Rabu, 16 Oktober 19

Hukuman Kebiri Kimia, Fahira: Tidak Ada Ruang Bagi Predator Anak di Negeri Ini

Hukuman Kebiri Kimia, Fahira: Tidak Ada Ruang Bagi Predator Anak di Negeri Ini

Jakarta, Obsessionnews.com – Hukuman kebiri kimia kepada terdakwa pemerkosa 9 anak di Mojokerto, Jawa Timur (Jatim),  akan menjadi babak baru upaya perlindungan anak di Indonesia. Hukuman yang baru pertama kali diterapkan ini adalah bentuk keseriusan negara yang telah mengategorikan kekerasan seksual kepada anak sebagai kejahatan luar biasa setara dengan kejahatan narkoba, terorisme, dan korupsi.

 

Baca juga:

Hukuman Kebiri Punya Dasar Hukum yang Kuat

Ratusan Kucing di Jakarta Dikebiri Karena Populasinya Semakin Banyak

Perppu Kebiri Disahkan, Indonesia Berpotensi Jadi Negeri Ramah Anak

 

Aktivis perlindungan anak yang juga  Anggota DPD RI Fahira Idris mengatakan, ini peringatan keras bagi semua predator anak. Lebih baik bertobat karena ia yakin hukuman kebiri kimia ini akan menjadi pertimbangan hakim-hakim lain di seluruh Indonesia untuk mengadili kasus predator atau pemerkosa anak lainnya.

“Tidak ada ruang bagi predator anak di negeri ini,” ujar Fahira di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (27/8/2019).

Ia mengapresiasi gebrakan yang dilakukan Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto yang dikuatkan Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya karena tegas menjalanakan amanat Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak yang awalnya Perppu tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Perppu ini keluar karena ada keterdesakan semakin maraknya kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia.

Dalam UU ini, tutur Fahira, selain sanksi hukum maksimal terhadap pelaku kekerasan seksual terhadap anak mulai dari hukuman mati dan seumur hidup, terdapat juga tambahan hukuman kebiri kimia bagi terdakwa yang terbukti menjadi predator anak.

“Saya mengapreasiasi PN Mojokerto dan PT Surabaya atas gebrakan ini. Putusan kebiri kimia pertama ini menandakan negara hadir untuk memerangi kekerasan terhadap anak yang angka terus meningkat. Saya yakin, kebiri kimia ini berdampak signifikan terhadap upaya kita menurunkan dan menghilangkan kekerasan seksual terhadap anak,” tukas Senator Jakarta ini.

Terkait terkait sikap Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jatim yang menolak menjalankan kebiri kimia, Fahira meminta Menteri Kesehatan dan pihak terkait mencari jalan keluar agar kebiri kimia bisa terlaksana karena sudah merupakan perintah pengadilan dan amanat UU Perlindungan Anak. Opsi menggunakan dokter dari satuan kepolisian untuk melakukan kebiri kimia bisa menjadi salah satu pertimbangan.

Sebagai informas, Aris (20), pemuda asal Dusun Mengelo, Desa Sooko, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, harus menjalani hukuman kebiri kimia setelah terbukti melakukan perkosaan terhadap 9 anak. Selain itu Aris juga didenda Rp 100 juta, subsider 6 bukan kurungan. Putusan pidana 12 tahun kurungan dan kebiri kimia sudah inkrah berdasarkan putusan Pengadilan Tinggi Surabaya dengan nomor 695/PID.SUS/2019/PT SBY dan tertanggal 18 Juli 2019. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.