Senin, 27 September 21

Inflasi Rendah, Rupiah Loyo

Inflasi Rendah, Rupiah Loyo

Jakarta – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore melemah sebesar tiga poin menjadi Rp11.693 dibandingkan sebelumnya Rp11.690 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova mengatakan bahwa sentimen eksternal yang datang dari AS menahan mata uang rupiah berada di area positif di tengah data neraca perdagangan Indonesia yang mencatatkan surplus serta inflasi yang stabil.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia Juli 2014 surplus 123,7 juta dolar AS, yang merupakan selisih nilai total ekspor sebesar 14,18 miliar dolar AS dan total impor sebesar 14,05 miliar dolar AS.

Sementara laju inflasi pada Agustus 2014 mencapai 0,47 persen atau lebih rendah dari inflasi Agustus 2013 yang tercatat 1,12 persen.

“Rupiah bergerak mendatar dengan kecenderungan melemah. Data ekonomi AS yang dirilis cukup positif, salah satunya jumlah pengangguran AS turun dari 7,3 persen menjadi 6,2 persen,” kata Rully Nova.

Di sisi lain, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II tahun ini diekspektasikan meningkat 4,2 persen, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar 4 persen.

“Membaiknya data ekonomi AS akan mendorong kenaikan suku bunga AS (Fed rate) bisa lebih cepat,” katanya.

Selain itu, Rully Nova menambahkan bahwa sentimen Ukraina juga masih membebani laju mata uang rupiah untuk berada di area positif.

“Kecemasan krisis di Ukraina masih membuat mata uang negara-negara berkembang bergerak mendatar cenderung melemah, pasar juga sedang menanti kebijakan bank sentral Eropa (ECB) paa pekan ini,” katanya.

Kendati demikian, ia mengatakan bahwa level mata uang rupiah di kisaran Rp11.600-Rp11.700 per dolar AS masih cukup stabil.

“Masih adanya penjagaan Bank Indonesia di pasar membuat rupiah stabil,” katanya.

Menurut dia, potensi rupiah bergerak menguat cukup terbuka jika ada kepastian kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, dengan kebijakan itu maka ruang fiskal Indonesia dapat lebih lebar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Saat ini ruang fiskal Indonesia cukup sempit sehingga untuk mendorong ekonomi ke depan cukup sulit,” ucapnya.

Sementara itu kurs tengah Bank Indonesia pada hari Senin ini (1/9), tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp11.710 dibandingkan posisi sebelumnya di Rp11.717 per dolar AS.

Related posts