Sabtu, 16 Oktober 21

Idealisme yang Disuap

Idealisme yang Disuap

Oleh: Ustadz Felix Siauw, Pengemban Dakwah/Ustadz etnis Tionghoa

 

Benarkah radikalisme dan intoleransi ialah masalah Indonesia? Lebih jauh lagi, memang ada radikalisme dan intoleransi? Atau ini hanya dibuat-buat dan digenting-gentingkan?

Bicara toleransi, kita melihat justru negeri kita sangat toleran, tak ada di sini demo anti agama selain Islam, tidak seperti di Prancis atau Amerika yang pernah demo anti-Islam.

Indonesia sangat menerima perbedaan, bahkan akrab dengan itu, tidak ada masalah. Yang tidak bisa diterima adalah adanya keserakahan dan kedzaliman, penjajahan.

Parahnya, radikalisme dan intoleransi ini dituduhkan pada Islam dan kaum Muslim, yang justru kalau dilihat secara benar, adalah korban dari penguasa yang jauh dari adil.

Padahal kita lihat, korupsi KTP 2.5 triliun, penjualan BUMN, begitu juga kesenjangan dimana 4 orang paling kaya setara kekayaan 100 juta orang, tak ada urusan dengan Islam.

Begitu juga separatisme yang ada di satu tempat, pembakaran Masjid, serangan di Kemendagri baru-baru ini tidak digolongkan sebagai radikalisme, lagi-lagi standar ganda.

Lalu tiba-tiba, di tengah-tengah masalah yang sangat banyak yang diakibatkan buruknya kinerja penguasa, lalu disalahkanlah Islam dan kaum Muslim yang jadi biangnya.

Siapa yang disebut intoleransi dan radikal? Yaitu mereka yang Muslim yang mau berhukum dengan syariat, misal memiliki pemimpin yang Muslim, bukan kafir.

“Bangsa ini perlu diselamatkan dari radikalisme dan intoleransi!” Kata mereka. Sementara yang berteriak-teriak begitu merampok negeri demi kekayaan pribadi dan partainya.

Lalu entah siapa yang bertanggung jawab, mahasiswa seolah dipaksa menelan paham-paham yang gagal ini, seolah ingin ditampakkan bahwa masalah negeri ini adalah Islam.

Membenahi sesuatu perlu konsep, tapi memahami ada yang salah hanya perlu nurani. Para mahasiswa, iyakah masalah bangsa ini adalah radikalisme dan intoleransi?

Ataukah masalah negeri ini adalah kerakusan dan keserakahan mereka yang sekarang justru menjual negeri? Tak cukupkah fakta-fakta di depan mata kita?

Berjuanglah demi keadilan. Tapi bila ingin lebih, berjuanglah sebab sumpah yang paling berarti, syahadatain itu. Maka balasannya bukan hanya dunia tapi surga. (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.