Jumat, 28 Februari 20

Hebat! Pria Lumpuh Bisa Bergerak Pakai “Robot Otak”

Hebat! Pria Lumpuh Bisa Bergerak Pakai “Robot Otak”
* Thibault, pria lumpuh dibantu pakai "robot otak". (BBC)

Luar biasa! Pria lumpuh tahunan dapat bergerak dengan mengenakan perangkat robot yang bisa membaca pikiran.

Seorang pria dapat menggerakkan keempat anggota tubuhnya yang lumpuh dengan mengenakan perangkat exoskeleton yang mengendalikan otak, demikian dilaporkan para peneliti Prancis.

Thibault, 30 tahun, mengaku perasaannya ketika pertama kali melangkah dengan setelan tersebut seperti menjadi “manusia pertama di Bulan”.

Gerakannya, terutama saat berjalan, jauh dari sempurna dan pakaian-robot itu hanya dapat dipakai di dalam laboratorium.

Tetapi para peneliti mengatakan riset ini pada suatu hari akan memperbaiki kualitas hidup pasien.

“robot otak”. (BBC)

 

Bagaimana cara kerjanya?
Thibault menjalani pembedahan untuk menempatkan dua implan pada permukaan otak yang mencakup bagian pengatur gerakan.

Sebanyak 64 elektroda pada setiap implan membaca kegiatan otak dan mengirimkan perintah ke komputer di dekatnya.

Perangkat lunak canggih komputer lantas membaca gelombang otak dan mengubahnya menjadi perintah untuk mengendalikan exoskeleton.
Thibault harus diikat ke exoskeleton. Tetapi begitu dia berpikir untuk “jalan”, perintah pada otaknya menggerakkan serangkaian instruksi untuk melangkahkan kakinya. Dan dia dapat mengendalikan kedua lengan, menggerakkannya dalam ruang tiga dimensi.

Thibault diikat ke exoskeleton. (BBC)

 

Seberapa mudah pemakaiannya?
Thibault, yang tidak ingin nama keluarganya diketahui umum, adalah seorang ahli kaca mata yang jatuh dari ketinggian 15 meter di sebuah klab malam empat tahun lalu.

Cedera pada saraf tulang belakang membuatnya lumpuh dan selama dua tahun dirinya diopname di rumah sakit. Pada 2017, dia ikut serta percobaan exoskeleton Clinatec dan Universitas Grenoble.

Pada mulanya dia berlatih menggunakan implan otak untuk mengendalikan karakter maya atau avatar dalam permainan komputer. Kemudian Thibault berjalan menggunakan setelan exoskeleton.

“Seperti menjadi manusia pertama di Bulan. Saya tidak bisa berjalan selama dua tahun. Saya sudah lupa berdiri. Saya sudah lupa bahwa saya lebih tinggi dari kebanyakan orang yang ada di ruangan,” katanya.

Tetapi diperlukan waktu yang lebih lama untuk dapat mengendalikan lengan. “Ini sangat sulit karena perangkat ini merupakan gabungan sejumlah otot dan gerakan. Ini adalah hal yang paling menakjubkan dari exoskeleton.”

Exoskeleton yang dikendalikan otak memungkinkan pria lumpuh berjalan di laboratorium. (BBC)

 

Seberapa bagus exoskeleton?
Robot canggih seberat 69 kg ini tidak bisa mengembalikan seluruh fungsi tubuh. Tetapi ini adalah suatu kemajuan penting dari pendekatan sejenis yang memungkinkan orang mengendalikan anggota tubuh lewat pikiran.

Thibault tetap perlu dihubungkan dengan tali yang mengaitkannya ke langit-langit untuk mengurangi risiko dirinya jatuh – ini artinya alat ini masih belum siap dibawa ke luar laboratorium.

“Perkembangan riset masih jauh dari berjalan secara mandiri,” kata Profesor Alim-Louis Benabid, presiden Clinatec kepada BBC News.

“Dia tidak dapat bergerak dengan cepat dan tepat agar tidak terjatuh. Tiada orang lain di Bumi yang melakukan hal seperti ini”

Dalam percobaan yang mengharuskan Thibault menyentuh benda tertentu dengan menggerakkan lengan atas dan bawah dan memutar pergelangan tangan menggunakan exoskeleton, Thibault berhasil melakukannya sebanyak 71%.

Profesor Benabid, yang mengembangkan stimulasi otak dalam untuk penyakit Parkinson mengatakan kepada BBC: “Kami telah menyelesaikan masalah dan memperlihatkan ketepatan prinsipnya. Ini adalah bukti bahwa kita dapat meningkatkan mobilitas pasien di dalam exoskeleton. “Ini mengarah ke kualitas hidup yang lebih baik.”

Thibault dapat mengendalikan kedua lengan. (BBC)

 

Apa langkah selanjutnya?
Para ilmuwan Prancis tersebut mengatakan mereka akan terus menyempurnakan teknologinya.

Saat ini mereka menghadapi tantangan untuk memproses jumlah data yang dapat dibaca dari otak, mengirimnya ke komputer, mengartikannya, dan mengirim balik ke exoskeleton pada saat itu juga.

Mereka memiliki waktu selama 350 milidetik untuk melakukan proses dari pikiran ke gerakan. Jika terlambat, sistemnya sulit dikendalikan. Ini berarti dari 64 elektroda pada setiap implan, para peneliti baru menggunakan 32 buah.

Dengan demikian, masih terdapat kemungkinan membaca otak secara lebih rinci, dengan menggunakan komputer yang lebih kuat dan AI (kecerdasan buatan) untuk mengartikan informasi dari otak.

Juga terdapat sejumlah rencana untuk mengembangkan kendali jari yang memungkinkan Thibault mengambil dan memindahkan benda. Dia sudah menggunakan implan untuk mengendalikan kursi roda.

Apa terdapat kegunaan lain teknologi ini?
Ada sejumlah ilmuwan lain yang mengkaji cara menggunakan exoskeleton untuk meningkatkan kemampuan manusia, atau transhumanism, alih-alih mengatasi kelumpuhan.

Salah satunya adalah dalam bentuk aplikasi militer. “Kami sudah pasti tidak akan mengarah ke aplikasi yang ekstrem dan bodoh,” kata Profesor Benabid kepada BBC.

“Tugas kami adalah mengobati pasien lumpuh yang kehilangan fungsi” anggota tubuhnya.

Bagaimana tanggapan para ahli?
Profesor Tom Shakespeare, dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, mengatakan kajian ini merupakan “kemajuan yang menarik dan perlu disambut hangat”, tetapi konsep ini masih belum berguna untuk kepentingan klinis.

“Bahaya membesar-besarkan sesuatu selalu ada dalam riset seperti ini. Keterbatasan dana berarti pilihan teknologi tinggi tidak pernah tersedia untuk sebagian besar orang di dunia yang menderita cedera saraf tulang belakang.”

Hanya 15% dari penyandang cacat memiliki kursi roda atau alat bantu lainnya, katanya.
Rincian exoskeleton telah diterbitkan di jurnal Lancet Neurology. (*/BBC)

Sumber: BBC Magazine

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.