Jumat, 28 Februari 20

Indonesia Waspadai Virus Bahaya dari China!

Indonesia Waspadai Virus Bahaya dari China!
* Di luar Rumah Sakit Jinyintan di Wuhan, Cina, kota tempat virus itu berasal. (NYT/Getty Images)

Akibat virus corona berbahaya dari China menyebar ke mana-mana, Pemerintah Indonesia harus meningkatkan kewaspadaan pada pintu-pintu masuk lewat darat, laut, dan udara.

Kementerian Kesehatan RI menyatakan pihaknya telah mengirimkan edaran yang meminta pihak berwenang untuk meningkatkan kewaspadaan pada seluruh pintu masuk negara, termasuk melalui jalur udara, laut maupun darat.

Hal ini dilakukan seiring dengan meningkatnya jumlah kasus penyakit akibat virus corona yang dilaporkan oleh pemerintah China. Virus itu pertama kali muncul di kota Wuhan, China, pada Desember lalu.

Kini, jumlah total kasus yang dapat dikonfirmasi melebihi 200 pasien, termasuk tiga di antara mereka meninggal dunia akibat penyakit pernapasan ini.

Pemerintah China memastikan Senin (20/1/2020), bahwa penularan virus misterius ini dapat terjadi antar manusia. Setidaknya 14 petugas medis yang merawat pasien yang terjangkit virus corona, juga tertular.

Edaran dari Kemenkes itu juga meminta kesiapsiagaan pihak-pihak dinas kesehatan maupun rumah sakit rujukan dalam menghadapi kemungkinan masuknya penyakit itu.

Anung Sugihantono, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Kemenkes, mengatakan bahwa alat pemindai suhu tubuh, atau thermal scanner, pada titik-titik masuk para pendatang dari luar negeri telah diaktifkan kembali guna mendeteksi gejala-gejala virus itu.

“Karena salah satu gejalannya adalah panas, gangguan pernapasan, yang paling awal yang bisa dideteksi adalah dengan thermal scan,” kata Anung Senin (20/01) pada acara temu media untuk menjelaskan langkah-langkah preventatif yang diambil oleh pemerintah.

Corona adalah kelompok virus yang menyerang manusia. Enam di antaranya telah diketahui, sebelum kemunculan jaringan terbaru virus itu di Wuhan belakangan ini. Salah satu tipe dari kelompok virus corona menyebabkan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), yang menjangkiti 8.098 orang di China sejak wabah itu meluas pada tahun 2002.

Tercatat 774 orang meninggal dunia akibat virus tersebut.Terkait novel coronavirus, yaitu tipe terbaru yang terdeteksi di Wuhan, kantor Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sementara menyatakan bahwa virus itu berasal dari hewan yang terinfeksi dan bahwa penyebaran antar manusia masih terbatas.

Meningkatkan kesiapsiagaan
Dalam menanggapi ini, Dirjen Anung mengatakan perhatian yang lebih akan diberikan di bandara-bandara yang memiliki penerbangan langsung dari China. Iya juga menyatakan saat ini sudah ada anjuran perjalanan, atau travel advisory, terkait perjalanan ke China, namun ini belum sampai pada tingkat peringatan perjalanan, atau travel warning.

Anung menjelaskan agar para pelancong waspada terhadap gejala-gejala pneumonia akibat virus corona, seperti terjadinya penurunan kondisi yang cepat, sesak bahkan hingga tidak sadarkan diri

Ia menambahkan bahwa vaksin pneumonia yang ada di Indonesia tidak untuk mencegah virus corona yang baru terdeteksi ini.

Di luar China, virus itu telah menyebar ke beberapa negara di Asia, termasuk dua kasus yang terdeteksi di Thailand, satu di Jepang, dan satu lainnya di Korea Selatan.

Sedangkan di Vietnam, dua pendatang dari China dikarantina akibat menunjukkan gejala-gejala terkait penyakit itu.

Anas Ma’ruf, Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Soekarno Hatta, memastikaan pihaknya telah menerapkan anjuran dari Kemenkes. Ia menambahkan bahwa pintu masuk ke Indonesia berjumlah 135, termasuk 35 di antaranya yang merupakan bandara internasional.
“Petugas kita juga di-update dengan informasi, dilatih dan sebagainya sehingga ada kesiapsiagaan,” ujar Anas.

Hingga saat ini, Anas pihaknya belum menemukan orang yang tertangkap oleh pemindai suhu yang mengarah ke penyakit akibat virus corona.

Tri Yunis Miko Wahyono, Ketua Departemen Epidemiologi di Universitas Indonesia, mengatakan alat pemindai suhu tubuh efektif hanya sebatas mendeteksi orang-orang yang telah mengalami gejala-gejala terkait penyakit itu. Sementara orang-orang yang kemungkinan telah terjangkiti namun belum menunjukkan gejala, tidak akan terdeteksi.

Namun, lanjut Miko, karena penularannya belum diketahui secara pasti, sehingga memang pemantauan menggunakan alat itu memang menjadi salah satu cara andalan dalam langkah pencegahan penyebaran. “Paling tidak, yang masuk sakit bisa terdeteksi dan kemudian dapat diisolasi,” kata Miko. (BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.