Sabtu, 27 November 21

IKA Unand Bedah Isu Macet Saat Lebaran

IKA Unand Bedah Isu Macet Saat Lebaran

Padang, Obsessionnews – Dialog series dwi mingguan yang diselenggarakan Panitia Kongres Ikatan Alumni Unand‎ (IKA Unand) Padang, Sumatera Baray (Sumbar) memasuki series #4. Pas beberapa hari menjelang lebaran mengusung tema sentral Berlebaran dan Berwisata Minim Kemacetan.

Acara yang dikemas dalam dialog terbuka dan dihadiri kalangan pers tersebut digelar Jumat (24/6). Dialog series sebelumnya membahas tema pendidikan, Pilkada, dan ekonomi kerakyatan di series #3.

Sekretaris Kongres IKA Unand, Harry Effendi didampingi koordinator Humas Sukri Umar dan anggota panitia, Adrian Tuswandi, Alimran, Satriadi serta Yofi menyebutkan, sama dengan series sebelumnya tema kali ini juga akan dikupas tuntas.

“Para pengambil kebijakan yang diundang hadir sebagai pembicara dan sudah menyatakan kesediaan hadir adalah Dirjen Bina Marga Kementrian PU, Hediyanto W Husaini didampi‎ngi Kadis Prasjal dan Tarkim Sumbar Suprapto. Walikota Bukittinggi Ramlan Nurmatias, Bupati Tanahdatar Irdinansyah Tarmizi, dan Bupati Padangpariaman Ali Mukhni, dengan moderator, akademisi Teknin Unand, Inasul Kamil,” ujar Harry sebagaimana rilis yang diterima obsessionnews.com, Minggu (19/6).

Ditambahkan Syukri, tema kali ini, IKA Unand bersama narasunber ingin mengupas lebih tuntas tentang persoalan kemacetan yang selama ini terus terjadi pada waktu waktu tertentu dan pada titik tertentu.

“Apalagi selama lebaran, kemacetan meski dinikmati oleh para perantau yang pulang kampung ataupun para wisatawan, tetapi untuk jangka panjang ini tidak baik bagi citra Sumbar. Kita kan sudah sepakat menjadikan Sumbar sebagai daerah wisata, maka transportasi tak bisa ditawar tawar,” ujar pengrus PWI Sumbar ini.

Kemacetan dan keterbatasan sarana prasarana transportasi sudah menjadi kebutuhan bersama, dan secara bersama sama pula mengatasinya.

“Harus ada sinergi pihak terkait baik pemerintah daerah, pusat, maupun jajaran kepolisian dan dinas perhubungan masing masing daerah yang sangat paham dengan rekayasa lalulintas di tempatnya masing masing,” ujar Harry menambahkan.

Apalagi pemerintah terus berbanah menbangun banyak sarana prasarana mengatasi kemacetan di Sumbar.

“Dan kita harus menyampaikan pula kendaladan permasalahan selama ini untuk dicarikan jalan keluarnya. Pemerintah pusat tentu punya grand design pembangunan daerah dengan penyediaan dana yang memadai. Tetapi disisi lain harus ada komitmen dan keseriusan pemerintah daerah membebaskan lahan yang terkena proyek infrastruktur. Bila selama ini sudah jalan, dimana letak tidak sinerginya‎,” ulas Harry Effendi.

Ketua DPP IKA Unand Prof Fasli Jalal berharap dialog ini terus dipertahankan. Menurutnya bersama sama mencari penyelesaian masalah adalah wujud demokrasi.
IKA Unand harus mengambil peran itu karena dianggap netral dan proporsional melihat persoalan yang muncul di tengah masyarakat. Keprofesionalan dan kenetralan itu yang bisa mempertahankan kualitas dan intensitas diskusi ini ke depan. Jauh dari kepentingan politik dan kepentingan golongan, katanya.

“Demokrasi itu yang kita kemas secara intelektual dalam bentuk dialog, saling memberikan kritik dan masukan. Inilah salah satu kontribusi kita bagi pemerintah, bagi daerah,dan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk Kedjajaan Bangsa,” ujar Fasli.

Guna mengelaborasi dan menyatukan pemahaman dalam membedah persoalan sarana transportasi, pihak panitia menghadirkan sebagai pembanding para pakar transportasi dari Unand. Selain itu dialog yang dilaksanakan di Sekretariat DPP IKA Unand Jalan Kis Mangunsarkoro akan dihadiri para akademisi lintas disiplin ilmu serta mahasiswa dari berbagai jenjang strata pendidikan. Pada dialog series 4 ini panitia mempercayakan moderator pada Dr Insanul Kamil, akademisi Teknik Unand. (Musthafa Ritonga/@alisakinah73)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.