Minggu, 20 Januari 19

Susahnya Ungkap Teror KPK, ke Mana Polisi?

Susahnya Ungkap Teror KPK, ke Mana Polisi?
* Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo memberikan pernyataan pers soal kasus teror pimpinan KPK. (Foto: Kompas)

Jakarta, Obsessionnews.com – Bekerja di KPK ternyata tidak seenak yang dibayangkan. Sebab kinerja positif mereka kerap dibalas dengan serangan aksi teror. Seperti teror di rumah Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua Laode Muhammad Syarief yang belum lama ini terjadi. Teror seakan menjadi momok yang menakutkan untuk mengganggu kinerja KPK.

Bersyukur meski teror yang dialami pegawai, pejabat maupun pemimpin KPK sudah terjadi kesembilan kali, tidak lantas menyurutkan semangat mereka dalam memberantas korupsi di negeri ini. Namun, sayangnya dari berbagai macam rangkaian serangan teror itu, tidak ada satupun yang berhasil diungkap polisi. Hal ini menjadi tanda tanya besar, ke mana saja polisi?

Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo menilai terjadi kasus teror pimpinan KPK adalah imbas dari banyaknya kasus teror yang belum terselesaikan, seperti kasus teror penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan. Karena tidak terselesaikan membuat orang terus berani melakukan aksi teror.

“Kami sudah memprediksi itu. Pasti kalau kasus Novel tidak terungkap, pasti mereka akan meneror terus,” ungkap Yudi belum lama ini.

Pesan lain yang ingin disampaikan lewat serangan di rumah dua pimpinan KPK itu, menurut Yudi Purnomo, yakni bekerja di KPK teror tidak hanya mengancam dirinya tapi juga keluarganya. Sebab yang diserang adalah rumah mereka dan dilakukan oleh orang profesional.

“Kalau berdasarkan temuan Komnas HAM yang kemarin disampaikan terkait kasusnya bang Novel, memang pelaku-pelaku ini orangnya profesional, sistematis, terorganisir, jadi memang polisi kesulitan sekali mengungkapkan kasus ini karena orang-orang ini mampu menghilangkan jejak,” ujar Yudi.

“Misalnya CCTV yang dipasang di seluruh tempat pimpinan dan pegawai KPK yang rawan diteror, mereka mampu mengelabui. Ataupun kayak di rumah Bang Afif, ketahuan orangnya, jelas, tapi ternyata tidak ketangkap. Sidik jari pun mereka tidak meninggalkan,” paparnya.

Artinya Yudi menilai, aksi teror ini tidak berdiri sendiri, ada rangkaian tak terpisahkan dari teror-teror sebelumnya. Sebab polanya selalu berulang. Yang patut disayangkan kata dia, polisi tidak mampu mengungkap kasus ini.

“Misalnya ini pake bom. Yang dulu penyidik Afif juga diduga bom. (Pelaku) Novel ada dua orang. Ini di rumah Pak Syarif juga dua orang. Terus menggunakan motor,” ungkap Yudi.

Hal serupa diutarakan pakar hukum dan HAM Bivitri Susanti. Anggota Dewan Pengurus Transparency International Indonesia ini juga berpendapat, bahwa aksi teror yang menyasar pimpinan atau anggota KPK selama ini bukan untuk melenyapkan mereka, namun untuk mengganggu kinerja mereka.

Selain teror ke rumah dua pimpinan KPK ini, teror-teror lain yang pernah dialami oleh anggota atau pimpinan KPK antara lain penyerbuan ke rumah pimpinan KPK, ancaman bom ke pemimpin dan penyidik KPK, penyiraman air keras ke kendaraan milik penyidik, serta pegawai KPK.

Kemudian berlanjut pada perampasan perlengkapan milik penyidik KPK, penangkapan dan penculikan penyidik yang sedang bertugas. Namun lagi-lagi tak ada satu pun dari kasus-kasus ini yang berhasil diselesaikan oleh polisi.

“Tidak salah ketika kita kemudian bertanya-tanya apa yang menyebabkan pihak kepolisian atau pihak-pihak lainnya tidak mau mengusut kasus-kasus seperti ini. Apakah mereka jadinya bisa dikaitkan atau berada di jejaring yang tidak suka dengan efektivitas kerja KPK? Tidak salah jika kita bertanya seperti itu,” kata Bivitri Susanti.

Bivitri memberikan catatan bahwa kasus ini harus bisa diungkap polisi, karena jika tidak aksi teror akan terus berlanjut. Pelakunya harus dihukum seberat-beratnya agar bisa memberikan efek jera. “Kalau ini tidak diusut, mulai dari kasus Novel hingga kasus yang kemarin, teror-teror ini akan terus terjadi.”

Sementara itu juru bicara kepolisian RI Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, bahwa kesulitan setiap kasus itu berbeda-beda. Namun untuk kasus teror serangan yang terjadi di rumah dua pimpinan KPK pada Rabu (9/1/2019) dini hari, kepolisian masih mendalaminya.

“Tetap komitmen kita, akan sesegera mungkin menuntaskan setiap kasus, bukan kasus ini saja, semuanya menjadi atensi dan semuanya memiliki tingkat yang sama, akan kita selesaikan setuntas-tuntasnya”, kata Dedi.

Diketahui sebuah bom palsu diletakkan di rumah Ketua KPK Agus Rahardjo di Kota Bekasi dan dua bom molotov dilemparkan ke rumah Laode Syarif di Kalibata, Jakarta Selatan. Kedua insiden itu terpaut beberapa jam. Presiden Jokowi sudah mengintruksikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk menuntaskan kasus ini. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.