Minggu, 3 Juli 22

Hentikan Toleransi Salah Kaprah Kita Selama Ini

Hentikan Toleransi Salah Kaprah Kita Selama Ini

Oleh: Teuku Gandawan, Direktur Eksekutif StrategiIndonesia™

 

Toleransi sama sekali tidak bermakna harus saling memberi selamat atas perayaan ibadah agama apapun, karena perayaan apapun dalam setiap agama adalah ekspresi keimanan. Tidak perlu ada rasa tak enak dan sungkan jika tidak memberikan apresiasi atas kegiatan ibadah agama lain. Justru aneh dan janggal ketika kita merasa harus turut bergembira atas perayaan keimanan orang lain. Bedakan perayaan kemenangan atas iman dengan perayaan kemenangan atas prestasi keduniaan.

Saya tidak merasa dihina oleh siapapun non-muslim yang tidak berujar Selamat Idul Fitri/Adha. Karena tidak memberi selamat bukan penghinaan. Saya juga tidak pernah menanti-nanti agar semua teman-teman non-muslim saya untuk memberi selamat ketika berlebaran. Karena faktanya itu sama sekali bukan kewajiban mereka, dan tidak membuat saya kecewa sedikitpun jika mereka tak melakukannya. Kalau ada non-muslim menyatakan maaf lahir dan batin, saya dengan segera juga minta maaf karena saya juga sangat mungkin memiliki salah pada yang bersangkutan.

Dan saya juga tidak merasa sedang menghina jika tak berujar selamat kepada agama lain saat mereka bersuka cita dalam iman. Cara paling santun bagi saya menghormatinya adalah membiarkan mereka merayakan penuh suka cita tanpa harus merasa terusik. Saya tidak merasa janggal mendengar musik-musik natal di tempat umum dan tidak tersinggung melihat film-film natal di televisi di bulan Desember karena memang itu waktunya umat nasrani bersuka cita. Sama dengan saya berharap tidak ada non-muslim yang sewot dengan acara-acara Islami selama bulan Ramadhan.

Bertoleransi terindah itu adalah dengan tidak saling membenci dan tidak merasa terusik ketika satu pihak sedang bersuka cita dan bersyukur atas pencapaian imannya. Bukan tugas saya menyanjung kebahagian umat nasrani atas prestasi iman mereka. Biarlah Tuhan mereka yang menilai itu. Demikian pula sebaliknya, tidak perlu kita berharap pujian dan sanjungan apapun dari non-muslim ketika kita berlebaran atau pulang umrah dan haji. Biarlah Allah yang menilai sejauh apa nikmat syukur atas nikmat iman Islam itu ada.

Hal yang utama lainnya adalah pastikan setiap kita untuk tidak pernah dengan sengaja menista atau mengolok-olok agama sendiri dan agama orang lain, karena dua-duanya adalah ketololan yang sangat luar biasa. Anda sangat tolol jika anda mengolok-olok ajaran agama sendiri. Anda juga sangat tolol jika anda mengolok-olok ajaran agama lain. Hanya orang yang sangat tolol yang kerjanya mengolok-olok ajaran agama, agama apapun itu.

Jadi, mari hentikan salah kaprah kita selama ini tentang makna toleransi. Toleransi itu wajib terjadi antar sesama antar umat beragama. Tapi toleransi itu tidak perlu ada antar sesama ajaran agama. Sesama ajaran agama tidak perlu saling bertoleransi karena sejatinya setiap agama memerintahkan menghormati agama lain.

Yang perlu saling bertoleransi adalah umat beragamanya, yaitu terkait dengan tidak perlu mengomentari negatif atau sinis atas ibadah dan perayaan setiap agama. Agamanya saja sudah berbeda, bagaimana bisa kita merasa pantas untuk saling mengomentari dan saling memuji keimanannya? Dalam Islam sangat tegas dikatakan,”Untukmu agamamu, untukku agamaku.”

Dan jangan pernah bermain-main dengan mengatakan ini kan cuma ucapan selamat biasa. Memangnya ada ikrar beragama untuk menganut agama tertentu yang dinyatakan selain dengan mengucapkan kata-kata? Saya tidak tahu istilah di agama lain, dalam Islam disebut dengan mengucap dua kalimat syahadat. Saya ulang, mengucap, yang maknanya adalah mengeluarkan ucapan. Jadi ucapan itu penting dan jangan pernah dianggap remeh. Mari hentikan salah kaprah kita tentang bagaimana hidup bertoleransi antar umat beragama. (*)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.