Minggu, 20 Januari 19

Seru! Perseteruan Mahfud dengan Andi Arief Sampai Bawa Nama SBY

Seru! Perseteruan Mahfud dengan Andi Arief Sampai Bawa Nama SBY
* Mahfud MD dan Andi Arief.

Jakarta, Obsessionnews.com – Pernyataan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD di Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Rabu (8/1/2019) soal netralitas Komisi Pemilihan Umum (KPU) mendapat tanggapan sinis dari Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief. Dalam program ILC bertema ‘Menguji Netralitas KPU,” Mahfud tidak hanya bicara soal bocoran materi debat capres-cawapres dan visi misi yang dihilangkan, namun juga menyangkut sengketa pemilu.

Hal yang membuat Andi geram sampai menuduh pernyataan Mahfud berbahaya adalah menyangkut perbedaan jumlah suara dalam sengketa pemilu. Mahfud menyatakan jika jumlah sengketa suara pemilu tidak signifikan, maka tidak bisa dijadikan alasan untuk membatalkan pemilu. Logika Mahfud disebut berbahaya.

“Pernyataan paling berbahaya dari Prof @mohmahfudmd di ILC adalah: KPU atau siapapun yang dianggap curang kalau tidak melebihi perbedaan suara antarpaslon aman-aman saja. Dengan logika berbahaya dari Prof @mohmahfudmd, kalau ada kecurangan 4 juta suara tidak apa-apa, selama perbedaan suara antar capres adalah 9 juta. BAHAYA,” cuit Andi Arief di akun twitternya, Kamis (10/1).

Publik banyak menilai pernyataan Mahfud di ILC  tersebut  lebih condong membela KPU. Ia mengatakan apapun keputusan KPU pasti banyak pihak yang tidak suka. Terutama bagi pihak yang kalah. Misalnya memyangkut sengketa suara pemilu.

“Apakah kalau ada yang curang begitu pemilu batal? Tidak. Pemilu atau hasilnya bisa dinyatakan batal manakala kecurangan signifikan. Kalau Anda kalah 5 juta suara tapi bisa membuktikan hanya 1.500 suara, maka Anda tetap kalah. Itu pedomannaya,” kata Mahfud.

“Karena kalau berpikir wah ini hak konstitusional, satu suara curang harus dibatalkan, nggak akan pernah ada pemilu selesai. Oleh sebab itu, hukum mengatur. Curang itu pasti ada, tapi harus signifikan,” ujar Mahfud melanjutkan di ILC.

Ditunding berbahaya, Mahfud pun kembali menjelaskan secara rinci soal sengketa pemilu dalam penghitungan surat suara. Dia menegaskan, bila ada kecurangan 1 juta suara terbukti tapi beda suara antar pasangan calon 3 juta, pemilu tidak dapat dibatalkan. Ini berdasarkan UU 8/2011 tentang Mahkamah Konstitusi.

“Kalau dalam Sengketa Pemilu Anda bisa membuktikan kecurangan 1 juta padahal kalahnya 3 juta maka hasil pemilu tak bisa dibatalkan. Ini ketentuan UU No 8 Tahun 2011. UU ini dibuat pada saat Partai Demokrat berkuasa. Kalau menurut Anda salah gugatlah Partai Demokrat (PD). Kok bilang berbahaya ke gue?” cuit Mahfud Md di akun twitternya.

Mahfud bahkan sampai menjelaskan yang meneken UU 8/2011 adalah Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang kini merupakan Ketum Partai Demokrat. Jika Andi protes, Mahfud menyarankan agar menyalahkan ke pihak yang meneken UU tersebut.

“Yang menandatangani UU No 8 Tahun 2011 adalah Presiden SBY, di situ disebut bahwa perhitungan hasil pemilu boleh dibatalkan oleh MK jika selisih suara yang diperkarakan bisa mengubah urutan perolehan suara (kemenangan). Kalau Anda bilang itu berbahaya, proteslah yang membuat dan menandatangani UU,” ungkapnya.

“Loh, ini kan ketentuan UU No. 8 Tahun 2011. UU itu dibuat ketika Partai Demokrat menguasai legislatif dan eksekutif. Yang mengundangkan dan menandatangani UU itu Presiden SBY. Itu berbahaya, ya? Kalau begitu bisa dibilang yang membuat bahaya ya, Pak Anu…. Sampaikan kepada beliau,” sambung Mahfud Md.

Penjelasan Mahfud Md ternyata belum membuat Andi Arief puas. Dia menuding penjelasan itu tetap berbahaya.

“Bagi saya penjelasan Prof @mohmahfudmd tetap berbahaya. Sama juga dengan ajakan untuk pembiaran kecurangan dengan margin tertentu. Harusnya melarang kecurangan sebesar apapun. MK memang akan memutuskan pemilu sah apabila kecurangan di bawah margin. Tetapi seorang mantan ketua MK bilang kecurangan hal biasa, itu akan menjadi semacam stimulus @mohmahfudmd,” cecar Andi Arief.

Belum selesai disitu, Andi Arief lantas menyinggung soal pernyataan Mahfud yang menuding dirinya menyebar hoaks soal 7 kontainer berisi surat suara tercoblos di Tanjung Priok. “Pak Prof bisa menggantikan lukanya perasaan anak, istri dan keluarga besar saya?” tulisnya.

Andi Arief yang awalnya hendak melaporkan Mahfud MD sampai saat ini tidak dilakukan. Sebab tidak ada dasar hukumnya. Dia lalu membawa-bawa ‘dokter rumah sakit jiwa’. Entah apa maksud dari Andi Arief itu.

“Tadinya saya akan melaporkan cara berfikir Pak Prof @mohmahfudmd yang konspiratif. Tapi setelah saya cek nggak ada pasalnya. Saya lagi cari apakah dokter rumah sakit jiwa bisa menjelaskannya,” kata Andi Arief. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.