Rabu, 8 Desember 21

Indonesia Surga Bagi Pembajak, Negara Rugi 65,1 Triliun/Tahun

Indonesia Surga Bagi Pembajak, Negara Rugi 65,1 Triliun/Tahun

Bandung, Obsessionnews – Ketua Masyarakat Anti Pemalsuan (MIAP) Widyaretna Buenastuti menjelaskan, hasil penelitian Fakultas Ekonomi UI menyebutkan beberapa komoditi yang dipalsukan diantaranya software, kosmetik, makanan dan minuman, obat, pakaian, beberapa barang dari kulit dan tinta printer.

“Dari data tahun 2010 saja yang dilansir beberapa media diantaranya Neraca menyebutkan kerugian negara mencapai Rp43 Triliun,” ungkapnya, Rabu (15/4/2015).

miap1

Bahkan, menurutnya, tren kerugian meningkat hingga Rp65,1 triliun saat ini. Diantaranya kosmetika 6,4%, oli 7%, pestisida 7,7%, minuman 8,9%, rokok 11,5%, elektronika 13,7%, lampu 16,4%, spare parts 16,8%, pakaian 30,2%, software 34,1%, dan barang dari kulit 35,7%”.

Atas dasar fenomena tersebut, MIAP Bersama Dirjen Hak Kekayaan Intelektual Kemenkumham dan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menggelar penghargaan Mal Bersih Indonesia (Indonesia Clean Mall/ICMA 2015).

Buenastuti menjelaskan melalui ICMA 2015 mal atau pusat perbelanjaan anggota APPBI yang menjadi peserta akan dinilai dan dimonitor partisipasinya dalam kurun waktu 15-29 April 2015.

“Mal akan dinilai dari kreatifitas dan aktivasi peduliAsli melalui media sosial yang mereka miliki dengan cara ketik #PeduliAsli dan ICMA201. Kontennya berupa ajakan untuk tenant dan konsumen agar selalu memilih dan menggunakan produk asli/berlisensi”, ungkap Buenastuti.

miap3-1

Menurutnya, di Bandung tidak hanya Mal yang dinilai tapi juga para pemilik Factory outlet/FO. Para pemilik dan  pengelola FO serta Mal untuk peduli dan memiliki sikap yang sama dan mewujudkannya barang yang dijual. Atau didistribusikan hanya yang asli di tempat tersebut.

Sosialisasi terhadap masyarakat untuk tidak menggunakan barang palsu menjadi hal yang harus dilakukan. Kota Bandung menjadi salahsatu kota yang penting, karena disinilah fashion dan kuliner menjadi hal yang luar biasa, hal inilah yang kemudian menjadi perhatian untuk mengajak pemilik dan masyarakat membeli barang asli. (Dudy Supriyadi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.