Sabtu, 21 Mei 22

Hidup Damai Berdampingan dengan Virus Corona

Hidup Damai Berdampingan dengan Virus Corona
* Fuad Bawazier

Oleh: Fuad Bawazier, Mantan Menteri Keuangan RI

Wabah Virus Corona di seluruh dunia sepertinya tidak akan selesai tahun ini. Indikasinya semakin kuat bahwa sang virus akan terus melanglang buana dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kota ke kota lain, dari satu negeri ke negeri lain. Begitu terus akan berputar putar di muka bumi tidak beda dengan virus flu yang kita kenal selama ini yang sudah menjadi penyakit ditengah masyarakat di semua negeri di seluruh dunia. Sampai bisnis vaksin corona benar benar mapan, seperti vaksin flu, vaksin meningitis dan lain-lain.

Lalu semua orang yang takut akan minta di vaksin anti virus corona, seperti vaksin flu, vaksin meningitis dll itu. So, salah satu target bisnis virus Corona tercapai. Kemelut wabah yang berlarut ini utamanya karena policy Pemerintah di hampir semua negeri, yang semrawut, tidak efektif, dan rakyat yang tidak disiplin.

Kenyataannya kehidupan dunia sekarang amat terbuka seakan akan bumi ini satu kesatuan negeri tetapi kenyataannya policynya amat berbeda beda sehingga bila wabah selesai disatu negeri, ditempat lain masih ada (terjangkit), lalu menulari lagi dan begitu seterusnya, berputar putar. Jangankan antar negara, di dalam negeri saja ada perbedaan policy antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah yang sering dibarengi dengan rasa persaingan sampai permusuhan, saling serang, kebencian, saling menjatuhkan dan saling menyalahkan, sehingga sang virus semakin sulit diatasi. Bukan saja di Indonesia tapi juga di banyak negara lain, wabah Covid-19 ini terasa dijadikan panggung politik, sehingga berbagai policy kurang efektif. Baik policy yang maju mundur canggung dan tanggung maupun policy yang keras.

Gangguannya di lapangan amat banyak seperti tidak disiplin, tidak kompak, tidak ada kordinasi, agenda terselubung politisi sampai yang cari keuntungan dan KKN ditengah kebuntungan karena Covid-19. Kartu Prakerja yang anggarannya antara lain utk pelatihan sebesar Rp5,6 triliun, meski dikritik habis habisan, dijadikan olok olok dan ditengarai sebagai korupsi kroni istana, kabarnya tetap diteruskan. Duit itu memang menggiurkan makanya tetap nekad. Aji mumpung. Wibawa Pemerintah Pusat semakin terpuruk, bahkan dimata para kades sekalipun. Media asing bahkan menuding Covid-19 telah dimanfaatkan penguasa untuk menghimpun ekstra kekuasaan dan lebih banyak uang.

Sementara itu mobilitas nasional maupun internasional manusia sebagai pembawa virus tidak bisa dihalangai atau terbendung. Makanya wabah akan terus berputar dan kembali balik ke daerah yang bahkan sudah dinyatakan “sembuh atau terbebas” dari virus. Jadi inilah dilemanya sekarang ini, uang APBN ngucur tapi wabah berlanjut, rakyat melarat, ekonomi morat marit, dan pemerintah terbirit birit.

Jika kita percaya begitu dan berani jujur mengakuinya, bukankah akan lebih baik bila kerangka strateginya diubah menjadi mari kita hidup “damai” berdampingan dengan virus corona dan mafia virus atau mafia farmasi, sambil secara bertahap/ sambil berjalan memperbaikinya atau memerangi mafia nya. Ini lebih baik, lebih realistis daripada policy maju mundur yang canggung dan tanggung seperti sekarang ini yang pandemicnya tidak juga teratasi tapi kehidupan ekonominya hancur, lebih mengerikan lagi. Di depan mata puluhan juta pekerja sudah dan akan segera jadi penganggur dan miskin. Itulah extra costs yang sedang kita dan dunia bayar karena kecerobohan, ketidakkompakan policy, bahkan saling menjegal.

Dan jangan lupa bahwa bukan tidak mungkin di sini ada yang diam-diam sebenarnya menginginkan wabah Covid-19 ini berlangsung lama agar ada excuses untuk jualan vaksin, atau bagi yang ingin mencetak uang, dengan alasan utk menolong pebisnis dan rakyat miskin karena ekonominya hancur oleh pandemi Covid-19. Jadi, mengatur strategi baru untuk hidup berdampingan secara “damai” dengan virus Corona nampaknya suatu pilihan, suatu keniscayaan, daripada tidak dapat dua-duanya. Akhirnya, terima kasih ya pada rakyat Indonesia yang tetap sabar. Bahkan sabar banget.

Jakarta, 17 Mei 2020

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.