Sabtu, 23 Oktober 21

IMES: Jelang RUPS, Waspadai Re-organisasi Mafia Migas di PGN

IMES: Jelang RUPS, Waspadai Re-organisasi Mafia Migas di PGN

Jakarta, Obsessionnews – Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Studies (IMES) Erwin Usman menegaskan, dari deretan BUMN pengelola kekayaan alam negara maka Perusahaan Gas Negara (PGN) merupakan salah satu pilar penting, pemasok pundi-pundi keuangan negara sekaligus pilar penting sumber energi alami Indonesia.

“Penunjukan para pemangku kepentingan yang menjabat di PGN otomatis menjadi sangat penting mengingat besarnya pengaruh pengelolaan PGN terhadap keuangan negara dan ujungnya adalah kesejahteraan rakyat, mengingat gas (elpiji) menjadi salah satu sumber energi tidak terbarukan yang mengisi kebutuhan pokok rumah tangga di negeri ini,” tandas Erwin Usman kepada Obsessionnews.com, Senin (23/5/2015).

Menurut Erwin Usman, kinerja PGN yang dua tahun terakhir menunjukkan penurunan dengan hanya mencatatkan laba bersih US$722,75 juta setara dengan Rp9,3 triliun pada 2014, merosot 10,15% dari tahun sebelumnya US$804,45 juta.

“Di bawah kepemimpinan Dirut Hendi Prio Santoso, membuat publik harus membuka mata lebar-lebar terhadap para kandidat yang akan diplot untuk menduduki kursi dirut pada RUPS 6 April 2015 mendatang. Dirut lama akan diganti mengingat sudah 2 periode menjabat di PGN,” ungkap Direktur IMES.

Meski lolos dari pantauan publik, menurutnya, IMES mencatat bahwa sejumlah nama jebolan Pertamina yang beberapa waktu lalu dirombak total oleh Jokowi mengisi bursa kandidat Dirut PGN. Sebut saja nama Hanung Budya (eks Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina) dan Hari Karyulianto (Eks Direktur Gas Pertamina), ditengarai menjadi calon kuat pengganti Hendi. Nama lain juga dari Pertamina yaitu Djohardi Angga Kusumah (saat ini SPV Gas & Power Pertamina) serta Hendra Jaya (Presdir Pertamina Gas / Pertagas) dan Jugi Prajogio (Dirut Pertagas Niaga).

“Dalam catatan IMES sendiri para eks direksi Pertamina cenderung tidak berpeluang mengisi posisi Dirut PGN mengingat rekam jejaknya yang kerap dikaitkan dengan sejumlah kebobrokan di Pertamina selama ini. Hal tersebut pula yang disinyalir menjadi penyebab Jokowi melakukan perombakan total di seluruh jajaran Direksi Pertamina, termasuk menggusur kedua nama tersebut, Hanung dan Hari dari kursi direktur Pertamina,” bebernya.

Sementara kandidat dari jajaran yang menguasai sektor gas Pertamina baik di Pertamina sendiri maupun di Pertagas dan Pertagas Niaga, ungkap Erwin, cenderung merupakan wajah lama yang terkait dengan klik “ITB Connection” yang sebelumnya merajai Pertamina. “Pemerintahan Jokowi sendiri belum menyentuh Pertagas terkait dengan posisi para direksi yang baru 1 tahun menjabat serta belum menorehkan prestasi berarti,” paparnya.

PGN-

Dari paparan di atas, lanjut Erwin, maka poin yang harus diperhatikan oleh pemerintahan Jokowi-JK dalam upayanya menerapkan Nawa Cita di bidang energi adalah tidak memilih para kandidat yang selama ini telah malang melintang di Pertamina dan Pertamina Gas dan ditengarai merupakan bagian dari “mafia minyak dan gas” yang akan diberantas oleh Jokowi. Karena hal tersebut berarti memberi kesempatan mafia migas melakukan re-organisasi di tubuh PGN.

Ia menyatakan, perombakan total seluruh jajaran Direksi Pertamina yang memberi sinyal kuat kepada publik bukti keseriusan Jokowi dalam memberantas mafia migas seharusnya tidak diikuti dengan langkah mundur yaitu menempatkan eks Pertamina tersebut di jajaran Direksi PGN. Karena reformasi di sektor Gas yang seharusnya menjadi rencana berikutnya setelah Pertamina akan mendapat sorotan luas di kalangan publik.

“PGN sendiri dalam catatan kinerja sebenarnya tidak seburuk Pertamina meski sejumlah masalah mulai dari berbagai kasus korupsi yang sempat mencuat namun tidak sampai ke pengadilan hingga Kontrak-kontrak yang ditengarai merugikan negara juga ada di tubuh PGN. Harapan kami, Jokowi mampu menuntaskan hal tersebut,” tambahnya. (Ars)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.