Jumat, 17 September 21

Idealisme Kelas Menengah Ngehek adalah Menyebalkan

Idealisme Kelas Menengah Ngehek adalah Menyebalkan

Oleh: Anonymous1946, Aktivis

 

Pasca vonis 2 tahun penjara yang dijatuhkan hakim kepada gubernur kalah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), sekumpulan relawan dan pendukung Ahok menggelar drama yang memalukan.

Mereka menggerakan aksi massa tanda keberatan atas vonis hakim terkait kasus penistaan agama yang dilakukan ahok di kepulauan seribu beberapa waktu yang lalu.

Masalahnya, bukanlah di demonstrasi dan kebebasan berpendapat di muka umum. Tapi isu dan propaganda yang diusung merupakan propagandanya kelas menengah ngehek yang juga merupakan kaum liberal. Dengan serampangan mereka, kelas menengah ngehek mengatakan bahwa keadilan di NKRI telah mati, Jakarta sebagai kota maju tapi penduduknya bodoh dan mundur kebelakang …blablabla..dan sederet umpatan kekecewaan lainnya saat sang “idola” kalah dalam kontesasi Pilgub Jakarta.

Idealisme kelas menengah ngehek ini menyebalkan. Hanya karena mereka kecewa idolanya kalah Pilkada dan di vonis penjara 2 tahun, mereka menyerang secara brutal orang-orang yang tak sepemahaman dengan mereka yang merupakan pendukung buta Ahok. Tuduhan mereka bagi orang yang tak mendukung ahok adalah anti Pancasila, anti Bhinneka tunggal ika, menggunakan agama demi kepentingan politik. Bla..bla..bla…bla…

Pertanyaannya kemudian adalah, saat Ahok menggusur pemukiman warga yang sedang dalam proses gugatan hukum, mereka kelas menengah ngehek kemana? Tidak ada teriakkan dari mereka tentang keadilan di NKRI telah mati.

Saat Ahok menyakiti perasaan warga, tak mengajak warga bermusyawarah tentang ide pembangunan kota yang merupakan sila dalam Pancasila, mereka kemana? Jadi siapakah yang sejatinya anti Pancasila?

Lalu saat 90% etnis tionghoa dan nonmuslim memilih Ahok sedang 55% muslim Jakarta memilih Anies-Sandi, siapakah yang sebenarnya menggunakan SARA demi kepentingan politik?

Bahkan, menjadikan kasus vonis 2 tahun penjara Ahok dengan idiom ” keadilan di NKRI telah mati” adalah sebuah pembodohan yang lahir dari kebodohan kelas menengah ngehek. Menjadikan kasus vonis hukuman Ahok dan menyandingkannya dengan NKRI akan membuat Indonesia dipandang rendah dan memalukan di mata dunia. Pasalnya, Ahok secara serampangan didaulat oleh pendukung buta nya sebagai simbol dari “Indonesia banget”.

Indonesia yang terkenal sebagai bangsa ramah di dunia di sandingkan dengan Ahok yang bertutur kata kotor dan kasar bahkan terhadap orang tua yang miskin. Dimana “Indonesia banget” nya?

Indonesia sebagai negara berlandaskan Pancasila, disandingkan dengan Ahok yang memimpin jauh dari prinsip nilai Pancasila, dimana “Indonesia banget” nya?

Sekali lagi, idealisme kelas menengah ngehek ini menyebalkan. Pendidikannya yang cukup tinggi dan mengenal bahasa intelektual, mereka menyatakan sikap politik yang terkesan ideologis, yakni mengkaitkannya dengan Pancasila, dan pluralism. Padahal, dasar sikap politiknya hanyalah berdasar pada suka atau tidak suka kepada salah satu tokoh. Ini telah mereka tunjukkan dalam dukungan buta nya terhadap Ahok yang dicitrakan oleh neoliberalisme sebagai “pahlawan bersih yang berani”.

Dengan skenario pencitraan yang massif bahwa dunia international memberikan banyak penghargaan untuknya. Bertolak belakang dengan penilaian dalam negerinya terkait prestasi kepemimpinan daerah dan kepuasan masyarakat yang dipimpinnya. Dan ini di buktikan dengan kalahnya dia dalam kontesasi Pilkada DKI Jakarta 2017. (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.