Minggu, 23 Januari 22

Hingga Kini Pengungsi Rohingya Terus Masuk ke Bangladesh Melewati Sungai Naf

Hingga Kini Pengungsi Rohingya Terus Masuk ke Bangladesh Melewati Sungai Naf
* Sungai Naf.

Teknaf, Obsessionnews.com – Konflik telah mereda di wilayah Rakhine, Myanmar,  tempat di mana etnis Rohingya menetap. Namun, tetap tidak ada jaminan rasa aman bagi etnis Rohingya di sana. Mereka terpaksa meninggalkan daerah tersebut dengan menyeberangi sungai Naf.

Sungai ini yang dijadikan sebagai pintu masuk para pengungsi Rohingya yang ingin ke Cox’s Bazar, Bangladesh. Banyak etnis Rohingya menggunakan berbagai cara termasuk memakai perahu kayu seadanya untuk mencapai wilayah darat di perbatasan Bangladesh.

“Dua hari lalu ada sekitar 20 orang menyebrangi sungai ini,” ungkap Jamal Husein, salah seorang warga lokal di Teknaf, Cox’s Bazar, Bangladesh, Minggu (24/12/2017).

Militer Bangladesh di daerah perbatasan ini terus mengawasi kedatangan pengungsi Rohingya. Meski jumlah mereka tidak sebanyak saat terjadi eksdus besar-besaran. Pengungsi yang masuk diperiksa sebelum dibawa ke kamp pengungsian.

Ratusan ribu orang mempertaruhkan nyawanya ketika mereka menyeberangi perbatasan Sungai Naf sejak kekerasan mematikan terjadi di Rakhine pada 25 Agustus 2017. Mereka melarikan diri dari tindakan brutal militer Myanmar ke Bangladesh.

Para pengungsi menyeberang sungai Naf dengan muatan yang melebihi kapasitas hingga terkadang membawa bencana. Perahu cadik yang mereka tumpangi terbelah di tengah jalan menuju daratan Teknaf, Bangladesh. Mereka yang berhasil selamat ditempatkan di kamp pengungsian.

Sebelumnya diberitakan bahwa Myanmar setuju untuk mengambil kembali ratusan ribu pengungsi Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh dalam beberapa bulan terakhir.  Setiap etnis Rohingya yang menjadi pengungsi di Bangladesh akan diverifikasi oleh kelompok kerja gabungan.

Namun, hal ini disambut dingin oleh para pengungsi. Hamid Husein, salah seorang korban yang terkena tembakan militer Myanmar, menyatakan tak ingin kembali lagi ke Myanmar meski sudah ada kebijakan repatriasi.

“Saya tidak mau kembali lagi ke Myanmar, mereka kejam, mereka menembak saya dan kakak saya yang meninggal,” kata Hamid yang mengaku terkena tembakan di bagian bahu kanan itu.

Sebanyak 900 ribu lebih orang Rohingya telah lari ke Bangladesh sejak 25 Agustus 2017. Situasi ini dinilai sebagai  keadaan darurat pengungsi yang paling cepat di dunia. Ironisnya tidak sedikit pengungsi merupakan anak-anak tanpa ayah maupun ibu. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.