Kamis, 24 September 20

Hikam: Ruhut Tidak Punya Malu Bela Koruptor

Hikam: Ruhut Tidak Punya Malu Bela Koruptor
* Ruhut Sitompul.

Jakarta, Obsessionnews.com – Pengamat politik Muhammad AS Hikam mengkritik kebiasaan politisi Indonesia melakukan pembelaan terhadap perilaku koruptif tanpa nalar sehat dan rasa malu serta risih, rasanya tak kunjung berhenti. Kali ini politisi Partai Demokrat (PD) yang juga anggota III DPR, Ruhut Sitompul, yang melakukan hal itu. Ruhut menyatakan tertangkapnya Wakil Bendahara Umum PD, yang juga anggota Komisi III DPR-, I Putu Sudiartana oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak ada kaitannya dengan PD dan hanya pekerjaan dia pribadi.

Muhammad AS Hikam.
Muhammad AS Hikam.

“Orang paling bodoh di seluruh dunia pun akan termehek-mehek membaca statemen yang ekonomis dalam nalar seperti itu. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa tindakan korupsi yang dilakukan oleh beberapa pentolan PD sebelumnya, seperti Anas Urbaningru dan Angelina Sondakh serta beberapa yang lain, tidak ada kaitannya dengan partai berlambang Mercy tersebut, dan karena itu tak akan berpengaruh terhadap standing-nya di hadapan rakyat Indonesia,” kata Hikam dalam keterangan tertulisnya Rabu (29/6/2016).

IMG_20150916_061410_140-635x350
I Putu Sudiartana.

Hikam tidak tahu apakah nalar yang dimiliki Ruhut berbeda dengan manusia biasa, sehingga bisa sampai kepada pandangan demikian? Sebab, kata Hikam, jika nalar manusia biasa, tentunya tak perlu repot-repot mencari kaitan antara perbuatan Putu dengan PD. Setidak-tidaknya orang akan mengatakan bahwa perbuatan yang bersangkutan ada kaitannya dengan posisinya sebagai politisi partai tersebut, termasuk statusnya sebagai anggota parlemen dan fungsionaris DPP PD. Kalau yang dimaksud adalah kaitan sebab akibat secara langsung, memang mesti menunggu proses penyidikan dan bahkan proses peradilan. Namun yang disebut “kaitan” tentu bukan cuma itu. Salah satunya adalah kaitan politik antara IPS dengan PD yang secara kasat mata jelas ada.

Menurut Hikam, mengajukan apologia atau pembelaan tentu sah-sah saja dilakukan oleh politisi terhadap partai dan rekan separtainya. Ruhut sah-sah saja melakukan pembelaan terhadap Putu dan PD, apalagi dia adalah seorang politisi dan lawyer yang dikenal handal dan vokal.

Namun, kata Hikam, pernyataan Ruhut bahwa kasus Putu tidak ada kaitan dengan PD adalah sebuah pernyataan yang sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan secara common sense politik.

“Para politisi yang menggunakan argumen seperti itu hanya mencoba beretorika klise secara terburu-buru, dan gegabah, dalam upaya damage control guna menutupi borok partainya yang sejatinya sudah diketahui secara terbuka dan luas oleh rakyat Indonesia,” tutur Wakil Rektor President University, Bekasi, Jawa Barat, ini .

PD yang dikenal memiliki slogan “Katakan Tidak kepada Korupsi” itu sudah terlanjur tersohor dalam percaturan politik di negeri ini, bahwa politisinya banyak yang menjadi langganan rompi oranye KPK dan meringkuk di penjara karena kasus tipikor. Oleh sebab itu tak heran jika rakyat Indonesia lantas ‘menghukum” partai tersebut  dalam Pemilu 2014 dengan tidak memilihnya seperti dalam Pemilu sebelumnya. Bahkan partai yang sebelumnya pernah berkuasa selama 10 tahun itu pada 2014 gagal untuk mengajukan capresnya karena terpuruknya popularitas serta elektabilitas di mata rakyat!

Maka sangatlah ironis jika politisi sekelas Ruhut justru menggunakan apologia murahan untuk  membela rekan separtainya yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK.

“Strategi seperti itu tak akan mengembalikan marwah dan dukungan partai itu dalam Pemilu atau Pilkada 2017. Sebab komunikasi publik yang dilandasi retorika menyesatkan dan manipulatif akan menjadi akselerator keterpurukan partai terebut. Alih-alih PD akan bangkit kembali, justru ia akan semakin ditinggalkan oleh rakyat Indonesia. Kalau tidak percaya, silakan dilanjutkan!” kata Hikam.

Sebelumnya Ruhur  memastikan OTT KPK terhadap Putu Sudiartana tidak ada kaitannya dengan PD.

“Nggak ada kaitan dengan kita. Ini pekerjaan dia pribadi,” ujar Ruhut ketika dihubungi, Rabu (29/6).

KPK  menetapkan Putu dan empat rekannya sebagai tersangka. Penetapan kelima tersangka ini sebagai buntut dari OTT pada Selasa (28/6/2016) malam. Keempat rekannya itu, yakni pengusaha bernama Yogan Askan dan Kepala Dinas Prasarana Jalan dan Tata Ruang Pemukiman Sumatera Barat (Sumbar) Suprapto, dan staf pribadi Putu bernama Novianti dan serta seorang perantara bernama Suhemi.

“Setelah melakukan pemeriksan 1×24 dan ekspose, ditentukan tersangka penerima suap IPS (I Putu Sudiartana), Nov (Novianti), Suh (Suhemi) sebagai penerima suap, serta YA (Yogan Askan) dan Spt (Suprapto) sebagai tersangka pemberi suap,” kata Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan di kantornya, Jakarta, Rabu (29/6/2016) malam.

Putu diduga menerima suap dari Yogan dan Suprapto terkait rencana proyek pembangunan 12 ruas jalan di Sumatera Barat yang diprakarsai Dinas Prasarana Jalan dan Tata Ruang Pemukiman Sumatera Barat dengan anggaran Rp 300 miliar. (arh, @arif_rhakim)

Baca Juga:

Hikam: Mestinya Fahri Berkaca Dulu Sebelum Kritik Jokowi

AS Hikam Usul Ketua MA Dipecat

AS Hikam: Dukung Jokowi, Golkar Bikin Gerah Parpol Lain

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.