Rabu, 12 Agustus 20

Ical Orang Kaya yang Banyak Utang

Ical Orang Kaya yang Banyak Utang

Jakarta – Rapat Pleno Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar yang berlangsung pada Selasa malam (25/11) ricuh. Kondisi ini membuat Mahkamah Partai memutuskan mengambil alih Partai Golkar di bawah kepemimpinan Aburizal Bakrie (Ical) dengan membentuk presidium penyelamat partai.

Ketua Mahkamah Partai Muladi kemudian menunjuk Wakil Ketua Umum Agung Laksono sebagai Ketua Presidium dengan beranggotakan tujuh  calon Ketua Umum Golkar lainya, yaitu Priyo Budi Santoso, Hajriyanto Tohari, Zainudin Amali, Agus Gumiwang, Yorrys Raweyai, Agun Gunandjar Sudarsa, dan Ibnu Munzir.

Konflik di internal Golkar yang berujung pada kontak fisik antara masing-masing kader menandakan bahwa Partai Golkar di bawah nakoda Ical ‎tidak menjadikan Golkar kuat dan solid dalam memperjuangankan kepentingan politiknya secara nasional, sekaligus menambah banyak masalah yang di hadapi oleh Ical. Pasalnya, selain dikenal sebagai pengusaha kaya raya Ical juga disebut-sebut banyak memiliki hutang.

‎Pertama, Pemilik usaha Bakrie Grup itu sampai saat ini masih menyisakan hutang kepada para korban lumpur Lapindo di Sidoarjo Jawa Timur. Utuang tersebut mencapai  Rp 1,2 triliun yang terdiri Rp 786 miliar untuk korban di dalam peta area terdampak dan Rp 470 miliar bagi pengusaha yang pabriknya tenggelam.

Direktur Utama PT Minarak Lapindo Jaya, Andi Darussalam Tabusalla, mengakui bahwa bahwa perusahaan memiliki banyak hutang ‎terhadap para korban. Tapi di sisi lain tidak memiliki keuangan yang cukup untuk melunasi hutang-hutang tersebut. “Kami harapkan (dari) pemerintah untuk dapat pinjaman,” katanya.

Kedua, kelompok usaha Bakrie Grup itu juga telilit hutang kepada sejumlah kreditor. Tercatat ada tiga anak perusahaan perseroan PT Bumi Resources Tbk yakni, Bumi Capital Pte Ltd,‎ Bumi Investment Pte Ltd dan Enercoal Resources Pte Ltd‎ telah mengajukan penundaan pembayaran utang sebesar US$ 1,375 miliar atau setara Rp 16,7 triliun.

Mereka telah mengajukan mengajukan permohonan di Singapura untuk mengikuti proses peradilan formal sesuai dengan Undang-Undang Perusahaan dari Negara Singapura guna merestruksisasi kembali kewajiban untuk membayar hutang-hutang tersebut.

Hasilnya, ketiga perusahaan tersebut berhasil mendapat keringanan pembayaran utang selama enam bulan untuk menghadapi upaya hukum paksa yang dapat dilakukan oleh kreditor. Hal itu juga sekaligus untuk memfasilitasi pembicaraan dengan para pemegang surat utang (noteholders) dan pemegang obligasi (bondholders) yang memiliki kewenangan untuk melanjutkan proses restrukturisasi.

Sebelumnya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga tercatat memiliki hutang sebesar sebesar US$ 1.989 juta atau Rp 23,77 triliun dengan PT China Investmen Corporation (CIC). Kondisi ini yang akhirnya membuat BUMI.

Adplus‎ mengalihkan 19 persen saham senilai US$ 950 juta di PT Kaltim Prima Coal (KPC) kepada perusahaan CIC.

Perusahaan BUMI Dileep Srivastava mengatakan Utang tersebut terdiri atas pokok utang, bunga yang ditangguhkan, dan penalti atas pelunasan yang dipercepat. “Setelah pengalihan ini, utang kami tersisa US$ 1.039,” kata Dileep dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Kamis, (3/7/2014).

Ketiga, hutang Bakrie Grup sudah terlalu banyak. Bahkan perusahaan milik Ical ini memiliki hutang pajak kepada negara mencapai Rp 21 triliun. Direktorat Jendral Pajak Kementerian Keuangan pernah menyatakan bahwa tiga perusahaan yang tergabung dalam Bakrie Grup belum melunasi hutang-hutang tersebut.

Ketiga perusahaan tersebut yakni, PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Bumi Resourches Tbk, dan PT Arutim. ‎Direktur Intelejen dan Penyelidikan Ditjen Pajak Pontas Pane menjelaskan tunggakan yang harus dibayar oleh Bakrie Grup itu merupakan nilai SPT (surat pemberitahuan tahunan) pajak tahun 2008 dan tahun 2007.

“‎Itu untuk Bumi Recources Rp 948 miliar, KPC Rp 828 miliar dan sisanya Arutmin,” katanya, Jumat (4/6/2014).

Sementara itu, Direktur Eksekutif Kata Data, Metta Dharmasaputra menambahkan, bahwa kemungkinan Bakrie akan susah melunasi hutang-hutangnya. Pasalnya, harga batubara dunia cenderung menurun setiap tahun. Harga batubara merosot dari kisaran US$ 140 per ton pada awal 2011 menjadi di bawah US$ 90 per ton.

“Aset tiga perusahaan Bakrie (pemilik utang terbesar) batubara,” katanya. (Abn)

 

Related posts