Kamis, 26 Mei 22

Inggris Ogah Perketat Pembatasan Meski Omicron Merebak

Inggris Ogah Perketat Pembatasan Meski Omicron Merebak
* PM Inggris Boris Johnson. (Foto: BBC)

Meski terus mengalami angka kenaikan akibat varian Omicron, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson ogah memperketat pembatasan. Alasannya, pemerintah percaya rencana cadangan rancangan Johnson ampuh menangani lonjakan kasus Covid-19.

Dilansir CNN, Menteri Kantor Kabinet Inggris Stephen Barclay menyatakan tak perlu ada pengetatan pembatasan di negaranya pada pekan ini karena ‘Rencana B’ Johnson.

“Kami tidak berpikir data mendukung hal itu (pengetatan pembatasan) di tahap ini. Tentu saja kami terus meninjau data, tetapi kami melihat perubahan perilaku secara signifikan sebagai hasil dari Rencana B,” tutur Barclay dalam Sky News, dikutip dari Sputnik News.

Barclay juga memuji beberapa kebijakan pencegahan Covid-19, seperti menggunakan masker di dalam ruangan, bekerja dari rumah, memberlakukan sertifikat vaksin untuk acara besar dan kelab malam, pun juga meningkatkan tes Covid-19.

Kebijakan tersebut merupakan bagian dari Rencana B yang diterapkan pada awal Desember hingga 26 Januari mendatang.

“Meluasnya pengujian merupakan ilustrasi dari fakta bahwa warga Inggris mengambil langkah yang masuk akal untuk membawa mereka ke tempat aman, dan menjaga teman serta keluarga mereka tetap aman. Maka dari itu ada permintaan pengujian dalam beberapa minggu terakhir. Maka, itu, dikombinasikan dengan program booster, merupakan kunci (menangani pandemi), sebagai negara, kami akan menghindari penerapan pembatasan yang lebih ketat,” tambah Barclay.

Pendapat yang sama juga diutarakan Menteri Kesehatan Inggris, Ed Argar.

“Pembatasan atau penguncian harus menjadi jalan paling akhir. Berdasarkan data sekarang, kami tidak perlu memperketat pembatasan. Namun, data dapat berubah hari demi hari,” kata Argar dalam Times Radio.

Sementara itu, beberapa pemimpin Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) mewanti-wanti ‘darurat kesehatan’ yang semakin meningkat karena layanan kesehatan beroperasi di luar kapasitas.

Inggris sendiri mengalami lonjakan angka penerimaan pasien di rumah sakit. Data dari Kantor Statistik Nasional mengungkapkan ada 174.000 kematian yang diregistrasi mencantumkan virus corona dalam sertifikat kematiannya.

Kepala Eksekutif NHS Providers, Chris Hopson menyampaikan, staf kini berada di bawah tekanan yang lebih besar dibandingkan tahun lalu. Ia juga menuturkan, NHS bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dan berharap yang terbaik.

“Masalah kapasitas NHS jangka panjang harus diatasi,” tambah Hopson.

Pada Minggu (2/1), United Lincolnshire Hospitals NHS Trust disebut telah mengumumkan terjadinya “insiden kritis” terkait dengan kekurangan staf yang “ekstrim dan belum pernah terjadi sebelumnya.”

Sementara itu, nyaris 2.000 pasien Covid-19 baru dirawat rumah sakit di Inggris dalam sehari. Bahkan, lebih dari 110 ribu staf NHS cuti menjelang Tahun Baru.

Tak hanya itu, sekitar 50 ribu pekerja NHS juga tak masuk kerja karena sakit atau isolasi mandiri karena terpapar Covid-19 saat bekerja.

Menurut data pemerintah Inggris, penambahan kasus positif Covid-19 harian per Minggu (2/1) mencapai 137.583 kasus. (CNN/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.