Rabu, 28 Oktober 20

Hikmah dari Kisah Dasima

Hikmah dari Kisah Dasima
* Hendrajit. (Foto: dok.pribadi)

Kisah Nyi Dasima, kalau kita simak ceritanya di zaman sekarang, memang nggak epik sama sekali. Saat kita lagi butuh kisah-kisah inspiratif untuk menggugah nasionalisme, patriotisme dan ketebalan iman beragama.

Tapi dari kisah Dasima ini, kita jadi mengenal seluk beluk geografis kota Jakarta sekarang ini. Dan satu lagi yang paling penting, mengenal karakter-karakter yang terlibat dalam kisah, sehingga penting buat pembelajaran bagi kita saat ini.

Dasima berasal dari desa Kuripan. Di mana tuh? Kuripan nggak jauh dari daerah Sawangan, Parung. Sawangan dulunya sebuah desa baru yang semula merupakan hutan yang terbakar.

Oh jadi gitu. Dinamakan Sawangan itu gegara hutan yang terbakar. Desa jadi rusak, dan tanahnya tidak cukup subur buat bercocok tanam.

Dasima pergi ke Curup, Tangerang, bekerja pada orang Prancis. Bonnet namanya. Dia bukan tuan tanah, tapi pemungut sewa tanah. Gaya hidup orang-orang bule model Bonnet ini sering foya-foya di Societet, Harmoni. Nah Dasima bekerja pada Bonnet sebagai pembantu rumah tangga.

Suatu ketika datanglah seorang pemungut pajak lainnya, namanya Willem. Dia adalah orang Inggris. Dia jatuh hati pada Dasima, dan bermaksud menjadikan dirinya sebagai istri.

Maka setelah itu diboyonglah Dasima ke Pejambon, yang dekat Stasiun Gambir sekarang. Dan Jalan Pejambon sekarang merupakan alamat Kementerian Luar Negeri kita.

Waktu sudah jadi istri Willem, Dasima sering main ke daerah Kwitang, yang kita tahu berlokasi dekat dengan Pasar Senen.

Nah, di sinilah Dasima berurusan dengan seorang jago kampung, bernama Kuasa. Kalau kita lihat di zaman sekarang, Bang Kuasa ini nasionalis banget. Dan anti Belanda. Pernah ikut memberontak di Cilegon terhadap kumpeni Belanda.

Di mata Bang Kuasa, Dasima ini orang yang gila harta dan matre. Bahkan Bang Kuasa curiga jangan-jangan Dasima mata-mata Belanda.

Ketika main ke Kwitang, ada pemuda yang kepincut sama Dasima, namanya Bang Samiun. Pengangguran dan punya istri seorang penjudi, Hayati namanya.

Singkat cerita Dasima dan Samiun terlibat affair. Maka dari Pejambon Samiun dan Dasima kencan ke Kampung Ketapang. Tapi rupanya kemudian Dasima ketemu hari apesnya. Rupanya Hayati iri pada Dasima, padahal skenario awal Hayati mendorong Samiun hidup bersama dengan Dasima, tapi dengan syarat, hartanya diporotin habis sama Samiun.

Eh nggak tahunya Samiun cinta beneran pada Dasima. Maka Hayati kemudian minta jasa Bang Kuasa untuk melenyapkan nyawa Dasima. Dan akhirnya Dasima mati terbunuh di jembatan Pejambon, pas mau pergi ke Kampung Ketapang.

Bang Kuasa sendiri kemudian divonis hukum mati oleh Belanda. Padahal waktu itu Bang Kuasa sedang ikut mempersiapkan pemberontakan Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Yang kita kita kenal dengan perang Jawa 1825-1830. Dengan kata lain Bang Kuasa ini nasionalis dan anti penjajah.

Nah, apa hikmah dari cerita ini buat kita yang hidup di era sekarang? Karakter bangsa Indonesia yang menyedihkan adalah sosok Dasima. Selain memandang hidup itu diukur dari materi dan harta, sosok model gini cuma mementingkan lapisan kulit luar, dangkal dan tidak punya prinsip hidup. Dan memandang idealisme dan cita-cita itu cuma omong kosong belaka.

Bang Kuasa tipikal karakter di bangsa kita yang sampai sekarang ada. Pada dasarnya berjiwa petarung, nasionalis, pemberang, dan berjiwa jawara alias petarung yang nggak ada takut-takutnya sama sekali.

Namun titik lemah dari sosok dengan karakter ini, dalam berjuang tidak punya peta jalan. Tahu apa yang dia harus lawan, dan tahu apa yang dia paling nggak suka. Tapi karena buta peta jalan, sering nggak tahu siapa kawan dan siapa lawan. Sehingga yang model gini gampang jadi sasaran false flag operation.

Sebagai pejuang dan petarung yang anti Belanda, Bang Kuasa sudah benar. Sehingga prioritas kegiatan fokus aja dalam persiapan menyusun operasi melawan Belanda.

Tapi berhubung nggak tahu peta jalan, dia terpancing masuk ke kegiatan yang nggak ada sangkut pautnya dengan perjuangan maupun politik. Karena Dasima menurut pandangannya adalah seorang perempuan gila harta, suka hidup foya-foya dan jadi antek asing, dia mau aja diminta jasa membunuh Dasima, padahal ada pihak lain yang ingin membunuh Dasima tapi dengan motif pribadi. Bukan motif politik perjuangan.

Banyak para aktivis pergerakan saat ini yang model Bang Kuasa ini. Pemberani, berjiwa petarung, tapi dalam berjuang nggak pakai politik dan strategi. Sehingga mudah dikadalin musuh.

Lantas gimana sosok model Bang Samiun? Ini lebih tragis lagi. Selain nggak punya jiwa juang model bang Kuasa, punya kencenderungan hidup senang dan jadi budak harta benda. Karakter model gini banyak yang ada di kekuasaan sekarang ini. Baik eksekutif pemerintahan, DPR maupun di kemiliteran dan kepolisian.

Siapapun yang berkuasa, bodo amat dah. Yang penting hidup makmur dan kaya raya, punya pangkat dan jabatan. Urusan lain nggak penting.

Dasima adalah sosok dalam ketidaktahuan murni, polos, matre dan budak harta, akhirnya jadi musuh bersama berbagai kalangan yang sebetulnya punya motif yang saling bertentangan.

Bang Kuasa memberi pesan kepada kita, bahwa kalau punya niat baik untuk berjuang, harus punya input/masukan geopolitik, sehingga bisa menyusun geostrategi yang pas. Supaya nggak nyasar ke mana-mana.

Sudah bagus jadi mata-rantai penting dari perlawanan Pangeran Diponegoro kepada Belanda. Eh, tahu-tahu malah kesrimpet dalam tindak kriminal pembunuhan Dasima yang dikiranya bagian dari perjuangan melawan Belanda. Padahal tanpa dia sadari, Bang Kuasa jadi pembunuh bayaran dari orang-orang yang dengki terhadap Dasima.

Bang Kuasa jadi korban operasi bendera palsu.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.