Minggu, 29 Januari 23

Hendrisman Rahim Sosok Hebat di Balik Perusahaan Kuat

Hendrisman Rahim Sosok Hebat di Balik Perusahaan Kuat
* Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya Hendrisman Rahim.

Sebagai asuransi ternama dan berpengalaman di Indonesia, PT Asuransi Jiwasraya (Persero) tetap menjadi pemain yang diperhitungkan dalam percaturan industri jiwa di tanah air. Ukurannya jelas, di bawah nakhoda Hendrisman Rahim, Sang Direktur Utama, perusahaan plat merah ini terus menunjukan kinerja cemerlang.

Di balik perusahaan yang kuat, ada pemimpin yang hebat, begitulah Hendrisman dengan Jiwasraya yang dipimpinnya. Bersama staf dan seluruh awak kerja Jiwasraya, berbagai langkah besar digulirkan untuk meningkatkan bisnis asuransi Jiwasraya.

Tengoklah kinerja perseroan pada 2016, baik revitalisasi produk, inovasi produk, dan penambahan agen asuransi. Semuanya berhasil gemilang. Dari cara ini diharapkan perolehan premi akan lebih banyak dari penjualan melalui branch office system (BOS) atau dari sistem cabang.

Untuk memasarkan produk asuransi, dilakukan Jiwasraya melalui chanelling (saluran) Kantor Pusat Program Manfaat Karyawan, Kantor Pusat Bancassurance, 14 kantor wilayah, 71 kantor cabang, dan hampir 500 unit kerja area untuk daerah terpencil.

Sepanjang 2016, perusahaan yang berdiri sejak 31 Desember 1859 silam ini mencatatkan pertumbuhan premi yang kinclong. Hendrisman menyebut, pihaknya berhasil mengantongi premi sampai Rp 18 triliun. Sedangkan tahun sebelumnya, perolehan premi Jiwasraya sebesar Rp 10,2 triliun.

Dari sisi laba (unaudited), sambung Hendrisman, Jiwasraya meraih Rp 1,3 triliun. “Tahun 2015 lalu, kami meraih laba Rp 1,01 triliun. Tapi kayanya sesudah audited laba kita akan naik,” ungkapnya.

Perolehan premi yang didapat Jiwasraya masih ditopang oleh manisnya bisnis di segmen asuransi tradisional. Seperti endowment, term life, dan lainnya. Sisanya berasal dari produk unit linked. “Sekitar 90% masih berasal dari segmen tradisional,” ujar Hendrisman.

Produk tradisional, menurut Hendrisman tetap akan menjadi andalan Jiwasraya. Pasalnya, perseroan menguasai pasar di daerah-daerah yang cenderung lebih membutuhkan produk yang bersifat proteksi.

“Perusahaan joint venture yang masuk ke Indonesia langsung mengembangkan produk unit link. Jadi, Kami akan tetap memegang pasar yang kami kuasai dan nyatanya permintaan produk tradisional juga tetap meningkat. Kontribusi dari produk unit link, tidak banyak hanya 11%,” terangnya.

Tingginya perolehan premi Jiwasraya tahun 2016 lalu, kata Hendrisman, juga karena hasil dari sejumlah strategi di jalur distribusi. Misalnya, menambah rekanan bank melalui jalur bancassurance. “Kontribusi Premi dari kanal distribusi bancassurance mencapai 60%,” ucap Hendrisman.

Sedangkan untuk kanal corporate distribution, perseroan akan tetap menjadikan sesama perusahaan plat merah sebagai sasaran. Soalnya baru sekitar 40% dari perusahaan di lingkungan BUMN yang sudah berhasil digarap perseroan.

Jalur distribusi lain yang digunakan perseroan untuk menggenjot premi tahun 2016 adalah melalui jalur digital. Hendrisman menjelaskan, penggunaan teknologi ini sudah dimulai para agen dengan menggunakan tablet untuk menjual produk dan mengirimkan data ke kantor. Setelah itu, perseroan juga berencana untuk melayani pembelian asuransi secara langsung via online.

Kencangnya laju premi Jiwasraya pada tahun lalu juga disebutnya karena langkah lebih agresif yang dilakukan perseroan.

Sejak awal 2016, Hendrisman menuturkan, Jiwasraya sudah rajin membuka pasar-pasar baru yang dinilai potensial.

“Saat ini segmen menengah ke bawah, yakni generasi muda produktif yang berada di kisaran usia 25-40 tahun semakin membesar apalagi tahun 2020 kita akan masuk bonus demografi. Jadi pada 2016 dan 2017, kita harus mendesain produk yang dipusatkan kepada mereka,” terang Hendrisman.

Sebut saja produk asuransi JS Sinergy yang diluncurkan akhir November 2016 lalu. Produk ini menawarkan tiga perlindungan sekaligus, yakni perlindungan kesehatan, perlindungan jiwa, dan tabungan.

Adapun, manfaat yang bisa diperoleh antara lain jaminan rawat inap sampai 90 hari, santunan duka sebesar 100% dari uang asuransi yang dibayarkan kepada keluarga jika tertanggung meninggal dunia, dan pembayaran 100% uang asuransi jika tertanggung hidup sampai dengan akhir kontrak asuransi selama sepuluh tahun.

Inovasi lain yang disodorkan, di antaranya asuransi untuk pembelian rumah secara cicilan. Langkah ini didahului penyediaan uang muka dilanjutkan pemberian dana cicilan jika pemegang polis meninggal dunia.

Proteksi pendapatan tetap per bulan bagi pekerja kontrak yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) juga sebagai inspirasi penciptaan produk baru Jiwasraya. Pasalnya, tidak semua perusahaan mengangkat pekerja kontrak menjadi karyawan tetap.

Bekerjasama dengan pihak perbankan, Jiwasraya juga punya produk asuransi kredit bagi para pemegang kartu kredit yang akan mengambil alih sisa kredit pemegang kartu ini bila meninggal dunia. Asuransi kredit tersebut juga bisa digunakan untuk kebutuhan peremajaan bisnis dalam bentuk pemberian dana antara lain untuk perkebunan, perikanan, dan toko.

Tahun 2017 ini, Jiwasraya menargetkan pendapatan laba di atas Rp 1,5 triliun serta premi Rp 21 triliun. “Kalau kita lihat pertumbuhan industri asuransi pada tahun-tahun sebelumnya, 10-30%. Kecuali, 2008 jauh di bawah 10% dan 2016 di atas 30%. Kalau kita mau terus naik kelas, kita harus di atas rata-rata industri,” tandas Hendrisman.

Guna mencapai target tersebut,  tutur Hendrisman, pihaknya akan mengoptimalkan penjualan polis melalui bancassurance dan agen berkompeten yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Tahun 2015, jumlah agen Jiwasraya baru mencapai 8.000 agen. Sampai saat ini jumlahnya telah bertambah dua kali lipat menjadi 16.000 agen.

Menutup pembicaraan Hendrisman berharap, Jiwasraya terus menjadi perusahaan asuransi lokal yang besar. “Pertama dari sisi usia Jiwasraya sudah matang, kedua milik Negara, dan ketiga sepanjang jalan perusahaan ini diurus oleh orang-orang Indonesia. Artinya di tengah industri asuransi yang semakin banyak perusahaan jointventure, sudah saatnya kita membangun perusahaan yang memang milik kita. Caranya, semua orang yang terkait di Jiwasraya harus memiliki pemikiran yang sama serta kompetensi yang lebih baik. Harus selalu belajar,” pungkasnya. (Mens Obsession/Giattri F.P.)

Artikel ini dalam versi cetak dapat dibaca di Majalah Men’s Obsession edisi Februari 2017.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.