Kamis, 2 Desember 21

Imigran di Inggris Merasa Tidak Aman setelah Brexit

Imigran di Inggris Merasa Tidak Aman setelah Brexit

Jakarta – Sejumlah kelompok imigran mengkhawatirkan keselamatan mereka setelah Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa, antara lain didorong oleh isu imigran, kata pengamat.

Selisih suara antara kubu yang menginginkan Inggris tetap bergabung dalam Uni Eropa dan kubu yang menginginkan keluar dari blok itu dalam referendum yang digelar pada Kamis (23/06) kurang dari 5%.

Fakta itu, kata peneliti pada Lembaga Perubahan Sosial, Universitas Manchester, Gindo Tampubulon, menimbulkan perpecahan semakin terasa antara kedua kubu usai referendum.

“Jadi banyak juga yang tak begitu senang, kecewa dan khawatir. Di tempat-tempat sini, dengan kubu ke luar yang menang dalam referendum, sebagian dengan alasan imigrasi, membuat orang-orang imigran merasa tak begitu aman.

“Dan ada beberapa insiden yang berbau rasial, seperti kita baca di koran, dan di sekitar sini juga, mulai ada,” katanya kepada BBC Indonesia, Senin (27/6).

Di antara insiden yang berbau rasis adalah dugaan adanya grafiti dan kartu yang berbunyi “Tak ada lagi kutu Polandia” yang dikirim ke rumah-rumah.

Pendukung Brexit diyakinkan bahwa Inggris akan mampu membendung arus imigran dari Uni Eropa jika keluar dari organisasi itu. (BBC)
Pendukung Brexit diyakinkan bahwa Inggris akan mampu membendung arus imigran dari Uni Eropa jika keluar dari organisasi itu. (BBC)

Dampak Sehari-hari
Imigran menjadi salah satu tiket penggaet suara bagi kubu yang menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa dengan alasan jumlah mereka terlalu banyak, terutama dari negara-negara Eropa timur yang menjadi anggota Uni Eropa.

Mereka berpendapat arus imigran dapat dibendung jika Inggris keluar dari blok Uni Eropa karena tak akan terikat prinsip pergerakan manusia secara bebas sebagaimana ditetapkan Uni Eropa.

“Di sisi orang yang menang dan merasa menang karena dibenarkan pandangannya tentang imigran itu mengungkapkan dengan cara yang tak begitu nyaman buat imigran. Banyak yang merasa mereka boleh menyuruh orang pulang semata-mata karena orang itu tidak berkulit putih,” jelas Gindo.

Namun tak semua pendatang yang merasa terlalu khawatir dengan kondisi keamanan usai referendum.

Zukni -seorang warga Indonesia yang bergerak di usaha layanan angkutan mobil mewah- misalnya, mengaku belum menyaksikan atau mengalami insiden apa pun sejauh ini.

“Secara umum saya belum bisa merasakan apa-apa yang menjadi efek langsung sekarang dari saya yang berdomisili di sini (London) menyangkut kehidupan sehari-hari,” tutur Zukni.

Bagaimanapun ia tak menafikan kemungkinan dampak bagi para pendatang.

“Ke depan mungkin saya rasa akan ada perbedaan, misalkan dunia usaha atau mungkin kita sebagai orang-orang pendatang yang mungkin nanti akan ada efeknya.”

Menurut dosen senior di SOAS, Universitas London, Ben Murtagh, isu imigran dimainkan secara tak bertanggung jawab oleh sejumlah politikus.

“Sebenarnya Inggris Raya perlu imigran datang ke sini karena sebenarnya tidak cukup orang muda di negara ini jadi perlu imigran supaya ekonomi bisa lebih kuat,” jelasnya dalam wawancara melalui sambungan telepon. (BBC)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.