatakan kepada BBC bahwa tudingan mengenai kamp-kamp konsentrasi adalah “palsu”.

Liu menekankan, etnis Uighur menerima perlakuan yang sama dengan kelompok etnis lainnya berdasarkan undang-undang di China.

Ketika ditunjukkan tayangan drone yang tampak menunjukkan orang-orang Uighur ditutup matanya dan dituntun ke kereta—yang telah disebut asli oleh badan keamanan Australia—dirinya mengatakan “tidak tahu” apa yang diperlihatkan video tersebut dan “kadang kala ada pemindahan tahanan, di negara manapun”.

“Tidak ada kamp konsentrasi di Xinjiang,” tambahnya. “Ada banyak tuduhan palsu terhadap China.”

Diyakini ada sebanyak satu juta orang Uighur yang ditahan selama beberapa tahun terakhir di tempat yang disebut pemerintah China sebagai “kamp pendidikan ulang”.

China sebelumnya membantah kamp-kamp itu ada, kemudian menyebutnya sebagai langkah yang diperlukan untuk melawan terorisme menyusul aksi kekerasan separatis di wilayah Xinjiang.

Baru-baru ini, pemerintah China dituduh memaksa perempuan-perempuan Uighur disterilisasi atau dipasangi alat kontrasepsi sebagai bagian dari upaya membatasi populasi. Tuduhan itu memicu seruan agar PBB melancarkan penyelidikan.

Sangat Meresahkan 

Ditanya apakah perlakuan terhadap etnis Uighur memenuhi definisi genosida , Raab mengatakan komunitas internasional harus “berhati-hati” sebelum melontarkan klaim demikian.

Namun, dia berkata: “Apapun label hukumnya, jelas yang terjadi adalah pelanggaran hak asasi manusia berat, mengerikan.”

Menurut riset baru-baru ini oleh Yayasan Korban Komunisme, rata-rata pertumbuhan populasi di dua prefektur Uighur terbesar di Xinjiang merosot lebih dari 80% antara 2013 dan 2018.

China tidak menerima temuan itu dan mencecar angka-angka yang disajikan. Dubes China untuk Inggris, Liu Xiaoming, mengatakan populasi Uighur di Xinjiang berjumlah empat hingga lima juta jiwa 40 tahun lalu dan kini telah mencapai 11 juta jiwa.

“Ada yang mengatakan kami melakukan pembersihan etnis, namun populasinya berlipat ganda,” kata Liu.

Riset demografi, yang menarik data resmi pemerintah dan media, tidak sejauh 40 tahun lalu.

Namu, riset itu menunjukkan ada peningkatan populasi yang cepat di Xinjiang antara 2005 sampai 2015, diikuti penurunan tajam selama tahun-tahun berikutnya.

“Ini sangat, sangat meresahkan dan laporan aspek manusia dari hal ini—dari sterilisasi paksa hingga kamp pendidikan—mengingatkan sesuatu yang sudah lama kita tidak lihat”.

“Kami ingin hubungan yang positif dengan China, namun kami tidak bisa menyaksikan perilaku semacam itu dan diam saja.”

Di Inggris, ada semakin banyak seruan untuk menerapkan rangkaian sanksi, seperti pembekuan aset dan larangan perjalanan, terhadap para pejabat yang bertanggung jawab atas persekusi terhadap etnis Uighur.

Sebuah petisi yang menyerukan langkah itu telah ditandatangani 100.000 orang, yang berarti hal itu akan dipertimbangkan untuk didebat di parlemen. (BBC News)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.