Selasa, 7 Juli 20

Imlek di Hong Kong Terbelah, Pro dan Anti-Pemerintah China

Imlek di Hong Kong Terbelah, Pro dan Anti-Pemerintah China
* Hong Kong merayaakn imlek dengan banyak elemen yang terinspirasi dari unjuk rasa anti-pemerintah China. (BBC)

Nampaknya, perlawanan rakyat Hong Kong terhadap rezim komunis China daratan terus berlanjut. Perayaan tahun baru Imlek di Hong Kong pun terbelah, pro dan anti-pemerintah China.

Seperti komunitas China di seluruh dunia pada umumnya, masyarakat Hong Kong merayakan tahun baru China akhir pekan ini.

Namun unjuk rasa prodemokrasi yang mengguncang kota itu selama tujuh bulan terakhir berdampak besar pada perayaan pergantian tahun kali ini.

Pemerintah setempat membatalkan pertunjukan kembang api tahunan atas pertimbangan keamanan. Pawai yang biasanya menarik perhatian turis dari seluruh dunia juga dibatalkan.

Ada rencana menggantinya dengan karnaval yang lebih kecil, tapi acara itu juga dibatalkan karena penyebaran virus corona dari China daratan.

Sejumlah pemilik toko yang menjual barang-barang khas imlek berkata kepada BBC bahwa omzet mereka anjlok 50%. Di salah satu pasar rakyat jelang imlek di pusat Hong Kong, banyak kios berupaya menarik perhatian pembeli, walau tak banyak dari mereka yang berhasil.

Salah satu pemilik kios itu, yang bernama So, menyalahkan para demonstran penentang pemerintah China. “Orang-orang tidak lagi keluar rumah. Mereka khawatir pengunjuk rasa membuat masalah di pasar ini,” ujarnya seperti dilansir BBC, Sabtu (25/1/2020).

Keluarga terpecah dengan pandangan berlawanan
Perubahan yang terjadi lebih dari sekedar ketiadaan kembang api dan selebrasi yang minim. Tahun baru merupakan momen untuk berkumpul dengan keluarga. Banyak orang mudik ribuan kilometer ke kampung halaman untuk bertemu keluarga.

Namun banyak keluarga di Hong Kong terpecah akibat pandangan yang berbeda terhadap pemerintah China. Bagi mayoritas penduduk, topik ini seperti tabu, setidaknya bagi mereka yang ingin menghindari adu argumentasi di meja makan.

Seorang perempuan bernama Cheng, berkata kepada BBC, perbedaan itu begitu serius sehingga ia memutuskan tidak merayakan imlek dengan mertuanya. “Tahun ini keluarga-keluarga terbelah. Orang-orang dengan pandangan politik berbeda tidak lagi berbicara satu sama lain,” kata Cheng.

“Namun di sisi lain, Anda menjadi sangat dekat dengan orang-orang yang secara biologis tidak terikat denganmu. Ini lebih karena persamaan pemikirian,” tuturnya.

Beberapa pembeli menolak pasar Tahun Baru yang dikelola pemerintah dan memilih mengunjungi pasar yang dikelola pendukung protes. (BBC)

Unjuk rasa terus terjadi
Walau tidak terjadi lagi demonstrasi yang berakhir kisruh dalam beberapa waktu terakhir, pengunjuk rasa belum berhenti menggelar pertemuan para penolak pemerintah China. Rabu lalu misalnya, ratusan orang berkumpul di depan pusat tahanan yang dihuni banyak demonstran–mayoritas dari mereka adalah pelajar.

Para demonstran itu datang membawa makanan dan surat, dua barang yang diperbolehkan diterima tahanan. Mereka berkata, itulah cara mereka merayakan imlek, yaitu dengan orang-orang yang ditahan akibat unjuk rasa sehingga tak bisa mudik atau berkumpul dengan keluarga.

Chi-kuen berdiri di depat pusat tahanan itu. Salah satu kawannya sudah ditahan lebih dari sebulan. “Kami ingin saudara-sadara kami tahu bahwa walau mereka tidak bisa keluar merayakan tahun baru, kami datang ke sini untuk mereka,” ujarnya.

“Pemerintah ingin kami percaa bahwa segala sesuatu sudah normal. Itu adalah sebuah kebohongan.”

Para pengunjuk rasa ingin menunjukkan solidaritas dengan mereka yang ditangkap. (BBC)

Salam imlek yang terinspirasi gerakan demo
Dalam tradisi China, banyak keluarga mendekorasi rumah mereka dengan tulisan-tulisan kaligrafi Mandarin di atas kertas merah. Kertas-kertas itu biasanya berisi harapan terhadap satu sama lain, terutama tentang kesehatan dan kesuksesan pada tahun yang baru.

Namun pada imlek kali ini, banyak penyokong gerakan prodemokrasi memilih mendekorasi rumah mereka dengan slogan-slogan berbeda dan dalam bahasa Inggris.

Mereka berharap pemerintah Hong Kong setuju memberi amnesti kepada pengunjuk rasa yang kini ditahan. Ada pula harapan atas penyelidikan independen terhadap dugaan brutalitas kepolisian.

Banyak orang di Hong Kong berharap kampung halaman mereka ini bisa kembali normal. Namun para demonstran belum akan berhenti bergerak. Situasi ini mungkin akan terus terjadi hingga beberapa waktu ke depan. (BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.