Senin, 23 September 19

Ibu Negara Iriana Joko Widodo Peduli Terhadap Berbagai Hal

Ibu Negara Iriana Joko Widodo Peduli Terhadap Berbagai Hal
* Iriana Joko Widodo. (Foto: Istimewa)

Di balik kesederhanaan dirinya, Iriana begitu menjunjung tinggi nilai-nilai  luhur, peduli perempuan  maupun anak, dan mencintai produk lokal.

 

Kesuksesan seorang pria, tak hanya didukung kemampuan diri dan tim yang solid. Tapi juga berkat adanya sosok istri nan setia menemani saat duka maupun suka dari awal berkarier, hingga mencapai puncak keberhasilan. Begitu pun dengan Presiden Republik Indonesia Jokowi Widodo, ada figur sederhana Iriana Jokowi yang berperan besar terhadap kesuksesannya selama ini.

Ibu dari Kaesang Pangarep, Gibran Rakabuming Raka, Kahiyang Ayu ini memiliki catatan istimewa tersendiri soal kedekatannya terhadap rakyat Indonesia. Sejak berkegiatan sebagai First Lady di Surakarta, dia telah bersentuhan dengan beragam aktivitas pemberantasan kemiskinan dan peduli dengan ‘wong cilik’. Ini terlihat jelas pada sikap maupun caranya menyapa rakyat di setiap pelosok negeri. Rekam jejaknya bersama sang suami yang jatuh bangun dalam meniti hidup menjadi alasan kuat tumbuhnya empati dalam dirinya.

Kesederhanaannya terlihat dari penampilan dan kebiasaan sehari-hari. Meskipun istri seorang presiden, dia tak gengsi atau malu berbelanja di warung tradisional dan sudah menjadi kebiasaannya membeli snack kiloan sendiri di pasar. Lain dengan ibu-ibu pada umumnya yang senang belanja sayur di mal, Iriana suka berbelanja di pasar tradisional sambil meninjau kondisi setempat.

Dia juga tidak tabu bertandang ke warung kaki lima dan membagikan makanan ke orang-orang sekitar sambil berinteraksi dengan mereka.

Menjadi istri presiden tidak mengubah gaya hidupnya berubah hedonis. Iriana tetap seorang perempuan Solo yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan mencintai produk lokal. Lahir dan besar di Surakarta membuatnya jatuh cinta pada batik. Terlebih lagi saat menjadi tokoh publik, dia rajin memperkenalkan dan mengajak masyarakat untuk menggunakan batik sebagai warisan

Nusantara. Tak heran dia lebih memilih mengenakan baju kurung dan kain batik motif parang buketan dengan selendang ragam tumpal, ketika mendampingi Presiden Joko Widodo di Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Jepang beberapa waktu lalu. Sementara para ibu negara lain mengenakan summer dress berupa baju terusan selutut.

Di dalam negeri sendiri menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, dalam acara pameran batik, dia bersama suaminya tampak ikut membatik bersama 74 perempuan pembatik di Stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) Bundaran HI.

Tak kalah penting persoalan penyalahgunaan narkoba termasuk menjadi perhatian serius Iriana, karena dampak yang ditimbulkan tak hanya menjadi beban berat keluarga dan lingkungan, tapi masa depan negara pun turut terancam. Begitu pun dengan masalah penyakit kanker yang menyerang banyak kaum Hawa di Tanah Air.

“Salah satu yang kami lakukan bersama para istri menteri Kabinet Kerja yang tergabung dalam Organisasi Aksi Solidaritas Kabinet Kerja atau OASE Kabinet Kerja adalah meninjau kegiatan IVA test dan sosialisasi deteksi dini kanker di Puskesmas Karangmalang, Kecamatan Mijen, Kota Semarang,” ujarnya.

Dilanjutkan dengan sosialisasi dan edukasi bahaya narkoba di aula SD Islam Al Azhar 29 BSB, di kecamatan yang sama. Ketika bertemu dengan siswa sekolah dasar, Iriana mengingatkan tentang bahaya narkoba dan tak lupa menggalakkan gerakan minum susu. Dia berkata,“Saya berharap ibu-ibu tidak perlu takut menjalani tes kesehatan untuk mencegah kanker rahim dan payudara. Mengingat program ini telah dicanangkan sebagai program nasional yang ditujukan untuk mengurangi angka kematian pada perempuan akibat kanker.”

Kasus kekerasan terhadap kaum Hawa dan anak saat ini pun cukup tinggi, mayoritas berupa Kekerasan Terhadap Rumah Tangga (KDRT) dan perkosaan. Kekerasan yang dilakukan oleh pria terhadap perempuan disebabkan banyak hal.

Iriana menambahkan, “Di antaranya karena berada dalam kondisi tidak sadar, akibat mabuk atau dalam pengaruh narkoba, alasan ekonomi sampai masalah keluarga. Marilah kita bersatu padu untuk memeranginya, turut menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak. Karena telah banyak membawa duka, sekaligus trauma mendalam bagi yang menimpanya.” (Elly Simanjuntak)

 

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Women’s Obsession Edisi Agustus 2019 dengan tema “17 Perempuan Tangguh 2019”

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.