Kamis, 8 Desember 22

Hubungan Mega-Ahok dan Pilkada DKI Jakarta

Hubungan Mega-Ahok dan Pilkada DKI Jakarta

Oleh: Sansulung Darsum *)

Bagaimanakah sebaiknya kita menyikapi polemik pencalonan Ahok di pilkada 2017? Saya mencoba membedahnya dari sisi hubungan Mega dengan Ahok.

Sebelumnya, ketidakhadiran Heru di acara Teman Ahok Fair bulan lalu serta merta disambar untuk menimbulkan kegamangan di antara pendukung Ahok independen. Isunya, Heru mundur.

Ahok santai saja menanggapi isu tersebut dengan cara becanda memakai diksi-diksi “mengalah”, “selingkuh”, “talak tiga”, dan lain-lain.

Selain itu, Heru pun mendapat tekanan agar mundur dari rencana pencalonan tersebut. Termasuk ancaman kriminalisasi terhadap dirinya dengan kasus yang  tak terkait langsung dengannya. Sementara itu, elite-elite PDI-P juga bergerilya dengan membangun opini melalui media massa maupun buzzer media sosial (medsos). Ada yang  dengan tekanan halus, gertakan terbuka, ataupun menyebarkan rasa cemas akan resiko independen.

Hubungan khusus Ahok dengan Mega pun tak pelak menyemarakkan spekulasi di antara para pengamat dan pendukung Ahok.

Ahok sendiri sering bilang dirinya adalah “orangnya” Mega, seraya membedakan hubungannya dengan PDI-P.

Di acara MataNajwa On Stage Sabtu pekan lalu, Ahok pun mengaku makan malam bersama Mega lagi pada malam sebelumnya (3 Juni). “Itu biasa, tapi soal independen mah jalan terus,” tegas Ahok.

Hari Selasa (7 Juni), Ahok membocorkan percakapannya dengan Mega di akhir pekan tersebut.

“Kalian itu sudah baik berdua,” begitu kata Mega yang ditirukan oleh Ahok.

Maksud dari berdua adalah berpasangan dengan Djarot.

“Ini kan sudah terlanjur, Bu,” jawab Ahok kepada Mega.

Ahok pun mengaku Mega tidak pernah memaksanya.

“Bu Mega cuma bilang begitu. Saya tahu beliau pasti akan memberikan gubernur terbaik bagi warga DKI. Kita tinggal tunggu keputusan beliau saja,” kata Ahok kepada wartawan. ‘Orang’ beliau belum putusin kok,” lanjut Ahok.

Sekarang, mari kita coba membuat daftar kemungkinan keputusan Mega dan konsekuensi yang menyertai keputusan tersebut.

Pertama, Mega memutuskan agar PDI-P mendukung Ahok-Heru di jalur independen. Dalam hal ini, bisa juga terjadi kemungkinan Heru masuk menjadi kader PDIP.

Kemungkinan kedua keputusan Mega adalah mengusung Ahok-Djarot via PDI-P, jika Ahok-Heru gagal mendaftar indenpenden. Jika Ahok-Heru gagal sebelum mendaftar, maka Ahok masih bisa diusung oleh PDI-P, berpasangan dengan Djarot.

Kemungkinan keputusan Mega yang ketiga adalah mengusung kader PDI-P, antara lain Risma dan Djarotl. Jadi berhadapan dengan Ahok-Heru. Dalam hal ini, Mega bisa main dua kaki. Siapapun yang menang, kader PDIP atau Ahok, Mega tetap menang. Sebab  Ahok adalah “orangnya” Mega juga, seperti penuturan Ahok sendiri. Jika keputusan terakhir ini yang diambil oleh Mega, hendaknya kita apresiasi. Ada baiknya ada kader PDI-P yang mengambil alih suara pemilih Ridwan Kamil, daripada jatuh ke pihak yang sulit kita percayai. Andaipun Risma/Djarot bisa menang, tak masalah toh?

Dari sisi Ahok sendiri, dia benar-benar nothing to loose. Menang atau kalah dalam pilkada, tidak masalah baginya pribadi. Bukan jabatan gubernur yang menjadi tujuannya, tapi transformasi Indonesia dari keterpurukan akibat korupsi. Malahan, Ahok pernah mengatakan, kalau sampai digagalkan ikut pilkada 2017, maka dia akan mendukung calon yang akan diusung oleh Mega.

Mari kita apresiasi keputusan Ahok saat ini untuk maju di jalur independen. Demikian juga, apapun keputusan Mega, kita apresiasi. Kita wujudkan pilkada berkualitas, memilih yang terbaik dari yang baik. Saling apresiasi walau berseberangan.

*) Fasilitator KoinHoki (Koalisi Indonesia Hoki).

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.