Rabu, 20 Oktober 21

IAIN Syekh Nurjati Ajarkan Mata Kuliah Cirebonology

IAIN Syekh Nurjati Ajarkan Mata Kuliah Cirebonology
* Rumah Moderasi IAIN Syekh Nurjati Corebon. (Foto: kemenag.go.id)

Cirebon, obsessionnews.com –  Seluruh jurusan di IAIN Syekh Nurjati menerapkan mata  kuliah yang mengusung kearifan lokal dalam merealisasikan nilai-nilai moderasi beragama. Mata kuliah tersebut diberi nama Cirebonology.

Baca juga:

Luar Biasa! Jurnal ‘Al-Ihkam’ IAIN Madura Tembus Scopus

IAIN Kerinci Peroleh Anggaran SBSN Rp 42,1 Miliar untuk Bangun Gedung Perkuliahan Terpadu

Hal itu dikemukakan Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon Sumanta Hasyim seperti dikutip obsessionnews.com dari keterangan tertulis Humas Kementerian Agama, Jumat (24/9/2021).

“Di IAIN Syekh Nurjati setiap jurusan mengajarkan mata kuliah Cirebonology. Ilmu tentang kecirebonan,” kata Sumanta.

Ia menjelaskan rumah Moderasi Beragama (MB) di IAIN Syekh Nurjati sudah lama keberadaannya. Uniknya, di-launching oleh dua Menteri Agama, yakni Lukman Hakim Saifuddin dan
Fachrur Razi.

Rumah MB ini didirikan untuk membawa misi, bahwa ajaran-ajaran Islam itu adalah untuk menampilkan wajah keragaman, rahmatan lil alamin, dan menjunjung kearifan lokal.

“Dalam mengusung budaya lokal, kita sudah banyak melakukan kerja ama dengan pihak-pihak terkait, semisal kerja  sama dengan Keraton Yogyakarta, para budayawan, dan lainnya,” kata Sumanta.

Bahkan, lanjutnya, pada 25 September 2021 akan diadakan dialog budaya dan agama dalam konteks menggali dan mengupas tradisi lokal yang mencerminkan nilai-nilai kerukunan di tengah masyarakat.

Pada dasarnya, tutur Sumanta, adab itu tidak terpisahkan dari nilai tradisi-tradisi yang baik. Semisal kebiasaan masyarakat Cirebon dalam memuliakan tamu. Dan itu juga dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Saw.

“Tradisi di masyarakat Cirebon, contohnya, tidak afdol jika menjamu tamu tanpa kepala kambing. Namun, tradisi ini juga tergantung budaya yang berkembang di daerah masing-masing,” tutur Sumanta.

Bagi Sumanta di sinilah pentingnya, para akademisi di lembaga-lembaga pendidikan, utamanya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, untuk terus mensyiarkan bahwa kearifan lokal itu sebagai khasanah yang perlu dilestarikan.

“Di Cirebon ini kaya akan tradisi lokal. Contohnya azan tujuh orang. Tradisi ini dilakukan untuk menolak bala. Dulu ada pandemi yang melanda masyarakat Cirebon, untuk meredam pandemi ini dilakukan azan 7 orang,” cerita Sumanta.

Selanjutnya ada tradisi panjang jimat. IAIN Syekh Nurjati Cirebon terus berusaha untuk menampilkan ke publik atas warisan-warisan keraton, selain sebagai wahana untuk melestarikan budaya. Dan masih banyak lagi tradisi budaya yang perlu digali dan diungkit serta diangkat.

“Hal-hal demikian ini bisa nantinya didapatkan di Pusat Cirebon Corner, Perpustakaan di kampus pusat IAIN Syekh Nurjati,” ujarnya. (red/arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.