Selasa, 5 Juli 22

Hikam: Memalukan, Pemimpin Dunia Gagal Hadapi Ancaman Terorisme

Hikam: Memalukan, Pemimpin Dunia Gagal Hadapi Ancaman Terorisme
* Muhammad AS Hikam.

Jakarta, Obsessionnews.com – Jika para teroris berdalih memperjuangkan ajaran agama Islam, lantas bagaimanakah argumentasi mereka untuk melegitimasi tindakan biadab yang menewaskan ratusan orang di Baghdad, Istambul, dan Bangladesh dalam kurun waktu kurang dari dua minggu terakhir? Bagi kaum garis keras, justifikasi atau pembenaran tentu akan mudah dibuat. Mereka sudah tidak membedakan lagi sasaran aksi teror yang mereka anggap sebagai jihad. (Baca: Bom Guncang Baghdad, 300 Tewas dan Terluka)

Pengamat politik Muhammad AS Hikam mengatakan, bahaya bagi kemanusiaan dari kaum radikal seperti ISIS dan Al-Qaeda serta para pendukungnya, salah satunya adalah penistaan terhadap ajaran agama dengan menggunakan penafsiran yang merayakan kerusakan dan menolak keadaban.

“Oleh sebab itu, menghentikan dan memberantas gagasan serta aksi teror adalah kerja bersama kemanusiaan. Jika tidak, maka peradaban manusia akan hancur dan teror menjadi absah sebagai alat kekuasaan,” kata Hikam dalam keterangan tertulisnya, Senin (4/7/2016).

Menurutnya, penyebaran teror bukan lagi terbatas di negara-negara Timur Tengah atau Afrika Utara, tetapi telah meruyak hampir di seluruh belahan bumi. Kegagalan para pemimpin dunia untuk mencari solusi efektif menghadapi ancaman dan bahaya terorisme, sesungguhnya sangat memalukan dan bagi banyak orang tidak masuk akal. Kecurigaan dan tuduhan adanya konspirasi antara kekuatan-kekuatan adidaya dengan kelompok- kelompok teroris dengan tujuan menguasai sumber-sumber daya dan wilayah strategis, semakin berkembang karena ketidakefektifan dari apa yang selama ini digembargemborkan sebagai “perang melawan terorisme” itu.

Apalagi sikap masyarakat dan penguasa di negara-negara maju tersebut juga tidak konsisten. Ketika berbagai aksi teror terjadi di Paris, Brussel, atau AS, solidaritas dan simpati kepada para korban serta kecaman terhadap ISIS begitu nyata. Berbagai meme ‘pray for Paris, Brussel”, danlain-lain sangat marak. Tetapi ketika teror menghantam Turki, Irak, Bangladesh, dan Suriah, hanya sedikit (untuk tidak mengatakan tak ada) simpati dan solidaritas seperti itu di seluruh dunia.

“Ini menunjukkan bahwa masah terjadi stereotipe bahwa terorisme hanya terjadi jika Barat yang menjadi korban. Sementara jika di negaranegara- lain, khususnya negara yang mayoritas penduduknya muslim, aksi teror seakan-akan dianggap sebagai sebuah kejadian biasa, atau bahkan ‘normal’,” ujar

Wakil Rektor President University, Bekasi, Jawa Barat, ini berpendapat, Indonesia tidak bisa lengah dengan ancaman teror dan menganggap kejadian-kejadian di Istanbul, Bangladesh, Paris, Brusselm dan Baghdad tidak akan terjadi di wilayahnya. Kemampuan para teroris menjagkau dalam skala global (global reach) tak bisa diragukan lagi. Belum lagi jika di dalam negeri ditengarai para simpatisan kelompok radikal Islam tersebut baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. (arh, @arif_rhakim)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.