Rabu, 12 Agustus 20

Indonesia yang Kita Rindukan

Indonesia yang Kita Rindukan

Oleh: Ustadz Felix Siauw, Pengemban Dakwah

 

Andaikan Islam itu agama yang hanya mengatur bagaimana cara beribadah secara ritual saja, maka saya tidak perlu untuk berpindah keyakinan menjadi Muslim.

Salah satu mengapa saya memilih Islam, adalah karena Islam itu agama yang lengkap, mengatur diri, mengatur kelompok, bahkan punya syariat mengatur negara.

Islam bila diterapkan secara sempurna, bukan hanya menjadikan seorang individu menjadi baik akhlaknya, tapi juga menjamin kebaikan bagi semua manusia yang diaturnya.

Kita membaca dalam sejarah, bahwa saat Rasulullah, manusia yang paling Islami itu memimpin di Madinah, maka kehidupan manusia menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.

Kaum jazirah menjadi lebih mengenal Allah sebagai rabb dan ilah, Tuhan dan sesembahan. Mereka menjadi lebih beradab, hilang permusuhan berganti persatuan.

Rasulullah pun senantiasa melibatkan para sahabat dalam pengambilan keputusan dengan musyawarah. Dan di Madinah keadilan sosial sangat terjaga

Bukankah itu yang diimpikan negeri kita dengan Pancasila? Tapi kenyataannya, Pancasila dengan tafsir para penguasa zaman ini gagal, jauh dari penerapan di masa Rasulullah.

Sekarang negeri ini justru mau dibawa jauh dari ketuhanan, penista agama bermunculan. Bicara adab apalagi, rasa malu sudah tidak lagi dipunyai kebanyakan politisi

Persatuan tercerai akibat kasus penistaan agama, dan suara mayoritas rakyat dianggap angin lalu. Musyawarah sudah tak lagi mewujud dalam kehidupan kita sekarang.

Bagaimana dengan keadilan sosial? Ini yang paling parah. Bagaimana bisa kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 100 juta penduduk termiskin?

Lihat di sekitar anda, semua masalah yang dulu sudah pernah diselesaikan oleh Rasulullah dengan menerapkan Islam. Wajar kiranya bila kaum Muslim menginginkan Islam.

Sebab Islam, bila diterapkan dalam individu saja baik, dalam kelompok lebih hebat lagi. Bayangkan bila negeri tercinta kita ini menerapkan syariat, masya Allah. Allahu akbar!

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.