Rabu, 27 Oktober 21

Industri Telur Asin di Brebes Berkembang Pesat

Industri Telur Asin di Brebes Berkembang Pesat
* Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, penghasil telur asin terbesar di Indonesia. (Foto-foto: Arif RH/obsessionnews.com)

Brebes, Obsessionnews – Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, penghasil telur asin. Dan bahkan Brebes penghasil telur asin terbesar di Indonesia. Telur yang diasinkan adalah telur bebek.

Industri telur asin di Brebes cukup meluas hingga tersedia berbagai pilihan kualitas telur asin. Masing-masing produsen memiliki cap sendiri-sendiri yang biasanya dapat dilihat pada kulit telur.

Akhmad  Khumaedi
Akhmad Khumaedi

Telur asin memang menjadi produk unggulan. Bukan hanya sekadar usaha rumah tangga, tapi telah menjadi bagian mata pencaharian sebagian warga. Telur asin Brebes memang terkenal akan kelezatannya, kuning telurnya masir, dan rasa asinnya pas.

Telur bebek mengandung energi, protein, lemak, karbohidrat yang lebih tinggi dari telur ayam. Selain itu telur bebek juga mengandung banyak vitamin, di antaranya vitamin B-6, vitamin B-12, vitamin A, vitamin E, thiamin, riboflavin, niacin, folate. Selain itu telur bebek memiliki pori-pori yang lebih besar sehingga cocok untuk dijadikan telur asin karena proses penentrasi garam akan berlangsung lebih baik. Ukuran kuning telur bebek juga lebih besar dari telur ayam, serta warnanya lebih menarik.

Telur sangat dianjurkan untuk dikonsumsi oleh anak-anak yang sedang dalam masa tumbuh-kembang, ibu hamil dan menyusui, orang yang sedang sakit atau dalam proses penyembuhan, serta para lansia. Telur cocok dikonsumsi oleh semua kelompok umur dan dari segala lapisan masyarakat. Jadi bisa dikatakan peminatnya cukup besar. Melihat kenyataan ini maka peluang usaha telur asin cukup menjanjikan dan sangat menarik untuk ditekuni.

Usaha peternakan bebek dan industri telur asin di Brebes yang berkembang pesat itu berkat peranan pemerintah yang memberikan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR), penyuluhan, dan fasilitas-fasilitas lainnya. Para peterank bebek dan pengusaha teluar asin terbantu dengan adanya KUR yang disalurkan oleh bank-bank plat merah.

Rochajati
Rochajati

KUR dirasakan manfaatnya oleh Rochajati, peternak bebek di Kelurahan Limbangan Wetan, Kecamatan Brebes. Ia fokus pada usaha pembesaran bebek. Dia membeli anak bebek atau meri yang berusia sehari dengan harga Rp 7.500/ekor, lalu dipelihara dan saat berusia enam bulan dijual dengan harga Rp 68.000/ekor. Rochajati beternak bebek sejak tahun 1994. Dia mempunyai 450 ekor bebek yang digembalakan oleh dua karyawan. Masing-masing karyawan digaji Rp 1 juta dan Rp 2 juta/bulan.

Untuk memperlancar usaha peternakan bebek tersebut wanita yang ramah ini meminjam KUR dari BRI sebesar Rp 8 juta tanggal 29 November 2013. Rochajati berkewajiban membayar angsuran Rp 748.700 per bulan dalam jangka waktu setahun. Uang KUR dipergunakan untuk tambahan modal membeli meri. Sebelum mendapat KUR omsetnya Rp 6,8 juta/bulan, dan setelah 13,6 juta/bulan.

Rochajati salah satu pemasok bebek yang terkenal di Limbangan Wetan. Banyak warga yang membeli bebeknya untuk dijadikan bebek petelur. Pada usia 6 – 12 bulan adalah masa produktif bebek bertelur. Banyaknya warga membeli bebek peliharaan Rochajati karena kualitasnya bagus.

“Saya pernah mengalami masa jatuh-bangun dalam usaha ternak bebek. Ternak bebek ini rentan terhadap serangan penyakit. Tahun 2012 banyak bebek saya yang mati karena kena penyakit. Saya terpukul dengan banyaknya bebek yang mati itu, dan sempat kesulitan permodalan untuk melanjutkan usaha ternak bebek. Kesulitan permodalan itu akhirnya teratasi ketika saya mendapat pinjaman KUR tahun 2013. Alhamdulillah, usaha ternak bebek kini kembali lancar,” katanya beberapa waktu lalu.

Manfaat KUR juga dinikmati oleh Akhmad Khumaedi, pedagang telur asin yang berdomisili di Limbangan Wetan. Tanggal 28 Mei 2014 Khumaedi memperoleh KUR Rp 10 juta dengan membayar angsuran Rp 657.100/bulan dalam jangka waktu 18 bulan. Sebelumnya ia juga mendapat KUR tahun 2007 Rp 5 juta, tahun 2009 Rp 5 juta, dan tahun 2010 Rp 5 juta. Khumaedi merintis usaha telur asin sejak tahun 2007 dengan modal awal Rp 10 juta yang berasal dari kantongnya sendiri. Ia membeli telur bebek mentah Rp 2.000/butir, lalu diolahnya menjadi telur asin. Beberapa bulan setelah menjalankan usaha telur asin pada tahun 2007 ia meminjam KUR Rp 5 juta.

Dalam sehari Khumaedi memproduksi telur asin sebanyak 500 – 700 butir dengan harga dengan harga Rp 2.500 – Rp 3.000/butir. Ia memperoleh keuntungan Rp 500 – Rp 1.000/butir. Usaha telur asin dikelolanya bersama isterinya, Umi Salamah.

“Usaha telur asin membawa berkah bagi saya dan keluarga, karena usaha ini berjalan lancar. Saya harus jujur mengatakan, kelancaran usaha ini berkat peran BRI yang memberikan KUR,” tuturya.

Pedagang telur asin lainnya yang mendapat KUR adalah Rohmat Bajuri. Warga Limbangan Wetan ini tanggal 12 Juni 2014 mendapat KUR Rp 10 juta, dan ia harus membayar angsuran Rp 657.100/bulan selama 18 bulan. Ini adalah pinjaman KUR yang ketiga. Sebelumnya Rohmat mendapat KUR tahun 2010 Rp 5 juta dan tahun 2012 Rp 5 juta. Produksi telur asinnya 500 butir per hari dengan harga jual Rp 2.500 dan ia memperoleh keuntungan Rp 500/butir.

“Banyak warga Kelurahan Limbangan Wetan beternak bebek dan berjualan telur asin. Usaha ternak bebek dan telur asin berhasil meningkatkan taraf ekonomi warga. Berkat usaha telur asin saya dapat memberi nafkah pada keluarga,” ujarnya. (Arif RH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.