Rabu, 8 April 20

IFFEHC dan Kementerian LHK Gelar Festival Lingkungan Hidup

IFFEHC dan Kementerian LHK Gelar Festival Lingkungan Hidup

Jakarta, Obsessionnews – International Film Festival for Environment, Health, and Culture (IFFEHC) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kementerian LHK) menggelar salah satu festival lingkungan hidup terbesar di Asia Pasifik.

Damien Dematra selaku founder dan director festival berharap festival ini dapat menjadi ajang bagi seluruh pekerja seni yang ingin membuat perubahan lewat film.

“Saya harap dengan adanya festival ini, dapat membangun awareness kepada seluruh masyarakat dunia akan pentingnya menjaga lingkungan hidup,” ujar Damien kepada Obsessionnews, Rabu (25/5/2016).

Acara yang diadakan di Jakarta ini diikuti peserta dari berbagai negara di penjuru dunia. Para pemenang dari festival ini akan diumumkan pada 30 Mei 2016.

Ini Nominasi Film Terbaik IFFEHC tahun ini adalah :
-Brussels, the Wild Side, disutradarai oleh Bernard Crutzen
-HOME, disutradarai oleh Yann Arthus-Bertrand
-My Name is Salt, disutradarai oleh Farida Pacha
-Ruben, disutradarai oleh Frederik Wolff Teglhus & Anders Drud Jordan
-A Knee Up, disutradarai oleh Jeremy Kagan

Home, karya sutradara asal Perancis, Yann Arthus-Bertrand dan diproduseri oleh sutradara kawakan Luc Besson (Taxi, Lucy, Nikita, The Messenger: The Story of Joan of Arc, The Lady, The Fifth Element, Atlantis, dll) merupakan sebuah film dokumenter yang digadang-gadang oleh banyak pihak sebagai ‘film perubah dunia’.

Film ini mengangkat tema tentang lingkungan sekitar kita yang telah rusak dan bagaimana memperbaikinya. Film ini merupakan film yang telah mengubah banyak masyarakat dunia untuk lebih peduli terhadap lingkungan. HOME dinarasikan oleh sang sutradara bersama dengan aktris Salma Hayek, aktris 6 nominasi Oscar; Glenn Close, Jacques Gamblin, dan aktris asal Cina; Zhou Xun.

Calon film pemenang lainnya, My Name is Salt, merupakan film dokumentasi hasil observasi sutradara wanita Farida Pacha terhadap kehidupan dan pergulatan keluarga petani garam di sebuah daerah gurun di Gujarat, demi menghasilkan garam terbaik.

Film yang dibuat dalam rentang waktu delapan bulan ini menyuguhkan sinematografi yang apik dan ‘menghipnotis’ tentang kesederhanaan, kerja-keras, kegetiran, dan proses menghasilkan garam itu sendiri.

Film-film ini bersaing ketat dengan film karya Jeremy Kagan, A Knee Up. Jeremy Kagan sendiri merupakan petinggi Directors Guild of America yang merupakan suatu asosiasi yang menaungi seluruh sutradara di Amerika Serikat. Film A Knee Up sendiri merupakan film pendek tentang seorang ayah yang sedang ‘galau’ karena harus menjalani operasi lutut, sehingga menjadi uring-uringan terhadap keluarganya.

Sementara, kandidat pemenang lainnya adalah film Ruben karya sutradara Frederik Wolff Teglhus & Anders Drud Jordan, yang mengisahkan seorang laki-laki yang tidak dapat membayangkan hidupnya apabila ia tidak tinggal di hutan.

Festival ini juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) yang dilakukan oleh Kementerian LHK.

World Environment Day dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan peringatannya dilakukan secara mendunia setiap tanggal 5 Juni.

Festival ini bekerjasama dengan Asia Pacific International Filmmakers & Awards (Apifa), World Film Awards (WFA) dan International Film Festival For Family, Against Drug Abuse & Trafficking (IFADAT), serta mendapat dukungan penuh Dewan Kreatif Rakyat (DKR), Russian Culture Centre, World Film Council, i-Hebat International Volunteers dan Yayasan Peduli Anak Indonesia, dan Radio Republik Indonesia sebagai media partner. (Popi Rahim)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.