Jumat, 22 Oktober 21

Industri Game yang “Booming”

Industri Game yang “Booming”
* Game telah menjadi budaya pop yang dimainkan semua orang. (Foto-foto: Sutanto/obsessionnews.com)

Jakarta, Obsessionnews – Insan-insan kreatif di industri game menyambut hangat kompetisi game dalam BeKreatif (Gebyar Seni Kreatif) Indonesia 2015. BeKreatif Indonesia 2015 yang bertema revolusi ekonomi kreatif ini merupakan momentum emas bagi para pelaku atau penggemar game untuk unjuk gigi. Game salah satu seni kreatif yang ikut dilombakan dalam BeKreatif Indonesia 2015 di Bandung pada November mendatang. Dipilihnya game untuk dikompetisikan karena game dalam lima tahun terakhir tengah booming.

Ami Raditya (kiri), anggota juri kompetisi game dalam ajang BeKreatif (Gebyar  Seni Kreatif) Indonesia 2015
Ami Raditya (kiri), anggota juri kompetisi game dalam ajang BeKreatif (Gebyar Seni Kreatif) Indonesia 2015

Salah seorang juri kompetisi game dalam BeKreatif Indonesia adalah Ami Raditya. Namanya populer di kalangan penggemar game, karena dialah penggagas majalah game pertama di Indonesia, Game Master, tahun 1997. Dia juga yang membidani kelahiran majalah-majalah game lainnya, yakni Game Mania, 3D Magazine, ULTIMA Nation, Anima, GAMEZiNE Indonesia, dan lain sebagainya. Saat ini Ami menjabat Media Director Zigma and Omega (Jawa Pos Group).

Pendiri Duniaku.net ini adalah penulis novel Vandaria Saga tahun 2001. Seiring dengan pembuatan novel tersebut, Ami bersama beberapa temannya mendesain sebuah trading card game (TCG), Vandaria Wars. Vandaria Wars menggunakan konsep shared  universe. Artinya, universe ini terbuka untuk umum sebagai landasan berbagai macam produk. Jerih payah Ami dan teman-temannya membuahkan hasil yang menggembirakan, yakni TGG mendapat pengakuan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai TCG pertama tahun 2006.

Ami banyak membantu pemerintah membuat kebijakan-kebijakan tentang industri game. Tahun lalu dia terlibat dalam pembuatan blue print industri kreatif indonesia.

Booming game terjadi dalam lima tahun terakhir. Sebelumnya game dimainkan anak-anak dan remaja, namun dewasa ini orang dewasa pun ikut bermain game. Hal ini berarti game telah menjadi budaya pop yang dimainkan semua orang,” kata Ami kepada obsessionnews.com di sela-sela rapat dengan panitia BeKreatif Indonesia 2015 di sebuah hotel di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Game yang berarti permainan, identik dengan berbagai macam bentuk permainan yang bisa dimainkan oleh masyarakat segala usia. Biasanya game dimainkan pada sebuah gadget atau seperangkat alat tertentu, baik secara offline maupun online alias terkoneksi internet.

Perkembangan industri game di Indonesia bisa ditarik pada masa sekitar 16 tahun lalu. Waktu itu sudah mulai kelihatan ramainya game konsol, seperti Nintendo, Playstation, dan lain-lain. Di zaman itu pelaku industri game di Indonesia kebanyakan hanya sebagai distributor, karena masih era game konsol. Permainan ini dimainkan dengan menggunakan alat genggam yang terhubung ke konsol permainan, yang disebut kontroler. Kontroler ini memiliki sejumlah tombol kontrol arah, yang masing-masing menggerakkan dan memanipulasi gambar di layar televisi. Saat itu belum ada developer atau pengembang game lokal di Indonesia, karena pada waktu itu kebanyakan masyarakat lebih banyak memainkan game bajakan. Hal ini terkait dengan tingginya disparitas harga antara harga kaset game original dengan bajakan.

Setelah era game konsol, masuklah era game online, sekitar awal 2000-an. Pada saat itu mulai bermunculan publisher, yakni perusahaan atau individu yang memiliki hak eksklusif untuk menerbitkan atau memasarkan setiap judul game. Saat itu kebanyakan produk gamenya masih buatan luar negeri. Salah satu game online yang cukup menyita perhatian pecinta game adalah Ragnarok Online. Developer alias pembuat game ini adalah Gravity Corporation, perusahaan game yang bermarkas di Korea Selatan, tetapi penerbit alias publishernya PT Lyto Datarindo Fortuna (Indonesia).

Secara bisnis, industri game di Indonesia mulai berkembang, karena game legal dari luar juga mulai masuk. Namun, developer lokal yang mengembangkan game dengan hak cipta sendiri masih sulit, lantaran tingginya biaya pengembangan setiap judul game, meskipun banyak talenta yang cukup bagus untuk membuat game.

Waktu itu untuk mengembangkan satu judul game saja bisa menelan dana sebesar Rp 10 miliar hingga Rp 20 miliar. Sedangkan sekarang anggarannya bisa mencapai Rp 50 miliar – Rp100 miliar untuk membuat game dengan jalan cerita panjang dan grafis yang bagus. Ini hanya pengembangan saja, belum biaya marketing dan lain-lain.

Sekitar tahun 2002-2003 muncul developer lokal, Matahari Studios. Perusahaan yang dibuat olehinvestor asing di Indonesia ini memanfaatkan talenta lokal untuk menggarap atau menerima order pembuatan game luar negeri. Di era ini mulailah bermunculan talenta-talenta yang awalnya tertarik pada dunia informasi teknologi, mulai turut beralih menggeluti dunia animasi maupun game.

Tahun 2005-2006 mulai bemunculan developer-developer lokal yang handal, meskipun target usahanya masih menerima orderan game dari luar. Seiring berkembangnya waktu, teknologi, dan peluang, maka mulai bermunculan pula developer game dengan hak cipta mereka sendiri. Sejumlah perusahaan game di Indonesia yang hasil karyanya cukup dikenal antara lain Agate Studio, Altermyth Studio, Toge Production, Tinker Game, Touch Ten Game, dan lain-lain.

Pertumbuhan smartphone di dunia maupun Indonesia saat ini, turut andil besar dalam mendorong perkembangan industri game di tanah air, baik dari sisi produsen maupun konsumen.

Perkembangan industri game di dunia, termasuk di Indonesia, telah menciptakan potensi bisnis dengan nilai yang cukup luar biasa, hingga mencapai triliunan rupiah. Dewasa ini di Indonesia terdapat lebih dari 400 developer dengan lebih dari seribu game yang dilahirkan. Pertumbuhan industri game online Indonesia terbantu oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Survei yang dilakukan Agate Studio tahun 2012 mengungkapkan, hampir sekitar 70% gamer di Indonesia bertransaksi di dalam game sebesar Rp 100 ribu tiap bulan, dan sebesar 25% mengeluarkan kocek sebesar Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu setiap bulan untuk berbelanja di dalam game. Hal tersebut jelas membuktikan potensi bisnis dari industri game Indonesia merupakan suatu hal yang berpotensi mendatangkan uang yang banyak.

Pemain game online yang menggunakan perangkat mobile baru mencapai 20 persen dari seluruh pemain game online di Indonesia, sedangkan yang menggunakan PC berjumlah di antara 70 – 80 persen. Ini menunjukkan bahwa potensi pengembangan pasar game online masih terbuka cukup luas, terlebih dengan pertumbuhan pemilik smartphone di Indonesia yang kini baru mencapai 23 persen dari pasar telepon seluler di Indonesia. (Arif RH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.