Kamis, 21 Oktober 21

Ilmuwan Ungkap Mengapa Tatapan Lukisan Mona Lisa Seolah Mengikuti Kita

Ilmuwan Ungkap Mengapa Tatapan Lukisan Mona Lisa Seolah Mengikuti Kita
* Lukisan Mona Lisa (Foto istimewa)

Jakarta, Obsessionnews.com – Siapa yang tidak kenal dengan ukisan Mona Lisa karya Leonardo Da Vinci?Lukisan ini sudah sangat familiar di masyarakat. Sebab lukisan ini sering dianggap sebagai salah satu lukisan paling terkenal di dunia dan hanya sedikit karya seni lain yang menjadi pusat perhatian, studi, mitologi, dan parodi. Lukisan ini dimiliki oleh pemerintah Prancis.

Lukisan setengah badan ini menggambarkan lukisan wanita yang tatapannya menuju pengunjung dengan ekspresi yang sering dideskripsikan sebagai enigmatik atau misterius.

Karenanya, banyak orang mengatakan, ketika melihat lukisan Mona Lisa karya Leonardo Da Vinci, mereka merasa tatapan wanita tersebut mengikuti ke mana pun mereka pergi. Hal ini kerap disebut sebagai Efek Mona Lisa.

Melihat fenomena tersebut, para ilmuwan pun penasaran dan ingin mengetahui alasan di balik ‘Efek Mona Lisa’. Dr sebastian Loth, kemudian melakukan penelitian dari Bielefeld University, bersama rekan-rekannya, dengan memperbesar lukisan Mona Lisa lewat pemodelan komputer.

Lukisan abad ke-16 itu diperbesar dari 30% menjadi 70%, sampai yang terlihat hanya mata dan hidung. Totalnya, ada 15 buah gambar yang diperbesar. Tim Loth kemudian meminta 24 partisipan untuk melihat tiga gambar secara acak di komputer.

Hasil studi yang dipublikasikan pada jurnal i-Perspective ini menyatakan bahwa mata Mona Lisa sebenarnya tidak mengamati kita. Ia melihat ke sisi kanan pada sudut 15,4 derajat–tepat di telinga kanan atau melewati bahu kita. Dengan begitu, Mona Lisa tidak menatap audiensnya.

Profesor Gernot Horstmann, pakar gerakan mata dari Departemen Psikologi Bielefeld University, juga membantah tentang Efek Mona Lisa.

“Jadi, jelas bahwa istilah Efek Mona Lisa tidak ada. Itu hanya menggambarkan keinginan besar yang dimiliki manusia untuk dilihat dan menjadi pusat perhatian orang lain, meski Anda tidak saling mengenal,” paparnya.

Ia menambahkan, orang yang melihat lukisan atau gambar, memang merasa diamati jika pandangan mata subyek lukisan dibuat sedikit ke samping.

“Ini seolah-olah subyek yang dilukis melihat ke telinga dan berkorespondensi sekitar lima derajat dari jarak pandang normal. Namun, jika sudut pandang lebih dari itu, Anda tidak mungkin merasa sedang diamati,” pungkas Horstmann. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.