Sabtu, 18 September 21

Hati-hati Penerapan Teknologi Punahkan Ikan Asli

Hati-hati Penerapan Teknologi Punahkan Ikan Asli

Jakarta, Obsessionnews – Penerapan hasil riset dan teknologi penelitian memang bisa membantu meningkatkan produktifitas. Tapi di sisi lain, keserakahan justru berdampak pada rusaknya ekosistem serta biodiversitas sumber kekayaan laut maupun perikanan budidaya.

“Saya tidak menyalahkan keinginan masyarakat untuk menumbuhkan ekonomi. Tapi sebagai regulator, KKP dan KLHK harus memastikan ekstensifikasi produktivitas yang kita tuju tidak menjadi ancaman bagi keberlanjutan sumber daya hayati,” kata Susi di Jakarta, Senin (9/11).

Pernyataan Susi ini, terlontar saat mengomentari kehadiran spesies ikan baru yang dikenal sebagai Spesies Asing Invasif (SAI) yang mendesak populasi ikan endemik.

Ikan-ikan asing tersebut, menurut Susi menjadi invasif di tempat tinggalnya yang baru lewat pemangsaan, kompetisi makanan, serta keunggulan reproduksi. Akhirnya, ikan endemik makin sulit bahkan terancam keberadaannya hingga tersisihkan.

Susi memaparkan, kasus introduksi ikan baru yang sudah mengancam ikan endemik antara lain, ikan mujair di Waduk Selorejo, Jawa Timur, ikan nila di Danau Laut Tawar Aceh, ikan toman di Bangka, ikan louhan di Waduk Cirata serta Waduk Kedungombo.

Ada juga introduksi ikan oskar dan golsom di Waduk Jatiluhur, lobster air tawar di Danau Maninjau, serta ikan mas di Danau Ayamaru, Papua.

Introduksi tersebut, terbukti membuat anjlok populasi jenis ikan asli seperti ikan depik di Danau Laut Tawar Aceh, ikan belida dan tapah di Bangka, serta ikan pelangi di Danau Ayamaru Papua.

Belum lagi ikan moncong bebek dan Xenopoecilus poiptae yang merupakan ikan asli Danau Poso. Juga, ikan X. Surasinorum yang asli di Danau Lindu. Ketiganya, punah akibat introduksi ikan mujair. (Mahbub Junaidi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.